“Hidup
selalu seperti ini, ada yang datang dan pergi. Ada yang hadir untuk tetap
tinggal, ada pula yang hanya singgah untuk kemudian meninggalkan. Ada yang
pergi untuk sementara, ada pula yang pergi untuk selamanya dan tak pernah
kembali.” (Hal. 149)

Penulis: Suryawan W.P
Editor: Septi Ws
Desainer sampul: Teguh
Penata isi: Tim Desain
Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Juli
2016
Jumlah hal.: v + 231
halaman
ISBN: 978-602-375-594-3
Pulang
tidak selalu menjadi hal yang menyenangkan. Bagi Kalyana, pulang adalah rasa
takut. Itu sebabnya Kalyana selalu menunda permintaan ayahnya untuk pulang ke
Semarang. Namun, kali ini ia tak bisa mengelak lagi. Kalyana harus pulang. Ia
harus menghadapi ketakutannya sendiri.
Sampai
ketika Kalyana memutuskan untuk pindah dari Jakarta dan kembali ke kota
asalnya, kecemasan tentang jati diri yang belum bisa dia bagi pada siapa pun,
bahkan pada Radite –calon suaminya– tak juga hilang. Sebuah tragedi tentang
keluarganya yang coba ia kubur dalam-dalam terus membayangi. Akankah Radite mau
menikah dengannya bila ia tahu siapa Kalyana sebenarnya?
***

“Adakalanya
pertanyaan menjadi begitu menakutkan.” (Hal. 1)

Kisah
tentang skizofrenia sudah banyak ditulis dalam sebuah buku. Skizorenia adalah
salah satu gangguan mental yang sering menjadi cerita dalam novel. Sudut
pandang yang diambil pun beragam. Kali ini penulis mengetengahkan skizorenia
dari sudut seorang anak yang ibunya menderita penyakit tersebut.
Menariknya,
kisah ini dimulai dengan cara yang menarik. Kalyana, tokoh utama dalam novel
ini, awalnya mengenal Kartina sebagai kakaknya. Kakak yang membuat ia dicap
sebagai “adik orang gila”. Di sekolah ia di-bully
saat orang-orang mengetahui bahwa ia memiliki seorang kakak yang gila. Ini membuat
Kalyana tumbuh menjadi perempuan yang berbeda. Cenderung menutup diri. Ditambah
lagi ibu dan ayahnya tidak pernah memerhatikan dirinya dan sibuk tenggelam
dalam rutinitas mereka sebagai pemilik sebuah warung di Semarang.
Namun
saat usianya 24 tahun, ia diberi tahu oleh orang yang selama ini ia anggap ayah
dan ibunya bahwa Kartina sebenarnya adalah ibu kandungnya. Mereka yang ia pikir
orangtuanya tidak lain adalah kakek-neneknya sendiri. Kebenaran ini menghantam
telak Kalyana. Ia yang seumur hidup membenci Kartina atas kesulitan yang ia
alami akibat memiliki kakak yang gila, kini dibuat menanggung rasa bersalah.
Bagaimana mungkin ia membenci ibunya sendiri? Ia bahkan sering berharap agar Katina
mati saja. Namun saat mengetahui bahwa Kartina adalah ibunya ia malah menjadi
gamang. Ia ingin mencintai ibunya. Tapi di saat yang sama ia tahu ini akan
memengaruhi seluruh kehidupannya. Terutama hubungannya dengan Radite,
tunangannya. Bagaimana mungkin Radite dan keluarganya yang terpandang itu akan
sudi memiliki menantu yang ibunya adalah penderita skizofrenia?
Di
tengah kemelut ini, Kalyana jadi rajin mengunjungi rumah sakit jiwa tempat
ibunya dirawat. Butuh waktu yang lama bagi Kalyana untuk datang menemui ibunya.
Dan di tengah upayanya untuk mengumpulkan keberanian inilah ia berkenalan
dengan Irsyad, anak kecil yang menderita skizofrenia; Delano, penderita yang
sudah sembuh namun tidak kunjung dijemput oleh keluarganya; juga dengan Dokter
Saka yang merawat ibunya di rumah sakit jiwa tersebut.
Pada
akhirnya hubungan-hubungan baru ini mengisi kehidupan Kalyana. Di saat yang
sama hubungan yang sudah lama terjalin tengah diuji. Bagaimana masa depan
hubungan Kalyana dan Radite? Bisakah Kartina, ibu Kalyana, sembuh? Mampukah Kalyana
mencintai ibunya?

“Ah,
kenapa sih setiap orang harus merasa berhak untuk bertanya, dan membuat orang
lain seolah menjadi wajib untuk memberikan jawabannya?” (Hal. 2)

***

“Terkadang
pertanyaan itu hanya perlu dijawab sekenanya karena seseorang tidak begitu
peduli dengan isi jawabannya.” (Hal. 7)

