Halo,
Readers. Bagaimana kabarmu hari ini?
Sekarang
sudah bulan Agustus. Setengah tahun telah terlampaui. Sudah baca berapa banyak
buku? Sudah belanja berapa banyak buku? He..he..
Nah,
bicara tentang buku, bagi yang sering mengikuti perkembangan dunia literasi
Indonesia terutama dalam pergerakan dalam upaya menyebarkan kecintaan membaca,
maka nama Kang Maman Suherman akan sering kita dapati.

 

Kang Maman dan Armada Pustaka. Sumber foto di sini

Nah, itu
sebabnya pada pertanyaan

[Interview + Giveaway] Re: bersama Maman Suherman
di postingan blogku yang lalu aku mengajukan
pertanyaan tentang aksi apa yang telah dan akan kamu lakukan terkait menyebarkan
kesenangan membaca. Dan semua jawaban yang masuk benar-benar menginspirasi.
Sebagian besar memulai dengan orang-orang terdekat dan memulai dari lingkungan
sekitarnya. Dan itu keren! Kalian semua mengagumkan, Readers.

Nah, saya
pribadi menyimpan beberapa pertanyaan tersendiri pada Kang Maman terkait
pilihannya untuk aktif menyebarkan kesenangan membaca yang beliau
implementasikan dalam gerakan #sebarvirusliterasi. Dan akhirnya saya pun
memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut langsung
kepada Kang Maman.

Mau tahu apa
yang saya tanyakan? Yuk simak “wawancara” yang saya lakukan via dunia maya
dengan beliau.  

Sejak kapan Kang Maman mengakrabi buku?
Sejak
SMA, dan sejak itu pula saya bermimpi bisa menulis buku sendiri
Apa pengalaman yang paling berkesan dalam
hidup Kang Maman terkait buku?
Kelas
3 SD saya minta dibelikan buku pelajaran sekolah PKK oleh bapak, tapi karena
belum punya uang, bapak belum bisa belikan dan berjanji kelak akan membelikan
saat gajian. Dasar anak kecil, saya tidak terima dan menangis keluar rumah.
Melangkah menuju sekolah tanpa lihat kiri kanan. Saat di depan rumah, di Jalan
Cenderawasih III Mariso, Makassar, saya menyeberang sambil menangis tanpa lihat
kiri kanan dan tertabrak becak.
Sejak
saat itu saya berjanji akan berusaha membeli sendiri buku dan terbukti dengan
jualan permen dan es lilin di sekolah, saya bisa mengumpulkan buku tulis dan
pelajaran dari uang jualan tersebut.
Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir,
terlihat betapa Kang Maman sangat aktif mendukung gerakan literasi. Apa
motivasinya, Kang?
Saya
sedih melihat kenyataan, minta baca orang Indonesia menurut UNESCO pada tahun
2012 hanya 0,001; yang artinya dari 1000 orang yang bersungguh-sungguh membaca
hanya 1 orang, dan peringkat literasi kita di dunia hanya di posisi 60
setingkat di atas Botswana.
Padahal,
katanya kita punya budaya literasi yang hebat, memiliki naskah tertulis terpanjang
di dunia, I Lagaligo, dan mayoritas muslim yang ayat pertamaNya adalah : “Iqra”. Itu yang mendorong minat saya
masuk ke dalam gerakan yang saya sebut #tebarvirusliterasi . Tebar 4 huruf:
baca, iqra, read. Dan saya beruntung bertemu Muhammad Ridwan Alimuddin di MIWF
2013 yang juga punya kepedulian yang sama dan konkret.
Menurut Kang Maman apa hambatan terbesar
dalam gerakan literasi ini?
Hambatan
terbesar adalah bagaimana mengajak masyarakat yang sudah larut dalam budaya
lisan, budaya menonton, dan budaya internet yang begitu instan, menjadi budaya
baca. Budaya literasi, keberaksaraan itu mengajak orang untuk berpikir,
membaca, lalu menulis sendiri dan kemudian berkarya yang lebih dan lebih baik
lagi krn kebiasan membaca dan mengkrabi buku. Perjuangan tidak mudah, tapi
bukan berarti tidak ada jalan. Buku harus menjemput pembacanya, itu yang
membuat saya makin semangat dengan gerakan pustaka bergerak yg membawa buku
langsung ke pembacanya.
Apa harapan Kang Maman untuk dunia literasi
Indonesia ke depannya?
Saya
percaya, buku punya keluasan dan kedalaman yang tak dimiliki internet yang lebih
mengutamakan kecepatan dan instan 140 karakter. Dan saya percaya, pada dasarnya
orang senang dengan keluasan dan kedalaman wawasan, dan itu akan ditemukan
dalam buku.
Dan
ingat, masyarakat Bugis, Makassar, Mandar punya budaya literasi yang kuat,
punya I Lagaligo. Dan “virus literasi” yang hebat itu takkan pernah
mati dan sirna, tinggal saja bagaimana menghidupkannya kembali, membangunkannya
dari tidur. Dan saya punya keyakinan, bersama teman-teman bisa membangunkan
saudara-saudara saya yang tertidur dan terlena oleh budaya tv dan budaya nonton
semata.
***
Membaca
hasil wawancara saya dengan Kang Maman, sesungguhnya saya terharu. Sebagai
seseorang yang mencintai buku sejak kecil, saya sering kali merasa sendirian. Merasa
aneh. Ini karena bahkan saat saya kecil, buku masih dianggap benda asing. Tidak
diakrabi. Setelah saya pikir, bisa jadi karena akses terhadap buku yang
terbatas.
Saat
saya kecil buku hanya bisa dibeli di toko buku yang ada di kota-kota besar.
Tidak seperti sekarang yang didukung oleh kecanggihan internet hingga muncullah
online shop yang memudahkan pembaca
membeli buku meskipun berada jauh dari kota. Saat saya kecil buku masih
tergolong mahal dan susah ditemukan. Perpustakaan? Hm..masih mirip dengan
perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah saat ini: hanya berisi buku pelajaran,
berdebu, sunyi senyap, dan menguarkan aura serius nan menakutkan.
Saya
sungguh berharap semakin banyak dilakukan untuk meningkatkan kecintaan membaca.
Dan sungguh saya kagum pada apa yang sudah dilakukan oleh Kang Maman.
Sedang
jika dibandingkan dengan yang saya lakukan, maka saya ini tidak ada apa-apanya.
Saya hanya bisa menyebarkan “virus literasi” dengan menuliskan pengalaman
membaca saya yang terasa menyenangkan di blog ini; mengadakan Giveaway sehingga
bisa menghadiahkan buku-buku ke orang-orang; aktif dalam berbagai komunitas
buku; hingga membuka lapak baca di tempat tinggal saya meski hanya sepekan
sekali.
Dan
saat tahu bahwa pecinta buku di luar sana pun sudah melakukan “aksi”
masing-masing, maka saya merasa optimis bahwa kelak angka 0,001 itu akan
berubah menjadi 10% hingga 100%. Jalannya mungkin masih panjang. Tapi saya
percaya akan ada yang bersedia melanjutkan perjuangan ini dalam setiap generasi
yang akan datang.
***

Nah,
sekarang waktunya saya mengumumkan nama-nama pemenang yang beruntung memenangkan
Giveaway #peREmpuan yang didukung langsung oleh Kang Maman Suherman.

Dan
pemenang yang beruntung adalah:
Di
blog:
Heni
Susanti
Akun twitter : @hensus91
Di
instagram:
Nada_aksara