Judul terjemahan:
Pembunuhan di Malam Natal
Penulis: Agatha
Christie
Penerjemah: Mareta
Renovasi sampul: Dwi
Koendoro
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan: ketujuh,
Desember 2002
Jumlah hal.: 296
halaman
ISBN: 979-655-629-4
“Lelaki tua yang lemah
seperti ini, begitu kurus, kering-tetapi-dalam kematiannya- begitu banyak
darah….” Suara Hercule Poirot menghilang.
Si tua Simon Lee
mengundang seluruh keluarganya untuk bersama-sama merayakan Natal di Gorston
Hall. Dia menciptakan hiburan bagi dirinya sendiri dengan mempermainkan nafsu
serakah mereka. Permainan ini ternyata mengusik kekuatan dan nafsu terpendam
yang akhirnya membawa kematiannya.
Hercule Poirot
menghadapi kasus pembunuhan yang direncanakan dengan sangat cermat dan dilaksanakan
dengan brilian, tetapi… ada terlalu banyak darah!
***
Novel ini bercerita tentang
sebuah pembunuhan yang terjadi di Gorston Hall. Kematian seorang pria tua,
Simon Lee yang digambarkan sebagai pria yang jahat namun juga cukup murah hati.
Kematiannya menjadi sebuah cerita pengungkapan tentang tabiatnya yang ternyata
membentuk karakter anak-anaknya.
Cerita tidak langsung dibuka
dengan berlatar tempat Gorston Hall. Cerita dibuka dengan berbagai latar tempat
terkait kepentingan setiap orang dan tanggapan mereka akan undangan untuk
merayakan natal di Gorston Hall yang datang dari si tua Simon Lee. Natal tahun
itu meenjadi berbeda sebab setelah sekian lama tercerai berai karena berbagai
alasan, semua anak Simon Lee berkumpul untuk merayakan natal bersamanya. SEMUA
anaknya!!

Alfred Lee, anak Simon Lee dan Lydia,
istrinya adalah anak Simon Lee yang tinggal di Gorston Hall. Alfred sangat
memuja ayahnya, sedangkan Lydia sebenarnya tidak begitu suka pada ayah
mertuanya. Namun karena kecintaannya pada suaminya, ia pun berusaha menutupi
ketidaksukaan itu dan menolerirnya.
Namun Natal itu, Alfred marah
pada sang ayah yang mengundang kembali Harry Lee, saudaranya yang sudah sangat
mempermalukan keluarga dan selalu bertindak sesukanya. Terutama karena Simon
Lee mengundangn Harry tanpa sepengetahuan Alfred.
Harry memang benar-benar datang
dan muncul setelah bertahun-tahun tidak muncul. Ia pernah melarikan diri dengan
uang yang ia “curi” dari sang ayah serta biasanya memberi kabar hanya jika dia
sedang membutuhkan uang.
David Lee, anak Simon Lee yang
sangat membeci sang ayahnya. David membenci ayahnya karena penderitaan yang
ditimbulkan Simon Lee pada ibunya. Ibu David, adalah perempuan lemah,
sakit-sakitan dan tidak bahagia. Dan setelah ibunya meninggal, David langsung
pergi dari rumah dan tidak pernah kembali. Kedatangannya kali ini karena
dorongan istrinya, Hilda, yang ingin agar ia mencoba memaafkan sang ayah dan
memenuhi undangannya.
Selain Alfred, David, dan Harry,
Ada pula George Lee. Ia adala anak Simon Lee yang berkecimpung di dunia
politik. Istrinya, Magdalene, adalah perempuan muda yang pesolek. George adalah
laki-laki yang pelit dan Magdalene adalah perempuan yang biaya hidupnya tinggi.
George memenuhi undangan Simon Lee karena dia masih terus bergantung pada
sokongan dana yang dia dapatkan dari ayahnya.
Kempat anak dan tiga menantu
Simon Lee akhirnya berkumpul untuk merayakan Natal. Ternyata selain mereka ada
dua tamu lagi yang ikut berkumpul yakni Pilar, anak dari Jennifer, anak
perempuan satu-satu Simon Lee yang telah meninggal. Selain Pilar ada juga Stephen
Farr anak dari Ebener Farr, sahabat lama Simon Lee.
