“…,
kau tidak bisa mengejar kebahagiaan. Sukacita itu terjadi dengan spontan –bukan
rumus umum yang bisa kauikuti.” (Hal. 333)

Penulis: Cecilia Ahern
Alih Bahasa: Lina Jusuf
Editor: Fenty Nadia
Desain sampul: Orkha
Creative
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 352
halaman
ISBN: 978-602-03-2199-8
Adam
dan Christine dipertemukan pada suatu larut malam. Christine sedang menyebrang
Jembatan Ha’Penny di Dublin dan Adam ada di sana, bersiap-siap terjun, bunuh
diri.
Christine
membuat kesepakatan gila dengan Adam bahwa sebelum ulang tahun Adam yang ke-35
dua minggu lagi, Christine akan menunjukkan kepadanya hidup ini layak dijalani.
Berbekal buku-buku pedoman how-to, Christine membantu Adam kembali jatuh cinta
pada hidupnya.
Namun,
hanya itukah perubahan yang terjadi?
***

“Meski
hal positif adalah akar bagi hal-hal hebat, angan-angan saja tidak bisa menjadi
landasan yang kokoh bagi suatu perkawinan.” (Hal. 11)

Entah
ada apa dengan hidup Christine hingga di saat ia merasa gamang dengan
kehidupannya, ia malah harus berhadapan dengan orang-orang yang mencoba
mengakhiri hidupnya.
Malam
itu, mengikuti petunjuk sebuah buku pedoman “how to” agar mendapatkan kedamaian
hati, Christine melangkah menuju sebuah tempat yang asing baginya di malam
hari. Tempat yang MUNGKIN akan membuatnya merasa bersyukur. Di sana ia bertemu
Simon Conway yang memegang pistol dan mencoba bunuh diri. Awalnya Simon
berhasil ditenangkan oleh Christine, ia bahkan memberi Christine kesempatan menelpon
polisi untuk meminta bantuan. Namun satu perkataan yang salah membuat Simon
kembali meraih pistol dan benar-benar menembak dirinya. Kini Simon terbaring
tidak berdaya di rumah sakit sedangkan Christine hidup bersama rasa tidak
berdaya dan penyesalan karena gagal mencegah Simon.
Setelah
itu hidup Christine menjadi tidak damai. Ia pun semakin merasakan betapa
pernikahannya tidak lagi membahagiakan ia dan Barry, suaminya. Akhirnya ia pun
mengajukan perceraian dengan Barry. Hal yang tidak diduga Barry. Orang-orang
berpikir itu karena Christine mengalami trauma atas apa yang menimpa Simon.
Namun Christine sadar itu memang pilihannya yang ia ambil jauh sebelum ia
bertemu Simon.
Di
tengah kehidupan yang suram karena pernikahan yang gagal, pekerjaan yang kacau,
tempat tinggal dan harta lainnya diambil paksa oleh mantan suami yang sakit
hati; Christine bertemu dengan Adam. Mereka bertemu saat Adam mencoba melakukan
bunuh diri dengan terjun dari Jembatan Ha’Penny. Christine pun berusaha sekuat
tenaga agar kejadian dengan Simon tidak terulang lagi. Sayangnya ini membuat ia
menjanjikan hal yang mustahil pada Adam.
Ia
berjanji bahwa saat ulang tahun ke-35 Adam, yang ternyata tinggal dua minggu
lagi, Christine akan mampu membuat Adam melihat bahwa bunuh diri bukanlah
pilihan yang tepat. Bahwa kehidupannya masih layak untuk dijalani.
Pertanyaan
sebenarnya adalah bagaimana mungkin Christine bisa meyakinkan Adam jika ia
sendiri juga menyadari betapa suram kehidupan miliknya. Namun Christine
bertekad untuk tidak gagal. Ia pun mengambil beberapa buku pedoman how to, yang seolah menjadi obsesinya,
untuk mendukungnya melakukan misinya itu.
Akhirnya
itu akan menjadi dua minggu paling “aneh” bagi Christine. Ia mengambil cuti
demi bisa mendampingi Adam selama 24 jam penuh. Ini membuatnya harus tinggal
satu atap dengan dengan Adam. Kemudian ia pun menggali satu persatu penyebab ketidakbahagiaan
Adam dan mencoba membantu Adam memperbaiki keadaan itu. Namun di saat yang sama
ia pun harus memperbaiki hidupnya.
Mampukah
Christine memenuhi janjinya pada Adam? Apakah misinya itu akan berhasil?

