“Kebijaksanaan
sejati adalah kemampuan untuk hidup tanpa melihat pemandangan seperti ini,
menjadi orang yang sama meskipun berada di dasar sumur sekalipun. Tetapi hal
itu, tentu saja, tidak mudah dilakukan.” (Hal. 217)

Penulis: François
Lelord
Penerjemah: Gusti
Nyoman Ayu Sukerti
Penyunting: Nuraini
Mastura
Penyelaras aksara: Lani
Rachmah
Penata Letak: CDDC
Desain sampul: Muhammad
Oesman
Penerbit: Noura Books
Cetakan: II, Januari
2016
Jumlah hal.: vii + 263
halaman
ISBN: 978-602-385-002-0
Kisah
inspiratif memukau tentang pencarian kebahagiaan sejati yang telah menyentuh
hati lebih dari dua juta pembaca di seluruh belahan dunia.
Pada
suatu masa, hiduplah seorang psikiater muda bernama Hector yang merasa tidak
terlalu puas dengan dirinya sendiri …. Karena itu, dia memutuskan untuk
melakukan perjalanan ke seluruh penjuru dunia. Ke mana pun pergi, dia berusaha
memahami apa yang membuat orang merasa bahagia atau tidak bahagia.
Hector
berpetualang dari Paris ke Cina, kemudian ke Afrika, hingga ke Amerika Serikat,
dan di sepanjang perjalanan, dia mencatat hasil observasi mengenai orang-orang
yang ditemuinya.
Memadukan
kisah The Little Prince yang menawan dan filosofi The Alchemist yang kaya
inspirasi, perjalanan Hector menjelajahi jiwa-jiwa manusia menjadi sebuah
perjalanan yang menggelitik, mencerahkan, sekaligus menghibur.
***

“…
kaum wanita itu manusia yang sangat rumit, meskipun kau sendiri adalah seorang
psikiater.” (Hal. 22)

Buku
ini adalah sebuah novel. Itu penegasan dari saya. Siapa tahu anda seperti saya
yang sempat menduga bahwa ini adalah buku yang ditulis berdasarkan true story. Tapi tulisan ini memang
terinspirasi oleh pengalaman penulisnya yang memang seorang psikiater.
Tokoh
Hector ia ciptakan dengan rumus “banyak berpikir”, “banyak karisma”, “sedikit
sisi humoris”. Sedikit banyak itulah yang ditampilkan oleh sosok psikiater yang
demi menemukan jawaban atas pertanyaan tentang kebahagiaan ia rela terbang ke
beberapa negeri demi menemukannya.
Oiya,
biarkan saya membocorkan hasil pencarian Hector setelah menjelajahi Cina,
Afrika, dan Negara Serba Lebih. Dan inilah daftar yang ia susun di akhir
perjalanannya.
Pelajaran no.1: Membuat
perbandingan bisa merusak kebahagiaan
Pelajaran no.2: Kebahagiaan sering
kali datang di saat saat yang paling tidak terduga
Pelajaran no.3: Banyak orang yang
melihat kebahagiaan hanya berada di masa depan
Pelajaran no.4: Banyak orang yang
mengira bahwa kebahagiaan itu berasal dari kemampuan mendapatkan kekuasaan
lebih besar atau uang lebih banyak
Pelajaran no.5: Terkadang
kebahagiaan itu adalah tidak mengetahui seluruh kenyataan yang ada
Pelajaran no.6: Kebahagiaan adalah
sebuah perjalanan jauh di pegunungan yang indah dan asing
Pelajaran no.7: Memikirkan
kebahagian sebagai tujuan merupakan kekeliruan
Pelajaran no.8: Kebahagiaan adalah
kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai
Pelajaran no.8b: Ketidakbahagiaan
adalah terpisahkan dari orang-orang yang dicintai
Pelajaran no.9: Kebahagiaan adalah
mengetahui keluarga kita tidak kekurangan apa pun.
Pelajaran no.10: Kebahagiaan adalah
melakukan pekerjaan yang kita senangi
Pelajaran no.11: Kebahagiaan adalah
memiliki rumah dan kebun sendiri
Pelajaran no.12: Lebih sulit untuk
merasa bahagia di sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang jahat
Pelajaran no.13: Kebahagiaan adalah
merasa berguna bagi orang lain
Pelajaran no.14: Kebahagiaan adalah
dicintai karena diri kita apa adanya.
Observasi: Orang-orang lebih
berbaik hati pada anak yang tersenyum (sangat penting)
Pelajaran no.15:  Kebahagiaan hadir ketika kita merasa
benar-benar hidup.
Pelajaran no.16: Kebahagiaan adalah
mengetahui cara merayakan sesuatu
Pelajaran no.17: Kebahagiaan adalah
peduli terhadap kebahagiaan orang-orang yang kita cintai.
Pelajaran no.18:
Pelajaran no.19: Matahari dan laut
membuat semua orang bahagia
Pelajaran no.20: Kebahagiaan adalah
cara pandang terhadap sesuatu
Pelajaran no.21: Persaingan
meracuni kebahagiaan
Pelajaran no.22: Wanita lebih
peduli untuk membuat orang lain bahagia dibandingkan pria
Pelajaran no.23: Kebahagiaan
berarti memastikan bahwa orang-orang yang ada di sekeliling kita bahagia?
Apakah
ada yang menyadari bahwa pelajaran no.18 kosong? Sebab Hector telah
mencoretnya. Sebab ia yakin akan banyak orang yang tidak menyukai kebenaran ini
termasuk kekasihnya, Clara.
Menurutmu,
perjalanan apa yang telah dilalui Hector hingga bisa menyusun daftar pelajaran
tentang kebahagiaan tersebut, Readers? Bacalah dan kau akan menikmati
perjalanan bersama Hector.

