“Masa
lalu bisa berdampak buruk bagi dua orang yang menyimpan cinta dengan ragu.”
(Hal. 54)
http://d.gr-assets.com/books/1426961081l/25189240.jpg 
Penulis:
17 Penulis Gramedia Writing Project Batch 1
Editor:
Nina Andiana, Anastasia Aemilia, Hetih Rusli
Ilustrator:
Orkha Creative
Penerbit:
Gramedia Pusaka Utama
Cetakan:
Pertama, 2015
Jumlah
hal.: 272 halaman
ISBN:
978-602-03-1510-2
Dalam
Kata Kota Kita, kita dibawa singgah dari Central Park di New York, purnama di
Ankara, kemacetan di Jakarta hingga indahnya Pantai Ora di Ambon. Dan seusai penjelajahan,
kita dibuat tersenyum dan menyadari betapa kayanya kita sebagai manusia.
Kota-kota
dalam kumpulan cerpen ini memberikan suaranya, menguarkan aroma, dan
menunjukkan pemandangan yang ditulis dengan beragam tema, ditulis dengan beraneka
gaya, mulai dari yang lincah ala MetroPop hingga mencekam ala novel horor.
Tujuh
belas cerpen mengenai kota-kota yang berbeda ini menyajikan senyap dan riuh,
tawa dan tangis, cinta dan kehilangan… Dan pada akhirnya membawa kita menuju
kota yang menjadi tujuan pulang.
Para
penulis adalah penulis yang terpilih dari Gramedia Writing Project batch 1.
***
Mendapatkan
buku ini dari buntelan Blogger Buku Indonesia (BBI) bikin saya girang. Beberapa
waktu sebelumnya saya sempat tergoda untuk membelinya di toko buku. Sayangnya
isi dompet kurang memadai, jadiah saya hanya menelan ludah. Alhamdulillah
ternyata memang berjodoh.
Tapi
mau sungkem dulu nih ke Om Dion dan Om Raafi untuk keterlambatan review ini.
Semoga tetap bisa ketiban rezeki dapat buntelan BBI (lagi!).
Ok,
langsung aja nih ngobrolin buku
dengan sampul yang manis. Saya suka dengan desian sampulnya yang manis. Berupa
denah jalan sebuah kota. Warna yang digunakan pun warna-warna yang manis.
Sampulnya memang bikin naksir.
Kemudian
saat memperhatikan lebih jauh, saya sadar ternyata ada 17 cerpen dalam buku
ini. Saya kemudian bertanya-tanya akan sebagus apa? Apa akan membosankan? 17
cerita itu cukup banyak untuk sebuah kumpulan cerita. Tapi ternyata pemikiran
saya salah.
17
cerita dengan 17 penulis berbeda ternyata membuat buku ini jadi kaya warna. Sebab
ada 17 jenis gaya penulisan yang bisa dinikmati pembaca. Beragam genre dan tema
cerita. Dengan satu tema umum yang sama yakni mengambil setting sebuah kota.
Ok,
kalau biasanya saya mereview semua cerita satu persatu, kali ini cukup beberapa
saja ya.  Check it out!

Cerpen
pertama yang ingin saya ulas yakni Berlari
ke Pulau Dewata
karya Cindy Pricilla.
Mengambil setting Bali, kisah cinta Thira yang diceritakan sepenggal. Tentang
patah hatinya yang mendorongnya menginjakkan kaki ke Bali untuk menemukan
ketenangan. Konfliknya sudah menarik. Patah hati pada Evan, memiliki Diana
sebagai sahabat dan kemunculan Made yang menyukai Thiara. Sayangnya alurnya
terlalu cepat. Sehingga kesannya emosi Thiara berganti terlalu cepat. Terutama
dibagian yang mengisahkan pertemuannya dengan Made. Bisa jadi karena ini adalah
sebuah cerpen. Tapi saya suka dengan caranya menutup cerita.
Cerpen
berikutnya yang menarik adalah Let The
Good Times Roll!
Mengambil kisah di New Orleans dan setting suasana saat
Mardi Gras (pesta karnaval sebelum masa prapaskah dimulai) tema cerita yang
diusung juga menarik yakni tentang perasaan seorang remaja pada kekasih
ayahnya. Ketidaksukaan ini berujung pada kebodohan yang berujung petaka hanya
demi menarik perhatian ayahnya. Lucunya, remaja cewek ini, Maddie, senang
menghubungkan segala hal dengan tokoh-tokoh dalam film The Avengers.
Cerita
lainnya yang menarik adalah Frau Troffea
karya Lily Marlina. Cerita ini
menggunakan tema yang menarik yaitu tentang kemampuan Clairvoyant. Mengambil setting di kota Strasbourg, kemampuan yang
unik tersebut menjadi kunci seluruh cerita. Petualangan Elisa untuk
menghilangkan  kutukan sebuah lukisan
bergambar perempuan yang menari di atas lautan darahnya sendiri menjadi awal
mulanya. Ia pun terbang ke kota Starsbourg dan terlempar kembali ke masa 1518
saat epidemi menari menyebar di kota tersebut. Kutukan lukisan tersebut membuat
Elisa mengalami hal yang sama. Ia menjadi aneh. Ia jadi menari tanpa henti
persis dengan epidemi di masa tersebut.
Dan
tahukah, Readers? Saat saya mencoba menggoogling tentang hal ini, ternyata
kedua fakta unik itu benar-benar ada. Keren ya? Ide dasar ceritanya benar-benar
menarik.
***
 
Ok,
selain ketiga cerita di atas ada 14 lagi cerita lainnya. Semua dengan setting
kota yang berbeda kecuali Jakarta yang menjadi setting bagi 3  cerita. Pilihan kotanya pun bermacam-macam
ada dalam negeri dan luar negeri.
Untuk
tema? Sangat beragam. Ada cerita cinta, detektif, parapsikologi, psikologi,
drama keuarga, hingga yang terkait dengan masalah sosial di masyarakat. Sudut
pandang yang digunakan beragam dan semuanya pas. 
Hm,
buku ini seperti menu makanan di sebuah restoran. Benar-benar beragam. Ini membuat
pembaca bisa mencicipi berbagai jenis cerita dalam satu buku.
“Akar
segala kejahatan adalah cinta akan uang.” (Hal. 105)
***
Puisi yang terinspirasi
oleh Kata Kota Kita
https://igcdn-photos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/11093113_434313783403570_1690397071_n.jpg
posted on Instagram
Menjejak,
Menghidu udaranya
Merekam tiap sudutnya
Adalah godaan dalam
setiap kisah di sebuah sudut kota
Tidak melulu tentang
hati yang luka
Bisa jadi ia tentang
amarah yang memerah
Atau kisah tentang
petaka di masa lalu
Dan sungguh,
Jika setiap kerikil
mampu bercerita
Awan yang berarak mampu
bertutur
Maka lautan harus kau
jadikan tinta
Agar semua kisah bisa
kau buat menjelma kata
Pamboang, 24April 2015
***
“Cinta
itu kayak tanaman, Re, semakin kamu pupuk akan makin subur. Tapi coba bayangin
kalau tanaman yang kamu itu tanaman yang salah. Dia memang akan tetap tumbuh,
tapi akan jadi pohon yang nggak kamu harapkan.” (Hal. 182)