Penulis: Nimas Aksan
Penerbit: Stiletto
Cetakan: I, Maret 2012
Jumlah hal.: ix – 267 halaman
ISBN: 978-602-7572-00-3
Penulis
menggunakan sudut pandang orang pertama untuk menggambarkan kehidupan Mia
Aminatiara yang penuh dengan kesialan. Bagaimana tidak, Mia sudah 9 kali putus
dengan 9 pria berbeda, ia pun sudah 9 kali dipecat dari pekerjaannya. Semua itu
bertolak belakang dengan kehidupan kakaknya, Nia, yang sempurna. Nia punya
pekerjaan dengan fasilitas dan gaji yang menggiurkan. Nia pun memiliki dua
putra yang lucu-lucu dan suami yang kaya.
Ini membuat Mia
tidak bisa menahan diri untuk mendramatisir hidupnya. Jujur saja, saat membaca
buku ini saya cukup kesal pada Mia. Ia sibuk menyalahkan orang lain atas setiap
kesialan yang menimpanya. Kesannya dia benar-benar seorang dramaqueen.

Sahabat Mia,
satu-satunya sahabat yang ia miliki, bernama Dudi membantunya untuk menemukan
masalah yang membuat hidupnya dipenuhi kesialan. Karena sebuah ramalan aneh
Dudi pun meyakini bahwa kesialan Mia 
terjadi karena ia belum menepati sebauh janji. Mia berjanji akan
mentraktir Dudi dan Karin, teman mereka semasa SMA, makan es krim Cinderella’s
Shoes di Kedai Es Krim Yoyo jika ia berhasil masuk ke PTN. Dan sampai saat itu
janji tersebut belum terpenuhi.
Karenanya, Dudi
dan Mia pun mencoba menemukan Karin yang sudah lama tidak mereka ketahui
kabarnya. Karin merupakan seorang perempuan yang egois dan manipulatif, itulah
kenapa mereka tidak lagi berteman. Namun demi menghilangkan kesialannya, Mia
pun berusaha untuk mengajak Karin untuk makan es krim di Kedai Es Krim Yoyo.
Namun ternyata
itu tidak sesimple yang ia duga. Butuh pengorbanan besar hanya untuk sekedar
mengajak Karin makan es krim. Ia harus rela menjadi babu yang diperintah
semena-mena oleh Karin untuk membantu Karin mempersiapkan pesta pernikahannya.
Dan itu melibatkan kedekatannya dengan Gardi, calon suami Karin. Semua kian
runyam saat Mia menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Gardi.
Di saat yang
sama ia pun menemukan kunci untuk bisa membuat pernikahan Karin batal. Apa yang
harus ia lakukan? Diam dan membiarkan Karin dan Gardi menikah meskipun ia yakin
pernikahan mereka tanpa cinta? Ataukah ia harus membuka semua kebenaran dan
menghentikan pernikahan tersebut? Selain itu, muncul pula kabar buruk tentang kakaknya,
Nia. Ia pun benar-benar yakin bahwa dia harus menata hidupnya.
Berhasilkah dia?
Apakah misi untuk bisa melunasi hutangnya berhasil? Apakah kesialannya akan
berakhir? Apakah perasaannya pada Garin harus diakhiri?
Hm..covernya
manis, sinopsisnya pun bagus. Ide cerita juga menarik. Dan sudah cukup bisa
mempengaruhi emosi pembaca. Sayang ada beberapa bagian yang agak missing
terutama di bagian akhir cerita. Tentang hubungan Mia dengan Dudi yang
dibiarkan begitu saja oleh Mia dan kemudian membaik secara mendadak. Namun
secara keseluruhan buku ini cukup bagus.
Jika harus
memberi nilai untuk novel ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8.