“Kalau
sesuatu tidak dapat diperbaiki, setidaknya dapat diubah, terutama perilaku.”
(Hal. 26)

***

“Kalau
diingat-ingat lagi, kurasa aku jatuh cinta pada perasaan jatuh cinta.” (Hal.
59)

Kembali
menikmati karya Cecilia Ahern adalah salah satu kesenangan pribadi bagi saya.
Ini karena novel karyanya selalu dituturkan dengan unik. Dan topiknya akan
berbeda di setiap novel.
Kali
ini ia menulis dengan cara yang unik. Ide utamanya adalah tentang bagaimana
seseorang akan menjalani kehidupan yang didasarkan pada buku pedoman how-to. Kita tentu sering melihat
buku-buku motivasi ataupun buku bertema bisnis yang bunyinya seperti: “10 Cara
Menghalau Stress”, “8 Langkah Mendapatkan Pekerjaan yang Diimpikan”, atau
judul-judul lain yang serupa itu kan? Nah, tokoh Christine adalah perempuan
yang terobsesi dengan buku-buku semacam itu. Di dalam ruang kerjanya di kantor,
ada selemari penuh buku-buku semacam itu.
Menguatkan
kesan yang ingin dibangun, penulis tidak hanya menggunakan judul “How
to
fall in Love” melainkan
juga menggunakan judul semacam itu di setiap bab cerita. Ada bab dengan judul
“Cara Menenangkan Laki-Laki”, “Cara Membangun Persahabatan dan Menumbuhkan Rasa
Percaya”, “Cara Menghilang Selamanya dan Tidak Pernah Ditemukan”, dan
judul-judul lain semacamnya. Menarikkan?
Selain
keunikan itu, penulis mampu membangun karakter-karakter yang konsisten. Dan
menyusun rangkaian peristiwa yang saling mengisi untuk menampilkan ironi
kehidupan. Tentang bagaimana Christine berupaya membuat Adam melihat keindahan
hidup namun di saat yang sama ia sendiri merasa tidak bahagia dengan kehidupan
yang dijalaninya.
Menariknya,
latar belakang Adam bagi sebagian orang mungkin dianggap terlalu hebat. Membuat
orang-orang merasa kesal dan berpikir, “Bagaimana mungkin ia tidak bahagia
padahal ia memiliki semua itu?” Tapi bukankah perkaraan perasaan adalah perkara
abu-abu? Tidak ada pakem yang pasti?
Oiya,
di halaman 320, penulis mengangkat sebuah realitas tentang kehidupan melalui
pengalaman Caroline yang melakukan percobaan bunuh diri karena di-bully di dunia maya. Video “dewasa” yang
ia buat bersama pacarnya beredar di dunia maya ketika mereka putus. Ini mmebuat
dia dikucilkan dan dicemooh teman-temannya di dunia maya. Ia pun merasa
malu  Ia merasa tidak akan ada yang
menolongnya. Ia tidak memiliki keberanian untuk mengadu pada orangtuanya. Dan
Ini adalah kasus yang semakin marak terjadi dan tidak sedikit yang “plot
ceritanya” sama dan berakhir bunuh diri juga. Sebuah “sentilan” yang pas.
Terakhir,
Ada twist menarik terkait ibu
Christine yang tidak terduga yang akhirnya membuat pembaca menyadari alasan
Christine bersikeras menolong Adam.
Sekali
lagi Cecilia Ahern berhasil mengangkat topik yang menarik. Menyuguhkan cerita
yang menangis dan realistis dengan pesan yang bijak tentang kehidupan.

“Menurutku,
betapa pun baiknya, tidak semua cinta harus bertahan selamanya.” (Hal. 109)

***
“Aku
tidak sempurna, tetapi berusaha sebaik mungkin, seperti kebanyakan orang untuk
tidak melakukan kesalahan.” (Hal. 160)
“Hal
terbaik dan terindah di dunia ini tidak bisa dilihat bahkan disentuh – hanya
bisa dirasakan dengan hati” – Hellen Keller (Hal. 175)
“Kau
tukang membenahi, Christine, tetapi kalau kau benar-benar ingin menolong
seseorang, menjadi teman bagi mereka, terkadang kau hanya perlu mendengarkan
dan membiarkan mereka melakukan sendiri tugasnya. Dampingi dia. Itu saja.”
(Hal. 234)

***
Postingan
ini adalah bagian dari tantangan #31HariBerbagiBacaan yang diadakan oleh Kak
Ila Rizky Nidiana