” Masa lalu telah mengajarkannya bahwa setiap menit terlalu berharga. Pengabaian terhadap satu menit, bahkan bisa membuka kesempatan untuk seribu satu kemungkinan.” (hal. 117)

Penulis: Riawani Elyta
Penyunting Bahasa: Mastris
Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Jumadil Ula 1434
H./ April 2013
Jumlah hal.: 320 halaman
ISBN: 978-602-8277-91-4
Jasmine,
ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, keindahan
parasnya justru mengundang luka. Dean, The Prince, dedengkot jaringan Cream
Crackers, ibarat pangeran misterius dari kegelapan. Menebar petaka, meski
begitu, sejatinya masih tersisa sepenggal nurani di dalam jiwanya.

Mereka bertemu, dalam kerasnya gelombang kehidupan. Dalam luka-luka yang perih.
Namun, dalam badai yang gencar mendera, cinta telah mendatangi mereka. Cinta
yang membebat luka. Cinta yang secara ajaib, justru mengajarkan mereka tentang
putihnya nurani dan indahnya cahaya.

***
Riawani Elyta menyuguhkan materi yang sangat padat
dalam novel yang berjudul simple ini. Jika mengharapkan sebuah cerita yang
dihiasi bunga-bunga cinta, maka novel Jasmine tidak akan menawarkannya. Namun
bukan berarti tidak ada kisah cinta antara sepasang muda-mudi di dalam novel
ini. Kita tetap akan membaca kisah cinta. Tapi jauh dari bentuk hubungan yang
sudah mainstream  kita baca di novel-novel romance.
Ada beberapa setting cerita yang dipadukan dalam
novel ini. Ada episode kehidupan seorang Jasmine, perempuan yang hilang ingatan
atau lebih tepat berusaha menghilangkan ingatannya. Ada juga cerita kehidupan
Dean Pramudya, anak dari seorang konglomerat yang menantang kehidupan dengan
melakukan kejahatan yang berbasis IT. Di sisi lain, ada pula kehidupan di
Yayasan Pelita yang mengetengahkan cerita Luthfi  seorang pengurus yayasan yang menangani
penderita HIV/AIDS dan kehidupan Malika seorang pengurus yayasan yang juga
mengidap HIV/AIDS. Ada pula cerita Rowena, perempuan yang berusaha mencari anak
perempuannya yang hilang.

Semua potongan-potongan kehidupan itu bertemu di
Batam. Sebuah kota tempat yang tidak hanya menjadi tempat transit untuk sebuah
perjalanan wisata, namun juga menjadi gerbang bagi banyak kejahatan
internasional seperti human traficking
(perdagangan manusia),
perdagangan narkotika internasional, cyber crime internasional, dan berbagai
kejahatan lainnya.
Apa yang diketengahkan oleh Riawani Elyta adalah
sebuah realitas. Kejadian-kejadian yang ia ceritakan kerap kita dengar di
berita. Cerita tentang perempuan yang berusaha melarikan diri dari lingkaran
perdagangan manusia. Ia yang sebenarnya menolak untuk menjajakan diri, namun
tidak punya pilihan lain karena dipaksa, disiksa, dan diancam. Cerita ini
diangkat dari kacamata Jasmine. Perempuan yang mengalami trauma dan berusaha
melarikan diri dari induk semangnya karena sebenarnya tidak ingin menjalani
pekerjaan sebagai pelacur.
Dari tokoh Dean Pramudya, penulis menyuguhkan tentang
bagaimana hubungan sebuah keluarga bisa membentuk dan mempengaruhi pilihan-pilihan
seseorang. Dean Pramudya yang bisa memiliki segala yang ia inginkan hanya
dengan meminta uang pada orang tua malah memilih jalan memutar. Ia menjadi
bagian sindikat pembobol bank. Tidak hanya menjadi bagiannya, Dean bahkan
menjadi salah satu otak pengendali kelompok cyber
crime
.
Dua kejadian ini berkait saat Dean dan Jasmine
bertemu dan memiliki ketertarikan satu sama lain. Sayangnya kehidupan menguji
mereka. Jasmine dengan pelariannya yang tanpa henti, dan Dean dengan
persembunyiannya dari kejaran aparat hukum. Bedanya, Dean sebenarnya memiliki
pilihan untuk berhenti, sedangkan Jasmine tidak punya pilihan namun berusaha
membuat peluang untuk dirinya sendiri. Tuhan kemudian mempertemukan Jasmine dengan
Yayasan Pelita dan Ibu Rowena. Di titik ini semua kisah itu tersimpul jadi
satu.
***
Tulisan Riawani Elyta ini sarat dengan deskripsi.
Namun diksinya tidak klise. Ia juga menyuguhkan cerita dengan apik tanpa
terkesan menggurui. Ia mengetengahkan beberapa kritikan terhadap pemahaman
masyarakat tentang suatu hal namun jauh dari kesan mendikte. Ia mengetengahkan
cerita tentang orang-orang seperti kakak Luthfi dan Malika yang menerima stigma
buruk karena mengidap HIV/AIDS padahal mereka adalah orang yang sebelumnya
hidup dengan normal, namun sayangnya mendapatkan pasangan yang menderita
penyakit tersebut.
Ia juga mengetengahkan tentang kasus orang tua yang
abai terhadap anaknya. Kasus remaja putri yang diperdaya hingga akhirnya
menjadi korban human traficiking. Dan
satu kasus yang cukup miris namun nyata yang disuguhkan dalam buku ini, yaitu
tentang orang tua yang menjual anaknya sendiri menjadi pelacur. Naudzubillah (>_<)
Meski  pun
materi yang diceritakan di dalam novel ini sangat padat dan sebenarnya cukup
berat, namun plot ceritanya membuat pembaca tertarik untuk terus membaca. Ingin
tahu akan seperti apa cerita berikut. Dan mengikut masa pelarian Jasmine dan
kejar-kejaran Dean sebagai pelaku kejahatan pun memberi sensasi ketegangan
tersendiri dan terus bertanya, “selanjutnya bagaimana?”
Saya cukup suka dengan novel ini. Thanks untuk
padatnya informasi yang dibagi dalam buku ini. Semoga ini membuka mata lebih
banyak orang tentang semua hal tersebut dan membuat kita bisa lebih bijak
menyikapinya.

“Aku yakin, Allah telah menyiapkan sesuatu untukku di akhir perjalanan nanti. Sesuatu yang  ia berikan atas nama kasih sayang pada hamba-hamba-Nya, meski sang hamba tak lagi punya harga dan derajat di mata manusia ….” (hal. 315)