Penulis: Dini Novita Sari
Penyunting: Agatha Tristanti
Desain: Yanyan Wijaya
Ilustrasi Cover: Rendi Arrahman
Penerbit: Bhuana Sastra
Cetakan: 2013
Jumlah hal. :198 halaman
ISBN 10: 602-249-439-7
ISBN 13: 978-602-249-439-3
I need to get lost…
and get lost needs no itinerary…

Lana
Sagitaria senang melakukan perjalanan sebagai selingan untuk mengatasi
kejenuhannya menghadapi rutinitas sebagai karyawati. Alasan klasik,
tetapi begitulah yang dia percaya selama ini. Hingga suatu ketika, dia
memutuskan untuk berjalan mengikuti kata hatinya, tanpa itinerary,
membiarkan dirinya hanyut dalam arus perjalanan. Siapa sangka,
perjalanan ini justru membawanya pada jawaban penting atas pertanyaan
yang selama ini terpendam jauh di lubuk hatinya. Jelajah kakinya ke
beberapa kota dan negara, juga pertemuannya dengan orang-orang asing,
membuatnya berkaca pada kenangan berbagai peristiwa penting dalam
hidupnya, termasuk hilangnya seseorang yang sangat berarti bagi dirinya.
Akankah kenangan itu tetap tinggal, ataukah sudah saatnya untuk
dilepaskan?

***
Novel ini
bercerita tentang Lana, perempuan yang senang menjadi traveler. Kesenangannya
menjelajah erat kaitannya dengan sosok Dharma, laki-laki yang ia cintai sejak
lama tapi sekarang telah menghilang. Perjalanan Lana Sagitaria ini pada
akhirnya menjadi perjalanan untuk menemukan jawaban dan memperoleh sebuah
kesadaran tentang cinta dan keberadaan sosok Dharma.

Cerita dibuka
dengan perjalanan Lana ke Bali. Liburan 4 hari yang dijalaninya di Bali membuat
ia terkenang pada sosok Dharma. Dharma-lah yang menularkan kesenangan  berjelajah kepada Lana. Dan Lana pun
menemukan bahwa meskipun Dharma menghilang tanpa kabar, namun perasaan Lana
masih tertaut padanya. Di Bali ia bertemu dengan Tozan, orang Bali yang ia
kenal dari dunia Maya dam baru pertama bertemu langsung. Di Bali ia mengenal
Oleq, orang asing yang seenaknya curhat kepada Lana dan menjadi refleksi bagi
Lana atas perasaanya terhadap Dharma. Kedekatan yang tidak memiliki status yang
jelas. Lana tidak beranai meminta kejelasan karena takut Dharma akan menjauh
darinya. Di Bali ini juga Lana bertemu teman seperjalanan yang menyenangkan
yakni Rama, Alvin, Brain, Happy, dan Gandhi. Bersama mereka Lana menikmati
liburan yang menyenangkan.
Cerita
berikutnya adalah perjalanan Lana ke Singapura. Di sana ia bertemu dengan Paul.
Pertemuannya dengan Paul diwarnai insiden yang lucu. Dan di Singapura ini, Lana
menjadi saksi bagi kisah cinta yang penuh perjuangan, yang sempat terpisah
hingga akhirnya bisa bersatu kembali.
Perjalanan Lana
berikutnya adalah ke Seoul. Karena sebuah keberuntungan, Lana akhirnya bisa
liburan ke Korea Selatan. Di Seoul, Lana di dampingi oleh Kang Soo Jung, teman
yang diperkenalkan oleh Gia, sahabat Lana. Cerita perjalanan di Korea penuh
kejutan dan keseruan. Pencarian atas Hanbok warisan turun temurun keluarga Kang
Soo Jung membuat Lana bisa bertemu dengan personel boyband Korea “4AM”. 
Dan cerita
terakhir adalah cerita “pulang”nya Lana ke Surabaya. Perjalanan pulang ini juga
yang akhirnya berhasil membawa Lana pada jawaban atas pertanyaannya tentang
Dharma yang tidak bisa berhenti dia pikirkan. Bagaimana kabar Dharma?
