Assalamualaykum..
Hai. Selamat
datang kembali para pengunjung My Little Library. Bagaimana akhir November-mu?
Sering hujan? Sama donk. Tapi jangan sampai membuat hati kita kelabu ya 😉
Nah, kali ini
saya mau memperkenalkan seorang penulis yang juga seorang teman baik sejak SMA.
Kami sekolah di SMA yang sama dan sempat mengikuti ekskul yang sama. Selain itu
sempat sama-sama aktif di rohis SMA. He..he.. Makanya senang sekali karena
dapat kesempatan wawancara. Meski secara virtual sih, karena saya di Bandung
dan Arrifa’ah di Makassar. 
Ah, sudahlah,
malah jadi bernostalgia. *uhuk..uhuk..bahasa saya malah mirip nenek-nenek gini
(-_-“)* sebelum semakin melebar *harusnya badan saya yang melebar* saya akan
mengenalkan sosok Arrifa’ah dulu secara umum.
Arrifa’ah lahir
di Ujung Pandang, 21 Juli 1989. Putri kedua dari pasangan H. Salehuddin Yasin
dan Hj. Fatamorgana. Menyelesaikan studi pendidikan profesi Apoteker di
Universitas Hasanuddin Makassar dan terus melanjutkan kesenangan menulisnya.
Bagi Arrifa’ah, menulis adalah tugas kehidupan. Pecinta warna biru ini telah
ikut serta dalam berbagai antologi bersama penulis lainnya, serta terus
berjuang bersama para kru majalah Islam lokal di Makassar, Majalah Al Firdaus, sebagai Pimpinan Redaksi.
Silaturahim dengannya dapat melalui:
Facebook: Diena Rifa’ah, atau
Twitter @jedasejenak11


Saya rasa perkenalan di atas sudah cukup jadi pengantar awal. Nah kali ini saya
akan ngobrol dengan Arrifa’ah tentang buku barunya yang diterbitkan oleh
Penerbit Qibla yang judulnya Merajut
Benang Cahaya
, sekaligus mencoba mengenal lebih banyak sosok saudari saya
satu ini. *zaman SMA belum sempat ngobrol tentang dunia literasi kecuali
berbagi mimpi jadi penulis* (^_^)

Hai, Arrifa’ah. Terima kasih ya
untuk kesempatan interview virtual ini. Saya mau donk nanya-nanya. Boleh ya?! Sejak
kapan Arrifa’ah berkenalan dengan buku?
Mungkin sejak lahir, ya… Hehehe… Karena kedua orang tua berprofesi
sebagai pendidik, jadi di rumah memang buku selalu bertebaran di mana-mana.
Juga ada ruangan khusus sebagai ruang baca, yang kemudian bertransformasi jadi
kamar pribadi saya karena saat itu rumah kami sudah tidak punya ruangan kosong
untuk kamar tidur yang baru. Jadilah saya sejak kecil tidur dengan dua rak
besar buku di ruangan tersebut. Punya buku sendiri sejak sudah mulai pintar
membaca, umur enam tahun. Sejak itu, hingga SMA, Bapak saya punya kebiasaan
membawa kami ke toko buku tiap habis gajian untuk beli buku pilihan
masing-masing. Sepulang dari situ, biasanya rumah akan jadi sunyi senyap karena
semuanya sibuk dengan buku barunya sendiri. 
Ceritakan donk tentang proses awal hingga
akhirnya Arrifa’ah terjun ke dunia literasi?
