Hai, Pengunjung My Little Library (^_^)
Bagi pengunjung tetap Little Library
ini, mungkin bertanya-tanya mengapa kali ini saya mengadakan Giveaway di
pertengahan bulan? Biasanya saya 
mengadakan givewaya setiap awal bulan dan di tutup di akhir bulan. Namun
kali ini berbeda. Salah satu alasannya adalah karena ada kerjasama dengan salah
satu penerbit untuk mengadakan blogtour dan giveaway di blog ini. Karena saya
tidak ingin mengadakan dua giveway dalam waktu yang sama *bingung mem-promote event dan manage blogpost*
akhirnya saya pun memundurkan Giveaway kali ini. Tapi tetap saja
giveway-nya  akan berlangsung 1 bulan.
Untuk pengunjung baru Little Library,
selamat datang dan salam kenal. Semoga betah dan ketagihan mengunjungi blog
ini. Jangan lupa meninggalkan jejak ya. (^_^)
Ok, tanpa berpanjang-panjang lebih
jauh lagi, saya akan perkenalkan seorang penulis yang akan saya wawancarai kali
ini. Ya, kenalkan Mbak Indah Hanaco. Siapa yang sudah pernah membaca karyanya?
Ada yang belum?? Kalau gitu, saya sampaikan dulu profil singkat Mbak Indah
Hanaco ya.

Indah Hanaco tertarik menulis sejak membaca serial Wiro Sableng dan Pendekar Rajawali. Jatuh cinta setengah mati pada karya-karya
Sidney Sheldon, Sir Arthur Conan Doyle, Sherrilyn Kenyon, Tessa Dare, Julie
James, dan Julie Garwood. Indah juga tergila-gila pada lagu-lagu milik Kla
Project, Shinhwa, dan segala hal yang berasal dari tahun 90-an. Berasal dari
Pematangsiantar, Indah sekarang tinggal di Bogor. Bersama suami dan dua buah
hati, Axzel dan Aimee, hidup terasa begitu menakjubkan. Apalagi bisa bekerja di
bidang yang begitu dicintai dan disuguhi pemandangan kebun teh yang indah
setiap waktu.
Karya-karya
Mbak Indah Hanaco antara lain Black Angle
(Stiletto, —-),
14 Kebaikan Paling Menakjubkan dari Nabi
Muhammad
(Gramedia, 2012), 
Cinta
Tanpa
Jeda (Bukune, 2012), Run to You
(Gagas Media, 2013),
Beautiful Temptation (Bentang Pustaka, 2013) Cinta 4 Sisi (Grasindo, 2013), The Vanilla Heart (Bentang Pustaka, 2013), Les Masques (Grasindo, 2014), 33 Binatang Paling Heboh! Fabel Sain untuk Anak Cerdas (Gramedia, 2014), After Sunset (Elex Media Komputindo,
2014), dan sejumlah buku lainnya.
Indah Hanaco
bisa dihubungi di
Facebook:
Indah Hanaco
Twitter:
@IndahHanaco
Mbak Indah Hanaco termasuk salah satu
penulis Indonesia yang cukup produktif. Mbak Indah juga ramah dan bisa diajak
berdiskusi. Buktinya saya diberi kesempatan untuk melakukan wawancara singkat
melaui inbox FB dengannya. Dan ini dia hasil wawancaranya.

1.  Bagi donk cerita pertama mbak Indah Hanaco
jatuh cinta pada dunia literasi dan akhirnya memilih berprofesi sebagai
penulis. (^_^)
Dari remaja memang udah senang baca
dan menulis. Tapi memang tidak diseriusi. Sempat berhenti menulis belasan
tahun, kerja kantoran, hingga akhirnya total mengurus keluarga. Makin lama,
merasa ada yang hilang. Hingga akhirnya keinginan untuk menulis muncul lagi dan
kali ini tidak bisa diredam. 
Tahun 2010 saya mulai menulis novel
setelah sebelumnya cuma menulis cerpen yang halamannya sangat terbatas.
Terbayang kesulitannya, kan? Tapi “sesuatu yang hilang” itu akhirnya ketemu.
Bahkan, setelah menjadi penulis saya baru menyadari kalau ternyata saya
memiliki sisi yang  gigih dan pantang
menyerah. Sesuatu yang selama ini tidak saya ketahui. Sangat terkejut,
tentunya. Setelahnya, tidak bisa berhenti menulis dan akhirnya memutuskan untuk
total di sini.
2. Dari semua karya Mbak
buku apa yang proses kreatifnya paling berkesan?
