Penulis: Lia Indra Andriana
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, September 2013
Jumlah hal.: 336 halaman
ISBN:978-602-7742-22-2
“Tiga bulan lagi, di waktu dan
tempat yang sama, aku akan mengevaluasi apakah kau layak diberi tambahan kupon
pertemanan”
Saat
banyak orang berharap bisa kuliah di luar negeri, Maya malah rela melakukan apa
pun agar bisa meninggalkan Kwanghan University dan kembali bersama kekasihnya,
Alva, di Indonesia. Sayangnya, semua tidak semudah itu.
Seakan
hidupnya sekarang belum cukup rumit, Maya juga harus menghadapi Luc, teman
sekelasnya, seorang pria berkebangsaan Prancis yang terang-terangan menyatakan
suka padanya.
Luc
bahkan tidak keberatan hanya menjadi teman Maya setelah mendapatkan kupon
Friendvitation buatan gadis itu.
Ketika
kupon Friendvitation yang Maya berikan kepada Luc telah expired, akankah Maya
memperpanjang masa berlaku kuponnya? Ataukah Maya akhirnya akan kembali kepada
Alva dan melupakan semua yang terjadi di Korea?
Inikah cinta? Membuatmu rela
melakukan tindakan bodoh yang tidak masuk akal?
***
Barisan kata di
atas akan kita temukan di belakang novel ini. Cukup membuat penasaran meskipun
dengan begitu kita juga sudah bisa menebak jalan ceritanya bahwa tokoh Maya
akan terjebak di antara dua pilihan. Tapi tetap saja kita akan bertanya-tanya
seperti apa tokoh Luc? Dapatkah dia membuat Maya berpaling dari Alva?

Novel ini
merupakan salah satu dari seri “Hi!Kwangdae” yang diterbitkan Penerbit Haru.
Serial ini mengambil tempat di sebuah universitas fiktif bernama Kwanghan
University yang berlokasi di Seoul, Korea Selatan. He..he.. ini mengingatkan
saya pada seri lain yang mengambil tempat di sebuah kota fiktif kecil sehingga
tokoh-tokoh dari buku yang satu dengan buku yang lain saling mengenal dan
menceritakan beberapa kejadian yang sama namun dalam sudut pandang berbeda
tergantung tokoh utama masing-masing buku. Ah, jadi penasaran bagaimana cerita
dari buku-buku lain di seri Hi!Kwangdae ini. Soalnya buku ini adalah seri
Hi!Kwangadae pertama yang saya baca dan miliki. (^_^)v
Nah, buku Good
Memories ini menggunakan point of view orang ketiga namun dengan dunia yang
berputar di sekitar Maya. Tokoh utama novel ini adalah Maya, cewek berusia 19
tahun yang tidak menyukai keberadaannya di Korea. Jelas ini berbeda dengan
cewek-cewek Indonesia lain yang masih bermimpi ingin menjejakkan kaki di kota Ginseng
itu. Maya lebih menyukai berada bersama sang kekasih, Alva, daripada bertemu
cowok-cowok Korea. Hal ini juga yang membuat dia kurang memperhatikan
pelajarannya di kelas. Hingga membuatnya ketinggalan kelas. Dia harus mengulang
kelas Bahasa Korea Level 2-nya. Maya pikir, dengan tinggal kelas Ayahnya akan
murka dan akan memanggilnya pulang ke Indonesia, tapi  nyatanya tidak. Sang Ayah malah mengeluarkan
ultimatum bahwa ia tidak boleh menginjakkan kaki di Indonesia sampai dia meraih
gelar S1. Itu artinya masih butuh 4,5 tahun lagi.
Keadaan makin
gawat saat Alva mengeluarkan ultimatum bahwa jika Maya tidak bisa datang di
hari ulang tahun Alva, maka itu berarti Maya tidak lagi sayang pada Alva dan
hubungan mereka berakhir. Ini membuat Maya makin panik. But thanks God, Maya punya adik bernama Rani yang tidak berhenti
mengingatkan Maya bahwa ia harus berteman dan membuat kenangan yang indah
dengan teman-temannya di Korea. Saat itulah Maya menyadari bahwa selama ini dia
tidak memiliki teman. Maya terlalu sibuk dengan gadget-nya untuk “mempersempit” jarak antara dia dan Alva. Ini membuat
dia lebih sering memperhatikan handphone saat di kelas dan lebih memilih ber-skype ria di laptop.
Kemudian hadir Luc,
teman sekelasnya yang baru di level 2. Luc, cowok Prancis yang menjadi ketua
kelas; disukai oleh Yujin, teman sekelas mereka; humoris; dan sering menolong
Maya. Saat tahu Maya memiliki Project “Good Memories”, hasil desakan Rani, maka
Luc pun sibuk membantu Maya membuat kenangan Indah. Kelas mereka yang tadinya
kaku dan tidak akrab mulai sering berkumpul dan bercakap-cakap. Membuat acara
makan malam bersama, piknik bersama, dan kegiatan lainnya. Namun terkadang
teman-teman mereka menganggap Maya sebagai perusak suasana. Tapi syukurlah Luc selalu
menjadi penyelamat suasan tersebut.
Luc akhirnya
sering menemani dan membantu Maya. Luc salah paham bahwa Maya suka dengan Soda
hingga sering mentraktir Maya
sekaleng soda. Hingga suatu hari Luc menyatakan perasaannya. Maya tidak ingin
Luc memiliki perasaan padanya. Maya ingin tetap setia. Maya ingin bisa bersama
Alva lagi. Tapi Luc selalu bertanya apakah Alva benar-benar menyayanginya?
Layakkah Alva mendapatkan semua cinta dan pengorbanan Maya?
Hm..sepertinya
ada yang salah. Tidak hanya tentang hubungan Maya dan Alva, namun juga hubungan
Maya dan Luc. Kenapa Maya tidak suka Luc dekat dengan Yujin? Mengapa Maya tidak
bisa menolak Luc dengan tegas? Apakah hati Maya sudah mendua?
Cerita dalam
buku ini alur dan kecepatannya sangat pas. Kita dibuat bertanya-tanya di waktu
yang tepat. Membaca buku ini membuat kita tanpa sadar berhasil menyelasaikan ke
336 halamannya. Selain itu untuk yang sering menonton film Korea, ada beberapa
selipan kata bahasa Korea yang cukup familiar ditemukan dalam percakapan di
film-film Korea.
Cover  buku ini menampilkan sebuah kamera polaroid
dengan berbagai potongan kertas dengan berbagai tulisan. Setelah menyelesaikan
buku ini, saya barulah mengamati tulisan-tulisan di dalam potongan kertas
tersebut. Ternyata itu adalah kupon yang dibuat Luc. Hm..cover buku ini sangat
manis (apalagi saya pencinta warna biru..ha..ha..) dan cukup merepresentasikan
isi cerita.
Jadi, jika harus memberi nilai untuk novel
ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8. (^_^)v
Quote:
“Kenapa terlambat? Rasa suka kan
nggak mungkin secepat itu menghilang. Di dunia ini, kita sering diajarin cara
mengasihi dan mencintai orang lain, tapi nggak ada yang ngajarin cara berhenti
mencintai…”