Secara tidak resmi, aktivitas menulis saya sudah dimulai sejak saya
senang membaca. Jadi dulu, setiap baca buku cerita anak-anak, saya selalu
berpikir, “Sepertinya saya juga bisa bikin beginian…”. Hehehe… Jadi waktu
SD saya suka menabung buat beli kertas HVS yang saya bentuk jadi seperti buku,
lalu menulis cerita di sana. Buku yang ditulis dengan pensil dan tulisan tangan
itu kemudian saya sewakan pada teman-teman sekelas. Hasil sewa bukunya saya
putar lagi buat beli kertas, begitu seterusnya. Masuk masa SMP, saya hobi
menulis di binder sendiri. Waktu itu saya tidak cukup gaul untuk jadi pengurus
mading *kasian banget..hehe..* Jadinya koleksi tulisan saya kumpulkan di binder
pribadi dan hanya dibaca sama teman-teman dekat saja. Masa SMP juga pertama
kali saya mencoba menulis puisi yang semuanya hanya mendekam di binder.
Memasuki SMA, saya gabung di salah satu ekskul jurnalistik (bareng Atria juga,
khan…? *nostalgia*), di masa itulah tulisan saya sudah mulai dibaca oleh
lebih banyak orang. Di rohis juga begitu, waktu diminta memilih akan masuk
departemen apa, saya dengan santai hanya menunjuk buletin terbitan rohis dan
mengatakan, “Saya mau masuk di departemen yang kerjanya bikin buletin ini…”.
Di jaman itu juga saya mulai ikut lomba-lomba dan mengirimkan tulisan ke media
lokal di luar sekolah. Alhamdulillah sempat menang beberapa kali dan dimuat di
media juga. Waktu itu juga mulai menulis blog. Masuk masa kuliah bergabung
dengan Majalah Al Firdaus sampai sekarang, dan di masa tersebut juga mulai
ancang-ancang untuk bisa menerbitkan buku. 
Apa sih yang menginspirasi penulisan buku
Merajut Benang Cahaya?
Banyak sekali. Buku Merajut Benang Cahaya asalnya adalah tulisan
personal yang lebih saya tujukan kepada diri sendiri. Awalnya hanya dimuat di
blog saja. Pada saat saya melihat kejadian di sekitar saya, saya mencoba
memikirkan hal lain di balik kejadian tersebut. Inilah yang saya sebut dengan
hikmah, yang kemudian saya konotasikan dengan cahaya. Ada begitu banyak tokoh dan kejadian yang menginspirasi
setiap tulisan dalam buku ini. Dan ternyata aktivitas menulis blog itu tanpa
terasa bisa mengumpulkan sejumlah tulisan yang bisa disatukan menjadi sebuah
buku. Selanjutnya saya berpikir, bahwa tidak ada salahnya jika perenungan
pribadi ini bisa dinikmati juga oleh orang lain. Akhirnya, buku ini pun bisa
lahir. Alhamdulillah bini’mati tathimmushshalihat…  
Bisa gak berbagi cerita tentang proses
ditulisanya buku Merajut Benang Cahaya ini hingga akhirnya berhasil
diterbitkan? Suka dukanya apa?
Wah… ceritanya bakal panjang nih.. Hehe… Jadi awalnya, ini adalah
tulisan dari dua blog saya. Blog khusus puisi dan blog yang memang isinya
tulisan renungan. Dari blog, banyak yang membaca dan menyarankan agar
dibukukan. Akhirnya, di tahun 2012, cikal bakal buku ini terbit secara
independent dengan judul Jeda Sejenak. Setelah beredar ke mana-mana, saya
mendapatkan usul lain dari beberapa orang teman, agar ditsribusi Jeda Sejenak
bisa lebih luas, saya disarankan untuk mengajukan naskah ini pada penerbit
mayor yang lebih besar. Akhirnya saya merombak naskah Jeda Sejenak, yang
tadinya berisi 50:50 antara esai dan puisi, akhirnya dengan berat hati saya
mengeluarkan sejumlah puisi, hingga hanya tersisa di awal dan akhir tiap bab.
Beberapa tulisan baru juga saya tambahkan ke dalamnya. Editing saya lakukan di
sana-sini. Kemudian saya tawarkan kepada penerbit. Sebelum akhirnya diterima
oleh penerbit Qibla, manuskrip Merajut Benang Cahaya sudah melanglangbuana ke
beberapa penerbit lainnya dan ditolak. Hehehe… Sempat down juga tiap menerima
penolakan. Tapi, down-nya hanya sejenak dong… Setelah itu saya revisi
lagi…revisi lagi… Demikian seterusnya hingga alhamdulillah di-ACC oleh
penerbit di bawah naungan Kompas-Gramedia grup ini.
