http://1.bp.blogspot.com/-VkT5cnQEpbI/UCEHf2bSyXI/AAAAAAAADlA/iwu-tXq4wuk/s1600/Cara+Menghadapi+Pacar+Yang+Cuek.jpg
Sumber foto di sini
Usia
pernikahan saya memang masih seumur jagung. Tanpa masa pacaran yang orang sebut
sebagai penjajakan. Hingga sejak awal kami adalah dua orang asing yang
memutuskan untuk bersama secara sadar.
Sejak
hari pertama setelah ia mengambil alih tanggung jawab Papa dengan sumpah yang
mengguncang ‘Arsy-Nya, saya sadar kami adalah dua karakter yang berbeda. Ia
adalah lelaki humoris yang lebih senang membagi senyum dan cengiran daripada
kata. Sedangkan saya lebih senang mengungkapkan sesuatu lewat kata baik tutur
maupun tulisan dan tak pandai mengukir senyum lebar.
Bukan
hal mudah untuk saling memahami. Kami menikah dipertemuan kelima, tujuh bulan
setelah pertemuan pertama. Saya tidak pernah tahu betapa mandiri ia sebagai
lelaki. Tidak pernah ia ingin menyusahkan saya dengan keperluan pribadinya. Hingga
sering kali saya merasa tidak dibutuhkan. Sikap ini kemudian ditambah dengan
sikap cueknya. Maka ramuan antara sikap mandiri, cuek, dan tidak banyak bertutur
kata ini tentu membuat saya sebagai perempuan merasa tidak diperhatikan. Diabaikan.
Dua
pekan setelah menikah saya harus meninggalkannya untuk menyelesaikan studi. Maka
makin asinglah kami satu sama lain. Makin sulitlah kami saling memahami. Proses
saling mengenal ini dihalangi jarak. Maka pertengkaran kerap terjadi. Belum lagi
ia yang hanya menyisihkan waktu untuk menghubungi saya di malam hari. Siang
hari? Ia raib.
Namun
suatu hari, saya menyadari bahwa sayalah yang jarang memulai komunikasi. Ternyata
setiap kali saya mengirim pesan singkat meski hanya berisi satu kata seperti “Kakak”
–panggilan yang saya padanya– maka ia akan segera menelpon begitu membaca pesan
tersebut. Ini selalu terjadi. Ia selalu berusaha memenuhi panggilan saya. Seolah
memberitahu bahwa ia akan selalu ada, sesibuk apapun dirinya dan sejauh apapun
kami terpisah.

Sekali
lagi prasangka saya tentang ketidakpeduliannya kembali terbantahkan saat suatu
hari saya mengabarinya tentang kesehatan yang memburuk di tanah rantau. “Saya
pingsan kemarin” dan kejadian itu membuatnya menyebrangi lautan. Menempuh perjalanan
darat 10 jam dilanjutkan penerbangan dua jam kemudian kembali menempuh
perjalanan darat selama 4 jam. Semua demi memangkas jarak Mamuju – Bandung. Jangan
tanyakan biayanya dan pekerjaan yang ia tinggalkan. Perjalanan itu ia tempuh
tanpa mengabari. Ia langsung berada di depan pintu rumah kostan tempat saya
menetap. Romantis? Iya, tapi dengan caranya sendiri. Sebab saat membukakan
pintu untuknya saya hanya bisa terperangah sambil bertanya, “Ngapain ke sini?”
Ha.. Ha..Sahabat yang mendengar kejadian ini hanya bisa mengatai dengan
kalimat, “Jadi yang urat romantisnya sudah putus itu kamu. Bukan suamimu?!”
Semakin
lama kami bersama saya semakin menyadari bahwa memang begitulah ia. Tidak akan
ada kalimat panjang tentang betapa cantiknya saya atau betapa ia mencintai
saya. Namun setiap tindakannya menunjukkan betapa berharga saya baginya, betapa
ia mencintai saya, dan betapa serius ia memikul tanggung jawab untuk senantiasa
menjaga saya.
Ia
adalah lelaki yang mengizinkan saya untuk tetap mandiri dan mengejar impian. Sikap
tidak pedulinya bukan tanpa pengawasan. Namun itu adalah caranya agar saya
tidak kehilangan kemandirian.
Kini
saya sadar seperti itulah dia. Tanpa kata namun selalu sedia.
 

Di balik punggungmu adalah salah satu tempat berlindungku

“Tulisan
ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumahtangga