“Ketika
kita menikah dengan seseorang, maka kita tidak bisa hanya menikah dengan sikap
dan karakternya, atau keluarga dan adat istiadatnya.” (Hal. 49)


Penulis: Asma Nadia
Sampul: Wedha
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Agustus
2007
Jumlah hal.: 248 halama
ISBN: 978-979-22-3045-1
Mei
Rose:
“Aku
telah merampas sesuatu yang paling berharga dari hidupnya. Dan sangat wajar
jika perempuan ini datang dengan segunung lahar api. Hm… koreksi. Aku tidak
merampas apa pun, aku hanya memaksanya berbagi.”
Arini:
“Jika
cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak
bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?”
Dongeng
yang retak – retak.
Peristiwa
tragis dan e-mail aneh dari gadis bernama Bulan.
Sementara
seseorang berjuang melawan Tuhan, waktu dengan sabar menyusun keping – keping
puzzle kehidupan yang terserak, lewat skenario yang menakjubkan.
***

“Bukankah
laki – laki memang pencuri? Datang karena melihat peluang, lalu pergi setelah
mengambil kesempatan?” (Hal.73)

Arini,
adalah seorang penulis yang merasa bahwa kehidupannya adalah sebuah dongeng
yang sempurna. Bagaimana tidak jika ia memiliki seorang suami yang selama
membujang sangat menjaga mata dan hatinya. Mereka kemudian dianugerahi 3 orang
malaikat hebat titipan Allah. Kondisi inilah yang membuai Arini.
Hingga
mendadak dunianya runtuh saat mendengar ada perempuan lain yang menyebut
dirinya sebagai “nyonya Prasetya”. Gelar yang selama ini tersemat pada Arini.
Di
sisi lain kisah hidup seorang Mei Rose yang begitu tragis hingga membuatnya
meragu atas keberadaan Tuhan. Kehidupan Mei Rose yang sangat berbeda dengan
kehidupan Arini. Hingga ia pun memutuskan bahwa ia menginginkan seorang suami
di hidupnya. Dan lelaki itu haruslah lelaki yang sudah berkeluarga.
Dan
Pras? Laki – laki yang secara logika dan hampir seluruh hidupnya tidak pernah
berpikir untuk melakukan poligami. Namun ternyata, ketika dihadapkan pada
kondisi? Ia pun nyaris tak berkutik.

 ***

“Perempuan,
desisnya… bahkan dalam kemarahan dan kekecewaan, perempuan masih berusaha
menjaga hati suami.” (Hal. 128)