“Kesalahan
mendasar yang dibuat orang adalah dengan berpikir bahwa kebahagaian itu
merupakan sebuah tujuan!” (Hal. 55)

***

“…,
mengetahui dan merasakan adalah dua hal yang berbeda. Merasakan adalah hal yang
lebih penting.” (Hal. 124)

Sudah
beberapa bulan sejak saya memiliki buku ini. Namun baru bulan ini saya
berkesempatan membacanya. Bukan karena tidak punya waktu tapi saya yakin bahwa
buku ini harus saya baca dengan lebih fokus agar menerima lebih banyak hal
menarik darinya.
Dan
kini kesempatan itu datang saat saya tanpa rencana memulai Reading Project saya sendiri. Tema untuk bulan  pertama ini, Agustus, adalah “Happiness”.
Jadi saya pun mulai melirik rak buku. Menemukan pilihan yang tersedia. Dan
novel ini menjadi salah satu pilihan yang pas.
Pengalaman
membaca novel Hector and The Search for Happiness ini menjadi menarik karena
didukung oleh upaya positif saya untuk menjadi orang yang lebih ceria dan
bahagia. Maka perjalanan yang dialami oleh Hector menjadi perjalanan saya
sendiri. Pengalaman Hector yang sempat ada di ujung maut membuat saya mengambil
pelajaran penting tanpa perlu ikut merasakan pengalaman hidup dan mati.
Kemudian
kemampuan Hector dalam mengamati hal-hal disekitarnya untuk ia jadikan
pelajaran tentang kebahagiaan menjadi teladan yang menarik. Mengingatkan saya
bahwa untuk bahagia kita harus mampu mengasah dan mengendalikan kepekaan yang
kita miliki.
Akhirnya,
pengalaman membaca novel ini memang meninggalkan jejak pemikiran dan perasaan
positif yang bisa memudahkan pembaca menciptakan atau bahkan menemukan
kebahagiaannya.  

“Pertanyaan:
Apakah kebahagiaan hanyalah sebuah reaksi kimia di dalam otak?” (Hal. 145)
***

“…
ini berarti bagi orang kaya, kebahagiaan itu adalah bisa bebas menikmati waktu
sendiri tanpa diganggu, termasuk ketika berada di dalam pesawat.” (Hal. 146)
“…,
itulah yang terjadi pada anak-anak di negara maju dan di negara miskin
sekalipun. Kita menaruh perhatian besar akan isu polusi udara, tetapi tak acuh
mengenai polusi terhadap pikiran anak-anak kita.” (Hal. 177)
“Bersikaplah
penuh perhatian kepada orang lain.” (Hal. 215)