Masing-masing punya kesan yang
mendalam sekaligus unik. Ada naskah yang bergerak sendiri dan menolak patuh
pada outline yang sudah saya siapkan. Kata-kata seakan keluar dari jari-jari
saya saat mengetik, bukan dari kepala. Setelah selesai, energi rasanya sangat
terkuras. Tapi novel ini belum terbit. 
Cinta 4 Sisi selesai dalam waktu 9
hari, rekor tercepat saya. Naskah ini minta dituntaskan dengan cara yang aneh.
Dua hari terakhir penulisannya, saya tidak bisa tidur dan benar-benar menulis
tanpa kenal waktu. Meninggalkan laptop hanya untuk melakukan kewajiban yang
tidak terhindarkan. (hah 9 hari??? *speechless*
bergegas nyari buku Cinta 4 sisi)
Meragu sudah tersimpan idenya di
kepala selama hampir 10 tahun. Tokoh utamanya, Leon, tericipta karena rasa suka
saya yang luar biasa besar kepada Tao Ming She di serial Meteor Garden. Leon
adalah Tao Ming She versi saya. 
Beautiful Temptation prosesnya biasa
saja. Tapi boleh dibilang Tristan adalah salah satu tokoh rekaan yang paling
saya cintai. Tristan itu tipe pria ideal yang ada di benak saya. (saya juga naksir Tristan kok Mbak..he..he..)
Intinya, tiap kali menulis saya
benar-benar larut dalam cerita. Makin larut, biasanya makin bagus hasilnya.
                       
3. Ada nggak buku atau
penulis yang menginspirasi atau mempengaruhi karya-karya mbak?
Ada, itu pasti. Karya-karya Sidney Sheldon
yang makin mendorong saya untuk menulis. Saya tergila-gila alurnya yang cepat
dan penuh kejutan. Juga buku-buku karya Sherrilyn Kenyon dan JR Ward yang
menyihir saya dan sering berpikir,bagaimana bisa mereka menulis sekeren ini?
Lalu ada novel-novelnya Lorraine Heath yang luar biasa dalam hal karakterisasi.
Dengan kalimat sederhana yang tidak berlebihan, Lorraine Heath bisa membuat
pembaca menitikkan air mata tanpa sadar.
Itu hanya sebagian kecil. Banyak
penulis lain yang memberi kontribusi buat saya meski bukan berarti saya harus
mengekor gaya mereka.
4. Kan mbak nulis banyak
jenis buku, ada buku anak, ada untuk pegangan anak sekolahan, dan ada novel.
Novelnya sendiri juga ada yang genrenya romance dan ada yang genrenya thriller.
Dari semua genre ini, mana yang paling mbak nikmati dalam mengerjakannya?
Jujur, saya tidak bisa memilih. Karena
masing-masing punya kelebihan sendiri. Buku anak misalnya, menggenapi sisi
idealisme saya sebagai ibu yang ingin anak-anak memiliki bacaan bermutu.
Karenanya, saya berusaha menyisipkan sains di dalamnya. Bukan sekadar dongeng
pengantar tidur, karena sudah banyak yang menulis itu.
Novel romance memenuhi bagian romantis
saya yang sangat suka kisah-kisah cinta happy ending. Saya pemimpi yang suka
menuangkan kisah impian saya di dalam cerita. Saya pernah “diprotes” editor
karena gaya penulisan dan karakteristik tokoh-tokohnya berbeda di setiap buku. 
Quinn yang santai dan lembut, Leon
yang sedikit pemaksa dan cenderung egois, Tristan yang penyabar tapi enggan
menyerah, atau Melvin yang sedikit kaku tapi cinta mati dengan perempuan yang
dicintainya. Tapi mau bagaimana lagi, saya tidak mampu menulis karakter yang
mirip. Bukan disengaja. Semuanya mengalir begitu saja saat mulai menulis. 
Sementara novel berbumbu thriller sangat
mampu menjadi pelepasan karena kesenangan saya menonton serial kriminal.
Menulis naskah thriller menjadi semacam penyeimbang dalam diri saya. 
Sekadar curhat, awalnya saya lebih
tertarik menulis genre thriller, bukan full romance. Tapi kemudian saya melihat
sendiri ada teman yang patah hati bertahun-tahun dan menolak cinta baru yang
datang. Dia memilih tenggelam dalam patah hatinya dan menangisi orang yang
jelas-jelas tidak peduli lagi padanya.