Saya
lupa bagaimana bisa mendapatkan novel ini. Sejak saya aktif menulis review di
blog ini, saya belum pernah lagi membaca karya Asma Nadia. Terakhir membaca
karyanya saat SMA. Entah bagaimana novel ini saya miliki. Kayaknya beli buku second teman.
Saat
membaca novel ini saya jadi berpikir apa ini novel yang sama dengan novel yang
telah diterjemahkan. Entahlah, saya bahkan belum pernah baca review buku dan
film karya tersebut. Dan saat menulisnya saya enggan mencari tahu. Saya ingin
apa yang saya tulis tentang buku ini akan terlepas dari perdebatan terkait
novel dan filmnya. Ok ini review saya.
Novel
ini menyuguhkan kisah dua perempuan dan cara mereka menghadapi dongeng –
dongeng yang biasa mereka hadapi. Dua nasib yang berbeda jelas menyikapinya
dengan cara yang berbeda.
Arini,
seorang muslimah yang berprofesi sebagai penulis. Ia sangat mencintai dongeng –
dongeng. Ia percaya bahwa akan ada pangeran yang datang meminangnya dan mereka
akan menjalani apa yang disebut happily
ever after
. Awalnya ia meyakini hal ini. Sampai akhirnya ia mendapati
kenyataan bahwa pangerannya memiliki putri yang lain yang tinggal di istana
lain. Dongeng indahnya seketika runtuh menyadari bahwa ada dongeng lain yang
dirajut suaminya. Suaminya, Pras, telah menikah lagi.
Mei
Rose, perempuan keturunan Cina yang hidupnya tidak seindah dongeng. Yatim
piatu, tanpa cinta, hidup bak pembantu di rumah bibi sendiri, hingga tragedi
itu datang satu persatu. Tidak ada cerita indah dalam hidupnya. Ia mencibir
dongeng – dongeng indah tentang putri yang hidup bahagia setelah penderitaan
panjang menderanya. Ia bahkan meragukana kehadiran Tuhan. Hingga hadirlah Pras
dalam hidupnya.
Dengan
menggunakan sudut pandang orang ketiga, novel ini mengetengahkan poligami dalam
3 sudut pandang. Posisi Arini yang menjadi “korban” poligami, Pras sebagai
pelaku, dan Mei Rose yang merupakan pihak ketiga.
Isu
ini sensitif. Penulis menampilkan Pras sebagai orang yang awalnya merasa cukup
dengan Arini. Ia bahkan memiliki alasan kuat untuk berkata, “Tidak” pada
poligami. Tapi ternyata pada akhirnya alasan itu tidak lagi cukup. Ia pun
melakukannya. Ia yang awalanya meyakini bahwa sebenarnya poligami tidak
memiliki pembenaran selain upaya “pemuas nafsu yang halal”. Ternyata pria
dengan pemikiran seperti Pras pun malah menjadi orang yang melakukan poligami.
Selain
itu, hingga akhir cerita ditampilkan bahwa dalam rumah tangga masalah pihak
ketiga adalah hal yang umum dan wajar terjadi. Bahwa pernikahan pasti harus
menghadapi ancaman ini. Ini kalau benar begini perempuan yang sudah tahu resiko
semacam ini kemudian tetap memilih menikah berarti adalah perempuan berani ya. I did it. Jauh di bawah alam sadar saya
pun memiliki kekhawatiran yang sama sehingga saat suami ingin melamar salah
satu syarat yang saya minta adalah berjanji untuk tidak melakukan poligami.
Padahal saya sadar betapa suami selama masa bujangnya selalu menjaga
pergaulannya dengan perempuan.
Baca
novel ini pun menampilkan beberapa wacana yang berkembang di masyarakat tentang
perempuan dan poligami. Bahwa meski perempuan adalah korbannya, namun
perempuanlah yang sering dituding sebagai penyebabnya. Tidak bisa rawat
dirilah, tidak bisa melayani dengan baiklah, tidak bisa masak, dan alasan
lainnya yang memojokkan perempuan yang suaminya menikah lagi itu. Ini dinarasikan
di halaman 104.
Lantas
bagaimana laki – laki pelaku poligami? Mereka salah karena ternyata mereka
mencari cinta dan keindahan lain. Namun entah datang dari mana pembelaan,”sudah
fitrahnya laki – laki mencintai keindahan. Daripada zina?”

“Mata
laki – laki adalah mata yang setiap hari melihat pemandangan luar. Menatap yang
indah – indah. Dan saat kembali ke rumah, …, saat kembali ke rumah harus
kecewa karena pandangannya tak menemukan apa yang diinginkan…” (Hal. 43)

Ya
Rabb.. sungguh saya tidak mengharamkan apa yang kau halalkan. Saya hanya
menyadari bahwa saya tidak bisa menempuh jalan yang sebenarnya tidak Kau
wajibkan untuk saya jalani. Ya, menjadi perempuan yang dipoligami bukanlah
pilihan pasrah. Perempuan memang memiliki hak untuk menolak tapi bukan berarti
perempuan tersebut mengharamkan poligami.
Haaah,
novel ini memang menampilkan poligami dengan cukup menyentil. Sosok dingin Mei
Rose ditampilkan bahwa alasan Mei Rosa merebut Pras adalah hal yang bisa
dipahami. Tapi tetap saja pertanyaannya, “Kenapa suami orang?”
Oiya,
diksinya manis. Cara bercerita juga menarik dengan kehadiran sosok Ratih yang
diciptakan Arini. Dan untuk ending? Hm.. sebenarnya saya tidak begitu suka
dengan ending terbuka (>_<)
***

Puisi
yang terinsipirasi novel Istana Kedua
Suamiku, aku memang tak kan
pernah sempurna
Namun aku tak pernah berhenti mencoba agar matamu terus diisi binar cinta

Suamiku, jika sempurna bagimu adalah pengertian dariku untuk membagimu
Maka izinkan aku bertanya, “Relakah kau jika harus membagiku dengan sosok
lain?”

 Dan ingatlah, aku takkan pernah bisa sempurna
Pun dengan dirimu
Juga dengan cintaku
Sebab sempurna hanya milik-Nya

***
 “Kenapa
selalu tahun – tahun poligami Rasulullah yang dicontoh? Kenapa para lelaki itu
tidak mencontoh tahun – tahun panjang Rasulullah, 28 tahun hanya membagi
kasihnya untuk Khadijah?

Sementara
kebanyakan lelaki sekarang bahkan tidak merasa perlu menunggu setengah dari
bilangan tahun yang telah ditempuh Rasul dengan Khadijah, sebelum memutuskan
mengambil perempuan lain.” (Hal. 225)