Baik-baikkah? Adakah Dharma mencintainya? Semua pertanyaan itu pada akhirnya
datang menghampirinya melalui sosok Kresna.
***

Memperoleh buku
ini sebagai sebuah hadiah giveaway rasanya sangat menyenangkan. Desember adalah
bulan favorit saya untuk 2013. Kenapa? Karena banyak buku yang dihadiahkan pada
saya. Mulai dari hadiah yang saya terima dari hasil ikut kuis hingga hadiah
ulang tahun yang terlambat. Buku Get Lost ini saya terima bersama buku “I’mpossible”
dan sesuai dengan syarat lombanya, maka saya harus mereview buku ini. Oiya, terima kasih banyak kepada Zelie (Book Admirer) untuk GA dan hadiahnya yah.
Get Lost memang
menarik, karena lebih terasa seperti mengintip diary Lana Sagitaria. Diary ini
tidak hanya bercerita tentang perjalanan yang ia alami seperti tempat-tempat
yang ia kunjungi dan hal-hal materi lainnya, melainkan sampai ke “bisikan hati”
terdalam seorang Lana terutama tentang Dharma.
Sejujurnya,
kesan traveling di novel ini tidak
begitu terasa, kenapa deskripsi arah, tempat, dan hal-hal yang biasa dipandang
saat melakukan penjelajahan di sebuah tempat tidak terlalu mendominasi. Hal ini
bisa menjadi sebuah keuntungan dan bisa juga menjadi kekurangan. Bagi orang
yang tidak begitu suka dengan bacaan traveling, maka kondisi ini menjadi lebih
disukai. Itu karena saat membacanya saya tidak akan berfikir, “Ah, saya nggak
ngerti  tempat apa yang dijelaskan di
buku ini, sih?” sehingga saya akan menikmati drama percintaan yang terselip
dalam cerita. Namun, di pihak lain, orang-orang yang senang traveling akan jauh
lebih menyukai tentang tempat-tempat wisata dan bagaimana kondisi serta cara
untuk mencapai agar mereka bisa melakukan perjalanan serupa dengan tokoh utama
dalam buku ini.
Alur waktu dalam
cerita ini rapi meski saya sempat bingung di bagian saat Luna bernostalgia
tentang perjalanan kereta yang pernah dia alami. Alur waktunya maju mundur dan
saya sempat agak missing (entah ini hanya terjadi di saya atau tidak). Hm,
hanya dibagian itu saya bingung, untuk seluruh cerita saya anggap masih rapi
dan mudah dipahami.
Yang saya sukai
dari novel ini adalah pikiran-pikiran Lana yang ia tuangkan dan menurut saya
punya arti yang cukup dalam tentang kehidupan. Contoh beberapa kalimat yang
saya anggap memang mewakili kehidupan nyata secara langsung adalah pada hal 36
“Manusia memang
hidup ditakdirkan untuk mencari jawaban. Selalu ada pertanyaan yang
menggelisahkan mereka. Yang tak kita ketahui, seringnya jawaban itu sudah
tersedia di hadapan kita, tapi kita saja yang terlalu jauh mencarinya, hingga
seolah tak tampak.”
Kalimat-kalimat
yang cukup filosofis seperti ini bertebaran di beberapa titik di buku ini. Dan
saya suka dengan buku yang seperti ini, karena membuat orang berfikir lebih
banyak dan berefleksi lebih banyak tentang diri dan hidupnya sendiri saat
membaca.
Hm, saya pikir,
buku ini mungkin akan lebih menarik jika di setiap bab ada satu atau dua foto
(kalau penerbit tidak mau berwarna, mungkin bisa memilih foto yang walaupun
diubah menjadi hitam-putih keindahan atau hal yang menarik dari foto itu tetap
bisa dinikmati pembaca).
Untuk cover saya
pikir sudah cukup menarik dan mencerminkan cerita yang ada di dalam buku.