Buat saya, itu menyakitkan. Hingga
kemudian saya mulai menulis naskah romance. Setidaknya saya mau bilang ke
pembaca saya, dunia ini indah. Kalau ada cinta yang menyakitkan, itu memang
risiko yang harus dihadapi. Patah hati bukan berarti dunia bahagia itu berakhir
untuk kita. Patah hati pun seharusnya ada masa kedaluwarsanya. 
Belakangan saya makin tertarik dengan
isu lingkungan karena sedang gencar menonton acara reality show dan film
dokumenter. Di depan, akan terbit beberapa naskah yang berkaitan dengan isu
lingkungan meski masih berbalut romance. Hihihi, saya penulis yang labil, ya?
(Nggak apa-apa Mbak.
Dipelihara aja labilnya biar genrenya tetap beragam. Kan bacaan saya jadi
“warna-warni”..he..he.. Eh tapi jangan nulis horor ya, Mbak. Saya penakut
(>_<))
5. Buku terbaru Mbak
Indah adalah After Sunset. Ceritain donk proses kreatifnya. Butuh berapa lama
hingga akhirnya diterbitkan?
After Sunset itu diawali dari ide
sederhana. Waktu itu saya membaca salah satu tweet dari akun Fakta Faktanya
Wow, kalau tidak salah. Tentang sakit kepala langka yang diderita Daniel
Radcliffe, cluster headache. Langsung kepala saya dipenuhi ide untuk
mengembangkan cerita dari sana. Dan karena saya sangat cinta Formula One dan
belum pernah menulis karakter yang berprofesi sebagai pembalap, ide cluster
headache ini rasanya pas sekali.
Akhirnya, terciptalah tokoh bernama
Liam Hammond, pembalap GP2 Series berkebangsaan Inggris yang berhenti membalap
karena menderita cluster headache. Kenapa berdarah Inggris? Karena saya selalu
merasa yang berbau Inggris itu seksi. Pokoknya, sangat suka yang serba Inggris. 
Liam punya cukup banyak masalah dalam
kehidupan pribadinya. Bertemu Leah, cewek Indonesia, saat berlibur di Bali.
Leah adalah anak kuliahan yang  juga
punya masalah sendiri yang menghantui. Kisah Leah dan Liam ini tidak
dimaksudkan sedih, tapi baru kemarin ada pembaca yang bilang dia menangis
berkali-kali karena membaca After Sunset. Dan itu benar-benar mengejutkan saya. 
Jujur, 
saya sempat kesulitan menyelesaikan naskah ini. Awalnya, After Sunset
ini teenlit. Tapi saya merasa akan lebih nyaman jika diubah menjadi Young
Adult. Masa pengerjaannya tergolong lama, sekitar satu bulanan. 
Novel ini selesai pertengahan Desember
2013 silam. Oh ya, outline After Sunset sudah lebih dulu di ACC Elex Media.
Setelah berada di tangan editor, sempat ada beberapa poin yang harus saya
tambahkan. Tapi tidak banyak. Prosesnya sendiri boleh dibilang mulus-mulus
saja. Hingga akhirnya berhasil terbit pada 14 April 2014 kemarin.
6. Punya harapan nggak
untuk dunia literasi Indonesia?
Harapan saya tidak muluk-muluk. Semoga
minat baca masyarakat bisa terus meningkat. Kata-kata bijak yang mengatakan
bahwa buku adalah jendela dunia itu sangat benar. Klise tapi benar. Buku akan
membawamu ke berbagai tempat, mengenal aneka ilmu, juga (seharusnya) membuat
orang lebih bijak.
(Amin.. Saya juga
berharap yang sama, Mbak)
7. Pertanyaan pamungkas
saya nih. Kan saya ini adalah blogger buku yang ke(kurang)rjaannya adalah
mereview buku. Bagi mbak sebagai seorang penulis, reviewer itu apa? Sahabat?
Musuh? Juri yang bikin sebal, atau apa? (^_^)v
Dulu sih saya sempat cemas tiap kali
novel saya di-review. Karena saya banyak melihat orang “membantai” sebuah karya
dengan tidak proporsional. Kritik yang dilayangkan seringkali tak sesuai porsi
dan minim masukan. Saya sangat percaya, niat baik seharusnya diungkapkan dengan
kata-kata yang baik pula. Tidak berbau caci-maki. Cara menyampaikan kritik itu
yang kadang membuat gerah, bukan kritiknya. (saya
nggak gitu kok, Mbak. Sumpah.. *sumpah pramuka* :D)
Makin ke sini saya belajar untuk lebih
lapang dada. Review selalu saya baca dan mengambil poin-poin penting yang
kira-kira bermanfaat untuk buku selanjutnya. Dari review saya sering menyadari
ada yang “bolong” dalam tulisan saya. Jadi, buat saya seorang reviewer itu
menjadi semacam kompas tambahan. Sehingga di masa depan saya harap tidak
tergelincir dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang mereka tunjukkan.
