“Pernahkah
kalian merasa sendirian? Miliaran manusia yang hidup di sekitar kalian hanya
lalu lalang tanpa bisa kalian raih.”
Namaku Ai karya Lisa Febriyanti(hal.
42)

Penulis : BJD Gayatri, Debra Yatim, Deniya Patricia, Lisa Febriyanti,
Nindya Paramitha, Suryani “One” Amin, Qorihani, Ni Putu Rastiti, Valentina
Sagala, Yolaratna M. Kase
Editor: Heni Wiradimaja
Desain Grafis: pokjajambubatu
Tim Produksi: Nina Masjhur, Valentina Sagala
Foto: Olin Monteiro
Penerbit: Buku Perempuan
Cetakan: Tahun 2012
Jumlah hal.: 120 halaman
ISBN: 978-979-15460-3-4
 Setelah bulan lalu gagal mengikuti satu pun
teman Baca Bareng BBI saya pun bertekad untuk mengikuti minimal salah satu tema
di bulan April ini. Saat membaca bahwa salah satu temanya adalah tema perempuan
saya pun bermaksud mereview tulisan tentang Kartini. Tapi akhirnya urung saya
kerjakan saat melihat seonggok buku ini. Ah, sepertinya akan menarik jika saya
ikutkan dalam Baca Bareng BBI ini.
Dan saat membaca
cerpen pertama yang berjudul: Blues Biru
dalam Kenangan
 karya BJD Gayatri saya pun merasa tidak salah
pilih buku. Buku ini memberi pengetahuan yang menarik tentang Gender. Tokoh “Johanna
Muller” yang ada dalam cerpen ini benar-benar meruntuhkan gambaran tentang “perempuan”
yang diciptakan atau dikonstruksi oleh masyarakat. Yah, cerpen ini sebenarnya
kental dengan nilai-nilai feminisme dan upaya perjuangan kesetaraan gender. 

Cerpen kedua berjudul “ Hari-Hari Salamander” tidak mengangkat
tentang nilai yang diusung oleh BJD Gayatri sebelumnya. Namun mengambil hal
berbeda. Dengan cerita yang berfokus pada sepasang sepatu, dimana sepatu
tersebut menyaksikan pasang-surut hidupnya dan ternyata sepatu tersebut pun
menjadi sebuah saksi dari isu yang jauh lebih besar. Izinkan saya mengutipnya:

“Sepatu
Salamander  saya ternyata mengusung
begitu banyak impian, impian yang kini sudah usang dan tidak relevan. Tapi pada
masanya, betapa kuatnya sebuah impian…”
(hal. 26)

Ada 6 cerpen
lain yang ada di dalam buku ini semuanya dengan ide yang beragam namun selalu
memiliki sentuhan feminim. Tidak hanya tentang isu posisi perempuan dalam
masyarakat namun juga cara bercerita yang lebih menyentuh hati. Yang lebih peka
membahas hal sekitar. Semua cerpennya mempunya gaya khas masing-masing. Membaca
buku ini membuat saya merasa lebih “kaya”. Bagaimana tidak, jika bahkan sebuah
kisah tentang AIDS pun bisa memberi kita pelajaran hidup padahal ia hanya
dituturkan dalam 12 halaman. Bagaimana tidak, jika kisah tentang “kelas Gender”
yang dilakukan di salah satu pelosok daerah di Sulawesi Selatan bisa mengganggu
stabilitas sebuah rumah tangga kecil?
Saya menikmati
semua kisah dalam buku ini. (^_^)
Jika harus
memberinya bintang, saya memberinya 4,5 bintang. Kok kurang 0,5 dari nilai
sempurna? Hm..Karena sampulnya kurang sesuai. He..he.. (^_^)v