Suka-nya, tentu saja saat buku ini dibaca oleh banyak orang dan bisa
memberikan manfaat. Saya bukan orang yang supel dan enak diajak ngobrol untuk
pertama kali.
*yang ini saya setuju..ha..ha..malah co’do
(Bugis/Makassar: menyela pembicaraan orang)*
 Makanya, lewat
buku saya mencoba ‘membayar’ kekurangan saya itu dengan mengajak pembaca
berbincang lewat tulisan. Meski mungkin beberapa orang yang membaca buku ini
tidak akan pernah saya temui secara langsung, saya bahagia bisa mengajak mereka
mengobrol lewat buku itu.
Duka-nya? Hmm…mungkin jika ada yang meminta gratisan, padahal khan
stok buku gratis dari penerbit hanya seuprit! 
Hahaha… ini sih curhat…
*tapi bukan saya kan?? (^_^)*Pada dasarnya sih, saya bermimpi
suatu hari nanti bisa menulis buku yang bisa disebarkan secara gratis kepada
orang-orang. Makanya sampai sekarang saya menulis blog. Saya sedih jika ada
orang yang terhalang untuk membaca buku ini hanya karena tidak punya uang atau
tidak berkenan mengeluarkan uangnya untuk membelinya. Jika saja tinta, kertas,
dan pegawai di penerbitan dan percetakannya itu bisa digaji dengan daun…
tentu saya akan dengan senang hati membagi-bagi gratis buku saya sendiri…
*mulai mengkhayal* Hihihi…
-Apa harapan Arrifa’ah atas terbitnya buku
ini?
Merajut Benang Cahaya adalah kelahiran kedua dari naskah buku pertama
saya. Maka, jika ingin menarget ‘sekadar terbit’ saja, sebenarnya hal itu sudah
tercapai dua tahun lalu. Namun, mengapa saya harus capek-capek mengusahakan
agar ia terbit lagi? Tujuan dan harapan saya adalah agar lebih banyak yang bisa
membaca dan syukur-syukur jika ada manfaatnya. Kata Tasaro, puncak dari sebuah
karya adalah keterbacaan. Saat
tulisan kita dibaca, bahkan meski tanpa apresiasi, atau minim royalti, bagi
saya pribadi itu sudah lebih dari cukup. Saya selalu yakin bahwa akan berbeda
antara orang yang membaca dan yang tidak. Merajut Benang Cahaya saya harap bisa
memberikan bekas (meski mungkin hanya sangat sedikit) di hati orang-orang yang
membacanya, dan membuat kita punya harapan baru, bahwa kita selalu punya cara
untuk bisa hidup sebagai manusia yang lebih baik. Insya Allah.
Setiap yang saya tulis adalah proyek dunia-akhirat saya, termasuk buku
ini. Saya berharap kemanfaatannya bukan hanya terbatas pada kesenangan dunia,
namun juga bisa saya rasakan dan pertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak.
Saya menitipkan separuh hati saya pada buku ini *serius, ini bukan lebay!*,
maka saya berharap buku ini pun bisa menyentuh hati pembacanya. 
Kalau bisa menggambarkan Merajut Benang
Cahaya dalam 3 kata, Arrifa’ah akan memilih kata apa?