Tapi tentu saja tidak semua kritik ditelan mentah-mentah. Saya rasa tiap
penulis pasti punya standar sendiri dalam berkarya. Sepanjang standar itu tidak
ditabrak, tidak masalah. 
Seperti pada novel “Les Masques”. Saya
ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memberi sedikit penjelasan untuk novel
ini. Les Masques adalah novel saya yang terbit pada Maret 2014 kemarin.
Kisahnya tentang seorang cewek bernama Fleur yang ternyata memiliki kepribadian
ganda. Ada pembaca yang mempertanyakan kemampuan Elektra (salah satu alter ego)
yang bisa berbahasa Prancis. Padahal Fleur sendiri buta bahasa itu.
Setahu saya, berdasarkan buku yang
pernah saya baca dan film yang pernah saya tonton, alter ego seringkali
memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki oleh pribadi aslinya. Bahkan
berbeda jenis kelamin.
Jadi, sangat mungkin jika alter ego
jago melukis sementara pribadi aslinya sebaliknya, misalnya. Karena kehadiran
alter ego sendiri memang unik dan (cenderung) tidak masuk akal. Alter ego
muncul sebagai cara pribadi aslinya mempertahankan diri saat mengalami berbagai
pengalaman traumatis. 
Tapi saya berterima kasih pada
reviewer yang mempertanyakan hal itu. Karena menyadarkan saya bahwa seharusnya
saya memberi penjelasan yang lebih detail. Karena masalah alter ego ini masih
asing dan banyak diperdebatkan.
(he..he..jawaban tentang
alter ego ini akhirnya ini menuntaskan pertanyaan yang saya tulis di review Les
Masques saya (^_^)v)
Nah,
itu hasil interview saya dengan Mbak Indah Hanaco. Sudah lebih kenal dengan
Mbak Indah Hanaco kan? Jangan lupa kenalan juga dengan karya-karya Mbak Indah
Hanaco. Bisa dimulai dengan membaca review buku-buku Mbak Indah di My Little
Library ini. Beberapa yang sudah saya review:
Sekarang, seperti biasa ada giveaway
berhadiah karya penulis yang saya wawancarai. Kali ini sudah tersedia hadiah
bagi 3 (tiga) pemenang yang masing
akan mendapatkan paket buku:
After
Sunset
 
Tergiur dengan hadiahnya? Mau ikut
Giveawaynya? Caranya gampang. Ikuti saja langkah-langkah berikut:
1. 
Follow akun twitter saya (@atriasartika), Mbak Indah Hanaco (@IndahHanaco),
dan follow blog ini juga via GFC atau Bloglovin.
2. Sebarkan info
GA ini via twitter atau FB dengan me-mention Mbak Indah dan saya.
contoh: “Mau dapat paket buku? Yuk Ikut GA yang diadakan @atriasartika bersama
@IndahHanaco Cukup klik link ini (link pendek) #GAAfterSunset”
Kalau via FB silahkan mention FB Mbak Indah
Hanaco dan FB saya: Atria Dewi Sartika saat men­-share GA ini di status FB.
3.      
Semua peserta yang mengikuti GiveAway  diminta menjawab pertanyaan berikut
di kolom komentar:
“Apa yang kamu
bayangkan saat membaca judul After
Sunset
?”
Sertakan data
diri: nama (yang dipakai untuk memfollow blog), akun twitter/FB, & email.
4. Akan jadi
nilai tambah kalau teman-teman memberi komentar di review buku-buku mbak Indah
Hanaco yang ada di blog saya ini.
5. Pemenang
akan kami pilih berdasarkan jawaban yang paling menarik menurut kami. (Kami
akan berusaha untuk objektif). 
6. Giveaway
ini berlangsung dari tanggal 20 Mei – 20 Juni 2014. Pengumuman pemenang akan
dilakukan selambat-lambatnya 1 minggu setelah Giveaway ini ditutup (27 Juni 2014).
7. Kalau ada
pertanyaan terkait Giveaway ini, sila menghubungi saya via email di:
anora(dot)widad(at)gmail(dot)com atau via twitter di @atriasartika
8. Oiya, GA
ini hanya untuk yang berdomisili di Indonesia ya. Ongkos kirim ditanggung oleh
saya selaku penyelenggara.
Mudahkan? Tunggu apa lagi? Yuk kenalan
dengan Mbak Indah Hanaco dan karya-karyanya 😉