Kemeriahan itu segera berganti
mimpi buruk saat pada malam natal, Simon Lee ditemukan meninggal dunia. Ia
diyakin telah dibunuh oleh seseorang. Ruangan tempat ia meninggal berantakan
dan menunjukkan tanda-tanda perkelahian. Berdasarkan bukti-bukti yang
terkumpul, pembunuh Simon Lee bukanlah orang di luar rumah melainkan orang yang
berada di rumah.
Kecurigaan pun jatuh pada semua
anak-anak, cucu, dan tamu yang ada di rumah itu. Terlalu banyak tersangka yang
memiliki motif untuk membunuh Simon Lee. Namun siapakah sebenarnya pembunuh
itu? Kenapa ia membunuh Simon Lee dan bagaimana?
***
Ini pertama kalinya saya mereview
buku Agatha Christie meskipun bukan pertama kalinya saya membaca karya Agatha.
Ini karena sebelumnya saya sudah membaca buku “There Were None” (kalau nggak
salah) saat duduk di bangku SMP. Bagi saya buku itu bagus sekali dan menarik. 
Saya akhirnya menyadari sebara
sulitnya mereview buku-buku detektif seperti ini. Sulit untuk tidak membuat
review yang ditulis menjadi spoiler.
Hm..so, biarkan saya mendeskripsikannya secara umum tanpa membocorkan apa pun
*berjalan berjingkat-jingkat*
Hm..novel ini sebenarnya tidak
terduga. Ending cerita dan pelakunya benar-banar gagal saya tebak. Penggunaan
sudut pandang orang ketiga semakin menghidupkan cerita. Ini karena pembaca bisa
“mengintip” banyak sudut pandang dan percakapan untuk bisa ikut menebak-nebak
pelakunya. Saya pribadi sejak awal berpikir, “Hm..jangan-jangan Simon Lee itu
pura-pura mati. Hal ini ada hubungannya dengan blurb yang seolang mengarahkan fokus utama ke Simon Lee.
Selain itu, seleran humor Simon
Lee perlu diragukan. Simon Lee bahkan sengaja membuat marah anak-anaknya. Dan
ternyata tidak lama kemudian Simon Lee ditemukan sudah tidak bernyawa.
Hm..setelah itu satu persatu alibi dan motif setiap orang diungkap. Banyak hal
yang tidak terduga yang dimunculkan penulis. Namun penyuguhannya memang
menarik.
Hm..sepertinya saya akan membaca
novel-novel karya Agatha Christie yang lain. Saya ingin melihat lebih banyak
lagi kepiawaiannya memunculkan fakta-fakta yang tidak terduga kepada pembaca.
Oiya, ada satu hal yang membuat
saya bingung. Yakni tentang balon yang melayang ke udara. Bukankah kalau balon
ditiup dengan secara manual oleh manusia, maka balon tersebut bukan jenis balon
gas yang bisa terbang ke udara dengan sendirinya? Kok ada bagian yang bercerita
tentang balon yang melayang di udara?

ini cover barunya (^_^)
OK, di luar itu, saya suka
ceritanya. Cover?? Hm..masih lebih bagus cover terbarunya. He..he.. So,, kalau
harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai
8.
***
Quote:
“Aku berpendapat bahwa dunia adalah sebagaimana diri  kita sendiri menerimanya.” (Hal. 19)
“Ada suatu kelemahan – suatu penyerahan yang membuat seseorang menjadi
jahat – padahal kalau seseorang itu dihadapi dengan sikap tegas, dia bisa
berubah menjadi manusia yang lain!” (hal.33)
“…perkawinan memang merupakan sesuatu yang luar biasa – dan aku rasa
pihak ketiga – bahkan seorang anak hasil dari perkawinan itu sendiri – tidak
berhak menilai perkawinan tersebut” (hal. 33)
“Dalam percakapan ada hal-hal yang bisa terungkap! Kalau manusia banyak
yang bercakap-cakap sulit menghindari berbohong” (hal 158)