Penulis: Haryati Soebadio & Saparinah Sadli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1990
Jumlah hal.: 130 halaman
ISBN: 979-511-095-0
Buku ini ditulis
oleh dua orang perempuan Indonesia. Yang bahkan keduanya punya latar belakang
yang masih dekat dengan Kartini yakni dari golongan priyayi Jawa. Maka
penyelaman kedua penulis dalam ranah pemikiran Kartini mungkin akan lebih baik
karena dapat mengerti kondisi di lingkungan sekitar Kartini.
Buku ini membuka
pembahasannya dengan menjelaskan proses sosial politik Eropa Barat di masa
Kartini. Eropa Barat digambarkan sebagai negeri para penjajah yang situasi
politiknya akan ikut mempengaruhi situasi politik di Indonesia sebagai wilayah
jajahan mereka. Diceritakan secara singkat tentang perkembangan ethische politiek atau politik etis.
Salah satu penafsiran tentang politik etis yang disebutkan di sini adalah bahwa
politik tersebut bermakna “untuk membina dan membimbing penduduk pribumi ke
arah kemajuan supaya bisa mencapai kemerdekaan menurut pola Barat dengan
penjajah sebagai pemimpin”. Ada pula fakta menarik yang disebutkan dalam buku
ini mengenai politik etis yaitu seperti yang tertulis di halaman 12.
“Suatu hal yang menarik perhatian dalam
hubungan kita di sini, ialah bahwa pencetus ide yang berkembang menjadi
ethische
politiek adalah Van Deventer, yang
akibatnya sering dinamakan ‘Bapak Politik Etis’. Dan yang kemudian memberi
namanya kepada jenis pendidikan wanita pribumi Indonesia, yaitu Van
Deventerschool.”
Setelah membahas
tentang kondisi politik di luar lingkungan Kartini, penulis kemudian
menjabarkan latar belakang keluarga Kartini. Kartini berasal dari

keluarga yang
memiliki pola pikir yang lebih modern dari keluarga Jawa lainnya di zamannya.
Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro, mengusahakan pendidikan Belanda
pada keempat anak laki-lakinya. Karena saat itu belum ada sekolah Belanda yang
bisa dimasuki oleh orang pribumi. Beliau menggaji guru Belanda untuk mengajari
anak-anaknya di rumah.  Ayah Kartini
kemudian melakukan hal serupa. Ia bahkan mengambil sikap yang lebih berani. Ia
menyekolahkan anak-anak perempuannya di sekolah Belanda. Padahal saat itu hanya
anak laki-lakilah yang diizinkan mengenyam pendidikan di sekolah.

Namun sayangnya
sang Ayah tetap tidak mampu melawan adat yang menuntut agar Kartini dipingit
saat berusia 12 tahun. Kartini pun berhenti dari sekolah.
Namun ternyata meski
tidak bisa mengenyam pendidikan formal, Kartini mendapat kemudahan dalam
mengakses buku-buku dan majalah-majalah Belanda yang ternyata memperluas
wawasan Kartini.
Selain itu,
meski menjalani masa pingitan, Kartini masih tetap diizinkan bertemu dengan
orang-orang Belanda yang datang bertamu ke rumahnya. Ini tetap memberi
pengetahuan pada Kartini tentang apa yang terjadi di luar. Kartini pun di waktu
yang sama semakin marah pada kondisi yang mengungkungnya. Surat-suratnya
menceritakan tentang kekecewaan atas perlakuan terhadap perempuan yang
dianggapnya tidak memberi tempat bagi perempuan untuk mengambil peran dalam
masyarakat. Perempuan juga dibatasi hak-haknya atas pilihan hidupnya sendiri.
Semua itu semakin membuat ia mengagumi budaya Eropa yang memberi kesempatan
lebih besar bagi perempuan untuk berkiprah.
Buku ini juga
mengangkat beberapa sikap positif yang dimiliki Kartini yakni antara lain yaitu
kepekaannya, keteguhan dan kecerdasannya. Ia peka melihat kondisi sekitarnya,
ia teguh dalam memperjuangkan sikapnya, dan cerdas dalam bernalar dan menulis.
Bagi Kartini pena adalah senjatanya untuk mewujudkan apa yang diinginkannya,
yaitu perempuan bisa memiliki hak untuk memperoleh pendidikan seperti layaknya
kaum pria. Keteguhan hatinya juga menjadi senjatanya untuk menentang
adat-istiadat di zamannya yang tidak adil terkait peran seksual. Kartini teguh
menghadapi sikap antipati keluarganya atas sikapnya yang dianggap tidak pantas
karena memiliki pandangan-pandangan idealnya sendiri.
“Kartini memang seorang anak muda yang
banyak membaca, merenungkan bacaannya, dan kemudian juga gemar menungkan pikiran
dan perasaannya dalam tulisan”
(hal. 67). Ini adalah salah satu hal yang
perlu diteladani dari Kartini. Bukan sekedar mengagumi buah pikiran beliau dan
mengakui kepahlawanannya saja.
Buku ini juga
mengungkapkan tentang pendapat penulis dan sejumlah orang tentang pikiran
Kartini yang didasarkan pada surat-suratnya. Surat-surat ini juga
memperlihatkan secara implisit bahwa Kartini mengalami proses pendewasaan dalam
berfikir. Surat-surat di awal dengan surat-surat yang ia tulis beberapa waktu
sebelum menikah menampilkan pertimbangan Kartini yang kian matang. Ia tidak
lagi sekedar meyakini idealismenya tapi juga berfikir tentang kondisi
sekitarnya. Ia pun kemudian memutuskan untuk menikah karena berpikir bahwa
banyak yang bisa ia lakukan setelah menikah dibandingkan saat ia masih melajang
dan dianggap aib oleh keluarga karena tidak kunjung menikah.
Buku ini memang
berusaha menunjukkan peranan Kartini yang membuatnya layak sebagai pahlawan
bagi emansipasi perempuan. Mengenai hak perempuan untuk memperoleh pendidikan
dan haknya untuk membuat pilihan dalam hidupnya. Namun sebenarnya kritik
Kartini tidak hanya tentang peran perempuan saja. Ia juga mengkritisi tentang
penjajahan dan sikap para pejabat kolonial. Buku  ini bisa menjadi acuan untuk menilai
kepahlawanan Kartini. Meskipun buku ini juga menekankan bahwa Kartini bukanlah superwoman.
Hm..kalau saya
harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai
8,5. Isinya sangat bermanfaat, informatif namun dengan bahasa yang lebih mudah
dipahami meskipun bermuatan sejarah. (^_^)v