Sedangkan untuk tampilan di dalam buku, dari segi paragraf dan layout-nya sudah
menarik. Tapi akan lebih menarik jika setiap awal Bab diletakkan sebuah gambar
yang menjadi representasi tempat yang dituju Lana.
Jadi, kalau saya
harus memberi bintang untuk buku ini, maka saya akan memberinya 3 bintang,
masing-masing untuk alur cerita yang rapi dan menarik, cover yang bagus, dan
nilai-nilai baik yang dikandung dalam buku ini. (^_^)
***
Quote:
“Jadi masih sebegitu superiornyakah warga
negara asing di mata penduduk Indonesia sendiri? Bukankah seharusnya saudara
sendiri lebih diutamakan daripada orang asing?” (hal. 15)
“Kenyamanan itu mencandu menimbulkan rasa
ketergantungan yang akut. Kurasa, sudah tak seharusnya lagi aku bergantung
kepada dia.” (hal. 22)
“Manusia memang hidup ditakdirkan untuk
mencari jawaban. Selalu ada pertanyaan yang menggelisahkan mereka. Yang tak
kita ketahui, seringnya jawaban itu sudah tersedia di hadapan kita, tapi kita
saja yang terlalu jauh mencarinya, hingga seolah tak tampak.” (hal. 36)
“Pertanyaan memang ditakdirkan untuk menjadi
kawan setia bagi manusia, sejalan dengan sifat kita yang tak pernah puas. Kamu
sebagai petualang, pasti akan bertanya, ‘mau ke mana lagi setelah ini’, bukan?”
(hal. 41)
“…rumahku adalah semesta ini. Terdiri dari
banyak ruangan di mana masing-masing memberikan cerita tersendiri. Di mana
setiap ruangan pun berisi para pengelana lain yang berbagi spasi denganku. Aku
rasa, panggilanku adalah mencicipi setiap kamar di semesta ini.” (hal. 54)
“Seorang bijak pernah berkata bahwa
perjalanan diukur bukan dari seberapa jauh jarak yang telah kita tempuh, tetapi
dari berapa banyak teman yang kita peroleh darinya” (hal. 70)
“Apa saja bisa terjadi saat kita jatuh
cinta, Paul. Entah itu cinta pertama, kedua, ataupun pandangan kesekian.
Bagiku, cinta itu bukan untuk dipertanyakan, melainkan dirasakan.” (hal. 79)
“Perjalanan menuju rumah. Perjalanan
menjemput rindu.” (hal. 139)
“…. Kami tidak mau terburu-buru untuk
mencapai surga kami, karena bukankah segala sesuatu yang diraih dengan
ketergesaan tidak akan bertahan lama?” (hal. 170)
“…. Kadang-kadang, ketidaktahuan membantu
kita untuk meniadakan rasa curiga. Ketidakmengertian terhadap ucapan mereka
tidak memberiku banyak pilihan kecuali: curiga atau percaya. Dan aku memilih
yang kedua. Sebagai musafir yang bertamu di tanah asing, aku dan kawan-kawnan
memilih untuk mengganggap semua orang yang kami temui adalah baik, hingga kami
bertemu yang berkebalikannya.” (hal. 171)
Tentang penulis
Terlahir dengan
nama Dini Novita Sari –akrab di sapa Dini atau Dinoy- di Surabaya pada tanggal
30 November hampir 30 tahun yang lalu. Sehari-hari berprofesi sebagai karyawan
swasta, tetapi juga sedang mengaktifkan kegemaran menjadi hal-hal yang
bermanfaat. Suka jalan-jalan, membaca, dan suka menulis. Semua kegemarannya
dipadukan untuk menulis buku tentang perjalanan, baik fiksi maupun non-fiksi
berupa catatan perjalanan. Artikel catatan perjalanannya pertama kali
diterbitkan dalam buku kompilasi Traveling Note Competition, berisi kisah dari
30 penulis.
Sapa penulis di
aku twitter @dinoynovita, atau layangkan masukan kalian setelah membaca buku
ini ke E-mail dinoy.novita@gmail.com.
Terima kasih.
 ***
Review ini saya ikutkan dalam RC berikut:
untuk kategori Freebies Time