Judul terjemahan: Panduan Meraih Popularitas
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Maharani Aulia
Ilustrasi dan Desain Sampul: Rizki Arnosa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Desember 2010
Jumlah hal.: 312 halaman
ISBN: 978-979-22-6497-5
Apakah
kau ingin menjadi populer?
Semua orang ingin populer—termasuk Stephanie Landry. Steph adalah cewek
paling tidak populer di kelas sejak terjadi musibah Super Big Gulp lima tahun
yang lalu.

Pentingkah menjadi populer?
Penting banget—bagi Steph. Karena itulah tahun ini dia berencana secepatnya
bergabung dengan Kalangan A. Dia mendapat sebuah senjata rahasia: sebuah buku
tua berjudul—apalagi kalau bukan—Panduan Menjadi Gadis Populer.

Apa saja syarat untuk menjadi populer?
Yang harus dilakukan Steph hanyalah mengikuti semua petunjuk dalam buku, dan
dia akan segera berpesta dengan Kalangan A (termasuk Mark Finley, gelandang tim
football sekolah), alih-alih melewatkan malam Minggu dengan duduk-duduk di The
Hill, memandangi bintang-bintang di langit dengan sobat kuper-nya, Becca, dan
Jason yang lebih kuper (sekarang dia lumayan seksi, tapi tetap saja), yang
tertarik pada astronomi.
Siapa yang butuh ditemani para kurcaci merah jika kau diundang ke pesta paling
seru di kota?

Tapi jangan abaikan hal terpenting tentang popularitas!
Menjadi populer itu mudah. Kenapa tidak? Ikuti panduannya!

