Judul                     : Jodoh  Terakhir
Penulis                 : Netta
Virgiantini
Penerbit              : Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan               : kedua,
Oktober 2010
Tebal                     : 191
halaman
Setiap tempat
punya adat dan nilai sosial masyrakat yang agak berbeda dengan yang lainnya.
Meskipun nilai-nilai universal tentag kebaikan dan kejahatan tetaplah sama.
Namun ada nilai-nilai yang secara kasat mata cukup berbeda. Salah satunya
terkait tentang hak wanita dan hal-hal lainnya tentang nilai seorang wanita di
masyarakat.
Buku ini mencoba
menyoroti tentang pemahaman masyarakat tentang wanita yang belum menikah di
usia 40 tahun. Dalam masyarakat Indonesia salah satu ukuran kesuksesannya
adalah sudah menikah dan bahkan kalau bisa menikah pria yang mapan secara
ekonomi. Meskipun era emansipasi sudah lama dialami namun dalam hal nilai-nilai
masyarakat hal seperti ini belum terhapus. Inilah yang coba diangkat penulisnya
dengan gaya yang ringan.

Dikisahkan tokoh
utamanya, Neyna, diberi ultimatum oleh orang tuanya untuk menikah dalam 2
minggu. Jika ia tidak mau, maka ia harus angkat kaki dari rumah orang tuanya.
Nah setelah ultimatum ini mendadak semua hal menjadi rumit. Apalagi ia bahkan
tidak tahu siapa pria yang telah datang melamarnya langsung ke kedua orang
tuanya tanpa sepengetahuannya. Bahkan kenapa orang tuanya sampai menerima
lamaran itu dan memaksakan pernikahan ini ke Neyna.
Bukan hal baru
baginya saat orang tuanya mencoba mencomblanginya dengan pria. Hal ini sudah
beberapa kali dilakukan oleh orang tuanya. Namun biasanya pada akhirnya mereka
tetap menyerahkan keputusan tersebut ke Neyna. Lanta kali ini kenapa berbeda?
Didera
kebingungan, muncul pula masalah baru. Masa lalu yang menyisakan trauma bagi
Neyna akibat hubungan yang pernah cukup lama dijalaninya kandas di tengah jalan
kembali menghantuinya. Masih terbetik ingin tuk bertemu pria itu. Selain itu di
saat yang sama dia dituduh menggoda suami orang yang dulunya memang mantan
pacarnya.
Jika diceritakan
seperti diatas maka kesan yang nampak adalah bahwa novel ini cukup “berat”
untuk “dikonsumsi”. Namun harus saya akui bahwa penulis berhasil mengubah
stigma ini. Banyak penuturan yangg terkesan konyol dan kocak dalam buku ini.
Percakapannya bisa membuat kita senyum dan ngakak sambil geleng-geleng kepala.
Namun di saat tertentu bisa saja membuat kita sedikit merenung tentang masa
lalu kita sendiri. Tentang mengobati luka hati dan tentang menentukan pilihan.
Ah, nover ini
menarik untuk menjadi pengisi waktu luang. Coba dan nikmatilah..
Untuk Quote?
Maaf kali ini nggak ada. Sudah cukup lama berlalu sejak saya membaca buku ini.
Dan sedang tidak ada waktu membaca ulangnya. Silahkan berbagi Quote dari buku
ini kalau sudah baca. He..he.. (^_^)v