Syukur, Cinta, Perenungan 
Pertanyaan pamungkas saya nih. Kan saya ini
adalah blogger buku yang ke(kurang)rjaannya adalah mereview buku. Bagi Arrifa’ah
sebagai seorang penulis, reviewer itu apa? Sahabat? Musuh? Juri yang bikin
sebal, atau apa? (^_^)v
Karena saya juga seorang reviewer *hehehe…* saya bisa merasakan
perasaan kamu, Atria… Hihihi… Well, sebagai penulis, saya menganggap
reviewer itu sebagai seorang guru. Secara umum, saya menganggap semua pembaca
sebagai guru. Terutama orang-orang yang kemudian memberikan waktunya untuk
mengulas buku kita dan memberikan masukan di dalamnya. Dan itulah tugas seorang
reviewer. Dari review itu kita bisa belajar banyak hal, menemukan celah
kesalahan yang terluput, dan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi di
kesempatan yang lain. Reviewer itu seperti kaca yang bisa membantu kita melihat
refleksi dari tulisan kita dengan lebih jelas. Ia juga seperti seorang kawan
baik yang bisa menolong kita untuk menemukan hal-hal lain yang mungkin tidak
bisa kita lihat saat berkaca sendiri. So, terima kasih reviewer… (^_^)/
Dan karena ini pertanyaan terakhir, lewat blog ini saya ingin
mengucapkan terima kasih, jazakumullahu khairan, kepada teman-teman yang sudah
berkenan membaca Merajut Benang Cahaya, apalagi yang berkenan menuliskan review
atau resensinya. Betapa saya sangat bersyukur atas itu semua. Mohon doanya agar
saya dan kita semua bisa istiqamah di atas kebenaran dan di atas perjuangan
dakwah lewat pena. Mari merajut kebaikan bersama! 
Amin. InsyaAllah. Semoga ngobrol kita kali
ini juga memberi manfaat dan  kebaikan.
Sukses terus ya. Saya tunggu karya berikutnya. Atau kapan-kapan bikin proyek
duet bareng saya aja ya?! *ha..ha..emang kamu siapa Atria (-_-“)*
He..he..abaikan saja closing yang ini.
Nah, itu tadi
ngobrol-ngobrol saya dengan Arrifa’ah yang sejujurnya lebih saya kenal dengan
nama Diena. Rasanya cukup terharu juga, kami kawan lama bisa berhadap-hadapan
(meski hanya di dunia maya) dan ngobrol tentang proses kreatif karya salah
seorang dari kami. *usap air mata*
Seperti kata
Diena, eh Arrifa’ah, bahwa karya ini adalah sebuah bentuk syukur, cinta dan
perenungan, maka sebagai bentuk syukur, ada kado penuh cinta bagi 2 (dua) orang pengunjung My Little
Library yang beruntung. Kadonya adalah 1 (satu) eksemplar buku Merajut Benang Cahaya untuk
masing-masing pemenang.
Mau menjadi
orang yang beruntung tersebut? Caranya mudah kok. Ikuti saja langkah-langkah
berikut:
1. Follow akun twitter @jedasejenak11 dan @AtriaSartika
2. Baca review Merajut Benang Cahaya dan
beri komentar di sana.
3. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar

“Pernah gak mengalami moment perenungan
dari hal-hal yang sebenarnya cukup sepele? Seperti pengalaman Arrifa’ah yang
“nguping” pembicaraan supir angkot dan kemudian merasa harus banyak bersyukur.
Kalau pernah? Share di sini ya?! (^_^)”

Jangan lupa sertakan data diri kamu berupa
nama, akun twitter, dan email kamu.
4. Sebarkan info GA ini di twitter menggunakan hastag
#GiveawayMBC dan mention @AtriaSartika @jedasejenak11 @Penerbit_BIP
5. Giveaway ini akan berlangsung sejak
tanggal 28 November – 7 Desember 2014
6. Pemenang akan dipilih berdasarkan
jawaban yang paling menarik. (kami akan berusaha objektif)
7. Pengumuman pemenang akan dilakukan selambat-lambatnya
3 hari setelah Giveaway di tutup (10 Desember 2014.
8. Jika ada yang ingin ditanyakan tentang
giveaway ini silakan menghubungi saya via twitter @atriasartika
Mudahkan? Jadi jangan lewatkan kesempatan
untuk memenangkan buku karya Arrifa’ah ini ya (^_^)v