***
Novel dibuka dengan sebuah
penjelasan berikut:
Populer: ks. Disukai atau dihargai banyak orang; disukai oleh para
kenalan; banyak dicari untuk dijadikan teman.
Popularitas.
Kita
semua menginginkannya. Kenapa? Karena populer berarti disukai. Semua orang
ingin disukai.
***
Diceritakan
tentang seorang anak perempuan bernama Steph Landry yang mengalami kehidupan
sebagai seorang gadis yang menjadi bahan lelucon karena menumpahkan minuman ke
baju putih seorang anak perempuan yang populer saat duduk di kelas enam. Sejak
saat itu selama lima tahun dia menjadi lelucon yang bahkan menyebar ke seluruh
kota. (Wow!! Apakah itu memang bisa terjadi jika sekelompok remaja populer
menjadi “penguasa”).
Karena semua
lelucon itu dia akhirnya hanya punya dua orang teman yakni Jason dan Becca.
Keduanya pun bukan orang populer. Jason sebenarnya punya potensi untuk jadi
cowok populer karena berasal dari keluarga kaya dan memiliki tubuh yang keren,
tapi karena kecintaannya pada astronomi ia pun dianggap aneh oleh anak-anak lain.
Becca?? Dia juga mendapat cap tukang tidur karena dia dulunya sering tertidur
di kelas. Dia sering mengantuk karena dulu harus membantu ayahnya yang petani
dan harus bangun cukup subuh untuk bisa tiba di sekolah tepat waktu. Akhirnya
ia dicap sebagai anak aneh juga.
Sebenarnya ketidak
populeran ini membuat Steph geram. Ditambah lagi dirinya benar-benar menjadi
lelucon umum di masyarakat. Sering kali ia mendengar kalimat, “Jangan seperti
Steph” atau “Kelakuanmu seperti Steph banget!” setiap kali orang mengomentari
sikap orang lain yang dianggap konyol dan aneh. 
Akhirnya dengan bantuan sebuah buku tua yang tanpa sengaja ia temukan
dari tumpukan barang-barang Kitty, nenek Jason sekaligus calon nenek tirinya,
berusaha mengubah dirinya. Buku tua itu adalah buku panduan menjadi populer,
dan Steph merasa yakin bahwa saran-saran di dalam buku tersebut akan
membantunya.
Dia pun
mempersiapkan semuanya, mulai dari membeli pakaian baru yang lebih sesuai trend
maupun mengubah gaya rambutnya. Dia pun berusaha lebih mempertimbangkan setiap
tingkah laku dan ucapannya. Dia berusaha memenuhi saran-saran yang ada di buku
tersebut. Ia melakukan hal-hal yang disarankan oleh buku. Hingga akhirnya ia
benar-benar diterima oleh kelompok populer. Namun bersamaan itu, Jason dan Becca
merasa dirinya aneh. Mereka merasa Steph sudah berbeda. Padahal Steph berusaha
agar tetap bisa akrab dengan mereka.
Hingga akhirnya
di satu titik, Steph pun mendapat ujian yang cukup berarti yang menjadi klimaks
dari semuanya. Sebab hal tersebut menjadi penentu segalanya. Jika ia
melakukannya maka dia benar-benar membuang dirinya yang dulu, dan jika dia
menolak maka itu berarti semua kepopuleran yang berhasil dia bangun akan
menguap begitu saja.
Apa pilihan
Steph? Apakah ia benar-benar berhasil menjadi orang yang populer?
***
Saat menulis
review ini, saya sambil mendengarkan lagu Pemenang milik SO7. Hm, ini
menyadarkan saya bahwa iya benar, dunia ini penuh persaingan bahkan dalam hal
popularitas. Kemenangan bukan milik orang-orang tertentu, ia milik semua orang
yang mau mengusahakannya. Seperti halnya kepopuleran. Setiap orang punya
peluang menjadi populer. Hal fisik terkait kecantikan, warna kulit dan bentuk
tubuh memang mempengaruhi peluang itu tapi tidak berarti menjadi hal
terpenting. Yang paling penting adalah bagaimana kita mencintai diri kita dan
selalu bisa menjadi diri sendiri serta selalu bersikap baik dan ramah ke orang
lain. Pada akhirnya kita akan menjadi sosok yang disukai untuk dijadikan teman
oleh siapapun. Sebab orang yang mencintai dirinya sendiri akan lebih mudah
dicintai. (entah pernah membaca kalimat ini dimana) 
Membaca buku ini
pun sebenarnya memperlihatkan bahwa obsesi menjadi populer pun menuntut
pengorbanan. Mulai dari waktu yang dibutuhkan untuk tampil menarik, hingga
kesulitan untuk menemukan sahabat yang benar-benar baik. Selain itu banyak
hal-hal manipulatif yang cukup menggoda untuk dilakukan agar kita bisa populer
dan mempertahankan kepopuleran itu. Lihatlah Lauren yang menjadi pembohong dan
pendengki ulung. Atau yang cukup konyol ya Darlene, yang berpura-pura bodoh namun
ternyata itu menjadi sesuatu hal yang menyenangkan darinya. (^_^)v
Terkadang kita
memaksakan diri menjadi populer hingga akhirnya lupa untuk menjadi diri
sendiri. Saya rasa Meg Cabot berusaha mengingatkan hal ini pada semua anak
perempuan di luar sana. Bahwa pada akhirnya jauh lebih menyenangkan menjadi
diri sendiri. Selain itu, yang terpenting adalah dicintai seperti adanya kita,
bukan seperti diri kita yang mereka inginkan. (hm?? Memusingkan?? Mudah-mudahan
nggak ya :D)
Lalu apa itu
berarti apa yang dilakukan oleh Steph salah?? Nggak juga. Karena dia punya
alasan untuk itu. Tapi akan salah jika akhirnya dia melakukan segala hal untuk
itu bahkan hingga menjatuhkan orang lain. Kalau sudah seperti itu, dia jelas tidak
ada bedanya dengan Lauren. Itulah kenapa akhir kisahnya dibuat seperti itu oleh
Meg Cabot, yaitu agar jangan sampai kita malah menjadi mirip dengan orang yang
tidak kita sukai karena dendam yang kita simpan pada orang itu. Kalau seperti
itu, apa bedanya kita dengan orang yang kita benci itu?? Setuju kan?? (^0^)
Saya suka buku
ini. Meski genrenya teenlit. Ini karena buku ini nggak melulu tentang remaja
galau yang jatuh cinta melainkan tentang bagaimana kita menjadi pribadi yang
tangguh. Bagaimana kita menghadapi sikap orang-orang yang suka mem-bully. Ini layak dibaca oleh
remaja-remaja masa kini. Oiya, tentang cewek-cewek populer yang biasanya selalu
diidentikkan dengan cewek cantik, dan selalu berkelompok dan punya cowok
populer. Hm, buku ini bisa menjadi cara meluruskan sesuatu bahwa cantik dan
populer nggak berarti dia berhak menghakimi orang lain, dan bahwa mereka yang
biasa-biasa pun bisa menjadi cantik dan populer jika mau mengusahakannya. Tapi
ya, sekali lagi itu akan menuntut pengorbanan. Nah, ini saatnya menentukan
prioritas. Apakah menjadi populer itu prioritas? Apakah demi menjadi populer
kita rela kehilangan “kekhasan” karakter pribadi kita dan menjadi seragam
dengan anak-anak perempuan lain yang ada di geng populer?
Ok, jika harus
memberi nilai untuk novel ini, saya memberinya nilai 8. *Kok nggak
tinggi-tinggi amat? Padahal biasanya kalau novel yang punya nilai moral, suka
kamu kasih nilai tinggi, Tria?* Hm.itu mungkin karena saya nggak berhasil
menikmati banyak hal dari novel ini. Nggak berhasil mengaduk-aduk emosi saya.
Buktinya saat membaca novel ini saya membaca 1 novel lain juga (^_^)v
***
Quote:
“Hindarilah popularitas jika kau
menginginkan kedamaian.” –Abraham Lincoln
 
(Hal.280)
“Popularitas adalah hal termudah untuk
diraih, namun paling sulit dipertahankan” –Will Rogers
(hal.298)
… di dunia ini ada banyak Steph Landry –
orang-orang yang melakukan kesalahan di depan umum, orang-orang yang rambutnya
nggak tertata rapi setiap saat, yang bukan anak orang kaya yang setiap tahun
bisa dibelikan mobil baru – lebih banyak daripada ratu kecantikan sepertimu.
Dan kalau kau tidak mau baik-baik pada kami, pada akhirnya kau akan menyadari
betapa kesepian hidupmu.”
(Hal. 301)

Tentang Penulis
Meg Cabot adalah
pengarang serial Princess Diaries,
yang adaptasi filmnya dibuat oleh Disney dengan judul sama. Buku-buku lain
karangannya termasuk seri Mediator,
1-800-Where-R-You, All American Girl, Ready or Not, Teen Idol, Avalon High,
dan How to Be Popular, juga Nicole and The Viscount dan Victoria and the Rouge. Dia juga menulis
buku untuk dewasa termasuk The Boy Next
Door, Boy Meets Girl, Every Boy’s Got One, Size 12 Is Not Fat,
dan Queen of Babble. Dia masih menunggu
orang tua kandungnya, sang raja dan sang ratu, mengembalikan takdir aslinya
untuk menduduki takhta. Dia tinggal di Key West dan New York dengan suami dan
seekor kucing bermata satu bernama Henrietta, dan berbagai kucing cadangan
lain.