Penulis                 :Tim Penulis Tempo
Penerbit              :
KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan               :
Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.         :
148 halaman
Seorang Raden
Ajeng Kartini merupakan sosok yang banyak dikenal oleh bangsa Indonesia. Mulai dari
anak-anak SD sampai generasi-generasi yang lebih tua.  Namun bentuk pengenalan yang diketahui
masyarakat umum hanyalah sedikit. Mereka hanya akan berkata bahwa, “Kartini
adalah pahlawan perempuan. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh
pendidikan. Menyuarakan tentang persamaan derajat perempuan dan pria,”.
Sejujurnya kalau
saya ingin mendebat salah satu pernyataan tentang “Kartini adalah orang pertama
yang mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi” maka ada data yang bisa
dijadikan perbandingan. Seorang Raden Dewi Sartika, pahlawan perempuan dari
tanah Sunda, telah lebih dulu membuat sekolah ini. Dewi Sartika tercatat telah
mulai mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi sejak 1902 di halaman belakang
ibunya. Sekolah itu bernama “Sakola Istri”. Sekolah yang dibuatnya ini
diketahui oleh C.Den Hammer (Inspektur
Pengajaran Hindia Belanda) dan sempat dicurigai mengingat latar belakang
keluarga Dewi Sartika. Kemudian pada tahun 1904 Sakola Istri pindah ke halaman
pendopo alun-alun.
Kalau dari segi
lebih dahulu membuka sekolah, maka dari yang saya baca, Kartini baru membuka
sekolahnya pada tahun 1903 dan tipenya mirip dengan Sakola Istri. Kartini
membuka sekolah di beranda belakang rumah ayahnya seorang Bupati Jepara. Selain
itu sekolah Kartini diisi oleh anak-anak dari gologan priyayi, sedangkan Dewi
Sartika sejak awal mendirikan sekolah menolak klasifikasi seperti itu. Menurut
Dewi Sartika semua perempuan berhak mendapatkan pendidikan. Untuk membaca lebih
banyak tentang Dewi Sartika silahkan baca di
sini
.
Namun di luar
itu semua, dengan membaca buku Gelap Terang Hidup Kartini ini kita akan membaca
kehidupan Kartini dalam bentuk yang lebih kompleks. Kita akan disuguhkan
mengenai bagaimana kecerdasan seorang Kartini berkembang dan fakor-faktor yang mempengaruhi
pemikiran-pemikiran yang ia tuliskan dalam suratnya. Proses pingitan yang
dijalani oleh Kartini karena tuntutan adat, menjadi penghalang bagi
berkembangnya seorang Kartini tapi sekaligus menjadi titik awal bagi Kartini
untuk lebih membuka wawasan. Dalam masa pingitan inilah Kartini menjadi
produktif menuliskan gagasan-gagasannya kepada sahabat-sahabat pena yang
ternyata mereka bukanlah orang-orang biasa saja.

Yang menjadi
sahabat pena Kartini selain istri JH Abendanon, 
Rosa Manuela Abendanon-Mandri, Kartini juga bersurat-suratan dengan Marie
Ovink-Soer, istri Asisten Residen Jepara yang kemudian pindah ke Jombang. Marie
Ovink adalah pengarang novel remaja Belanda yang cukup dikenal dan juga seorang
tokoh feminis di Belanda. Selain itu di Belanda ia memiliki sahabat pena
bernama Estelle Zeehandelaar, yang disapa Kartini dengan nama “Stella”. Setella
adalah pembela hak-hak perempuan dan anak. Lewat Stella dan Marie Ovink,
Kartini pun mengenal dan bersurat-suratan dengan Henri Hubert van Kol, anggota
parlemen partai buruh sosial-demokratik Belanda; dan istrinya, Nellie van Kol
Porreij, editor Hollandsche Lelie.
Orang-orang ini
bukanlah orang biasa. Mereka memiliki 
pengaruh di Belanda. Itu sebabnya membuat nama Kartini lebih di kenal
daripada nama pahlawan perempuan lainnya. Tapi kedekatannya dengan orang-orang
Belanda ini membuat sejumlah orang pun menganggap bahwa kepahlawan Kartini
adalah sebuah setting dari Hindia Belanda. Tapi terlepas dari itu, saya harus
mengakui kekaguman saya pada kecerdasan seorang Kartini.

Di usia yang
masih belia, ia menjadi seornag pengamat sosial yang kritis. Umurnya baru 13
tahun saat ia masuk dalam masa pingitan. Pada masa ini, Kartini mengkayakan
diri dengan bacaan-bacaan sastra dan tulisan-tulisan atau artikel-artikel dari
majalah “De Hollandsche Lelie” yang memberi banyak pemahaman pada Kartini
tentang gerakan feminisme. Dengan pengetahuan-pengetahuan yang ia temukan dari
bacaannya, Kartini pun mulai mengamati dan kemudian mengkritisi hal-hal yang
terjadi di sekitarnya. Tentang ketidaksetaraan anatara perempuan dan laki-laki
dalam ada Jawa serta fenomena sosial lainnya. Bayangkan, pada usia 16 tahun ia
mampu menulis dengan penuturan yang ilmiah tentang kejadian-kejadian sosial
yang ia dapati di masyarakat sekitarnya.

Buku ini juga menceritakan lika-liku kehidupan Kartini hingga akhirnya harus “kalah” pada adat. Ia yang menentang poligami akhirnya menerima pinangan dari Bupati Rebang, Adipati Djojoadiningrat dan telah memiliki 3 istri. Dia pun tak bisa menolak pendapat orang-orang di sekitarnya dan memilih untuk membatalkan niat bersekolah ke Belanda meskipun telah mengantongi izin untuk sekolah di sana dari orang tua dan pihak Pemerintah Belanda. Kompromi yang dipilih Kartini mengecewakan sejumlah pihak yang mendukung ide-idenya. Tapi di lain pihak Kartini melakukan pengorbanan itu demi orang yang paling dia cintai, yakni ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Dalam buku ini juga kita akan menemukan cerita tentang kematian Kartini serta sepenggal cerita tentang keturunan Kartini. Satu-satunya anak yang dilahirkan Kartini bernama Raden Mas Soesalit. Ia berkiprah di dunia militer dan melepaskan jabatan Bupati yang telah ditawarkan padanya.


Melalui buku ini kita bisa belajar secara singkat dan lebih mendalam tentang kehidupan Kartini. perdebatan atau pun penjelasan tentang kepahlawan seorang Kartini. Maka dengan
mengesampingkan perbandingan-perbandingan kepahlawanan dari Cut Nyak Dien, Dewi
Sartika, Rohana Kudus, Siti Aisyah We Tenriolle, Inggit Garnasih dan pahlawan-pahlawan
perempuan lainnya, maka Kartini memang ikut memperjuangkan hak-hak perempuan.
Pemikiran kritis di usia muda pun menjadi nilai lebih dari seorang Kartini. Sebuah
contoh yang patut diteladani oleh generasi penerusnya. (Hm..saya pribadi di
usia itu masih sibuk dengan hal-hal remeh dalam hidup saya..he..he..(^_^)v)