Novel
ini memiliki premis yang menarik. Seluruh rangkaian konfliknya pun sama
menariknya. Sayangnya, karena hal itu, konflik utama jadi samar. Apa konflik
utama novel ini? Pergulatan batin Kalyana semata kah? Ataukah hubungan Kalyana
dan ibunya?
Seluruh
konflik di dalam cerita ini semuanya bagus. Hubungan Kalyana dengan
keluarganya; Kalyana dengan Radite, tunangannya; Kalyana dengan Kartina;
hubungan Kalyana dengan Dokter Saka, yang merawat Kalyana; bahkan hubungan
Kalyana dengan pasien rumah sakit jiwa yang ia datangi.
Sayangnya
konflik-konflik tersebut disajikan kurang emosional. Ini amat disayangkan,
mengingat sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama dari
tokoh utama perempuan pula. Peluang eksplorasi perasaan Kalyana dengan lebih
dalam bisa menjadikan tulisan ini lebih berkesan. Tidak akan ada yang
menganggap pilihan Kalyana untuk menangis ataupun berniat bunuh diri sebagai
pilihan berlebihan jika sisi emosional dari setiap adegan bisa ditarik keluar
dan disuguhkan ke dalam pembaca.
Oiya,
ada sebuah repetisi untuk kalimat “Aku terjebak dalam zona nyaman. Meski kadang
zona nyaman itu tidak benar-benar nyaman.”
Muncul dua kali dalam format yang hampir serupa yakni di halaman 124
dan halaman 175.
Untuk
keseluruhan, novel ini sudah rapi. Pembahasan tentang skizorenianya lebih luas
karena menggunakan banyak sudut pandang. Ada cerita dari sisi ibu yang anaknya
menderita skizorenia; dari sisi dokter yang merawat penderita skizofrenia; dari
sisi penderita yang sudah sembuh namun ditolak oleh keluarganya; juga dari sisi
seorang anak yang ibunya menderita skizofrenia.
Novel
ini juga enak untuk dibaca karena penuturannya yang menarik.  meskipun pembahasannya sebenarnya cukup berat,
namun tidak membosankan karena pembahasan tentang skizofrenia menyatu dengan
baik dalam keseluruhan cerita. Hanya kurang di satu hal saja. Emosi. Sisanya
yang lain sudah sangat pas.
Oiya,
jangan lupa memasukkan poin quoteable
dalam kelebihannya. Ya, di dalam novel ini banyak kalimat-kalimat yang diksinya
pas dan memiliki makna mendalam. Jadi banyak quote yang bertebaran dan layak dishare di media sosial. He..he..
🙂

 “Apalah artinya cantik kalau ada ‘tapi’-nya.
Bisa jadi karena sebuah kata ‘tapi’ kadar kecantikanku akan turun beberapa
persen. Atau, dalam kasusku, kriteria cantik akan benar-benar diabaikan karena
sebuah kata ‘tapi’”. (Hal. 10)

***
Kumpulan Quote dalam Hari Tak Selamanya
Malam
“Cinta
adalah kata paling asing dalam kamus hidupku karena aku masih susah untuk
membayangkan wujudnya seperti apa. Bahkan, untuk mengucap “aku cinta kamu” saja
masih terasa janggal di bibirku.” (Hal. 12)
“Siapa
bilang pulang selalu menyenangkan? Bagiku pulang adalah kematian. Bukan ragaku,
melainkan jiwaku yang hampir mati, di rumah ini.” (Hal. 13)
“Kadang,
aku merasa beban seorang perempuan itu lebih berat daripada laki-laki.” (Hal.
19)
“Senja
selalu seperti itu. Perlahan datang, lalu tiba-tiba hilang. Tergantikan keremangan
malam, menyisakan kehampaan.” (Hal. 45)
“Hari
tak selamanya malam, dan langit tak selamanya hitam. Seperti pagi ini, langit
kita biru.” (Hal. 49)
“Sungguh
tidak ada yang lebih menyedihkan daripada mengecewakan seseorang yang
menyayangimu, bukan?” (Hal. 59)
“Semakin
cepat menghadapi masalah, semakin cepat juga akan terbebas dari masalah itu.”
(Hal. 115)
“Aku
terjebak dalam zona nyaman. Meski kadang zona nyaman itu tidak benar-benar
nyaman. Hanya saja kita terlalu takut untuk melangkahkan kaki keluar dari lingkungan
ketidaknyamanan ini.” (Hal. 124)
“…,
terkadang seseorang perlu waktu bukan untuk memantapkan diri agar tetap tinggal,
tapi meyakinkan diri untuk benar-benar pergi.” (Hal. 156)
“Aku
hanya tahu, hubungan dua kekasih kalau tidak diakhiri dengan pernikahan pasti
akan diakhiri dengan perpisahan.” (Hal. 157)
“…,
karena ikhlas juga butuh belajar. Bahkan aku yakin, setiap dari kita pasti
menyisakan ketidakikhlasan dari hal-hal lalu yang berusaha untuk kita abaikan.”
(Hal. 177)
“Mana
ada orang yang benar-benar cinta malah pergi meninggalkan seseorang yang
dicintai.” (Hal. 195)
“Semakin
bertambah usia seseorang, semakin banyak hal dan waktu untuk menimbang sebuah
keputusan.” (Hal. 213)
“Pengemis,
gelandangan, juga orang gila di jalanan tidaklah ada di dunia dengan percuma. Semua
memiliki maksud mengapa harus ada di dunia, untuk menguji apakah manusia masih
punya hati untuk layak disebut manusia atau tidak.” (Hal. 215)
“…,
kita lebih sering iba melihat kucing atau anjing yang kelaparan di jalan
daripada melihat orang gila yang jelas-jelas manusia sam seperti kita.” (Hal. 216)