“…
koki sejati, yaitu orang yang dapat membaca orang dan rempah-rempah, dapat
mengantisipasi reaksi orang sebelum mereka kali pertama mencicipi hidangan.”
(hal.11)

Judul Asli: The School of
Essential Ingredients
Penulis: Erica Bauermeister
Penerjemah: Word++ Translation Service
Penyunting: Otaviani
Desain Sampul: Tyo
Ilustrasi isi: Wisnu
Pemeriksa Aksara: Novianita, Morien Gloree
Penata aksara: Bowo
Penerbit: Bentang
Cetakan: 2009
Jumlah hal.: x +234 halaman
ISBN: 978-979-1227-74-2
Setiap
makanan memiliki keajaiban. Rempah dan bahan makanan bahkan bisa menuturkan
kata-kata. Begitu yang diyakini Lilian kecil. Ia masih ingat keajaiban yang
muncul di rumahnya berkat segelas susu bercampur kulit jeruk dan bermacam jenis
rempah istimewa. Setelah mereguknya, sang ibu yang telah sekian lama tenggelam
dalam kesedihan kembali mengingat hidup yang terlanjut ia abaikan.
Bertahun-tahun
kemudian keajaiban itu dirasakan oleh seluruh siswa dalam kelas memasak yang
diadakan Lilian setiap Senin mala. Satu per satu dari mereka diubah oleh aroma,
cita rasa, dan tekstur makanan yang mereka masak, termasuk kue dengan krim
putih yang mencetuskan pikiran sedih mengenai betapa rapuhnya sebuah pernikahan
dan saus tomat pedas yang tampaknya menggairahkan sebuah cinta, tetapi justru
mengakhiri cinta yang lain.
Perlahan,
rahasia memasak Lilian menembus keluar dapur dan menyebarkan harapan bagi hati
yang berduka dan terluka. Seperti lezatnya hidangan yang penuh keajaiban,
begitu pula kehidupan mereka yang menjadi lebih baik untuk dinikmati.
“sebuah papan aroma, rasa, dan pertemanan
dalam dunia kuliner”
-Seattle Post-Intelligencer
***
“… cinta adalah sesuatu yang tidak
membutuhkan kartu ucapan agar kalian mengingatnya.” (hal 189-190)
Buku ini adalah
sebuah buku yang bercerita tentang keindahan dalam dunia kuliner. Bagaimana
racikan dan makanan bisa merepresentasikan kehidupan dan bahkan mempengaruhi
kehidupan manusia. Makanan tidak lagi hanya bernilai sebagai pengisi perut dan
penambah tenaga semata.
Buku ini
menceritakan tentang kehidupan Lilian dan kursus memasaknya serta murid-murid
yang ada di kelasnya. Lilian kecil yang “trauma” dengan buku karena melihat
ibunya tenggelam dalam rangkaian kata, menemukan bahwa ia bisa merenggut
perhatian ibunya melalui sebuah masakan. Mencampur minuman ibunya dengan sebuah
resep “ajaib” yang berasal dari rempah dan kulit jeruk yang ia masak dengan
penuh cinta dan harap.
Setelah itu,
cerita maju ke saat Lilian telah memiliki restoran sendiri dan membuka kursus
memasak setiap Senin malam di dapur restorannya. Di sini, cerita berpindah dari
satu kehidupan ke kehidupan lain. Masing cerita mengambil sepotong kehidupan
murid Lilian dan pengaruh kursus memasak tersebut pada hidup mereka.

Ada Claire yang
mulai meragukan eksistensinya sendiri sebagai sosok yang memiliki sebuah
identitas sebagai individu mandiri. Ia lebih dikenal sebagai istri James, atau
ibu dari anak-anaknya. Ia bahkan mulai lupa bagaimana rasanya menjadi seorang
pribadi yang kebahagiaan dan kehidupannya tidak tergantung dari suami atau
anak-anaknya. Ini membuatnya merasa bingung dalam bersosialisasi dengan orang
lain. Ia pun mengikuti kursus memasak Lilian, dan pada moment itu ia menemukan
jawabannya melalui proses memasak kepiting.
Cerita berpindah
ke kehidupan Carl. Carl mengikuti kursus memasak Lilian bersama dengan
istrinya, Helen. Menu kue perkawinan putih, membuat Carl bernostalgia pada
kehidupan pernikahannya yang indah namun berbumbu luka setelah mengetahui dari
mulut Helen sendiri, bahwa istri yang sangat ia cintai telah menjalin affair dengan laki-laki lain. Pada
akhirnya ia menyadari bahwa resep pernikahan yang langgeng dan bahagia itu
tidak ada.
Setelah itu,
cerita berpindah ke sisi Antonia. Ia bekerja sebagai dekorator dapur. Ia
menghadapi sebuah dilema saat melihat sebuah dapur tua yang membuatnya jatuh
cinta namun oleh pemiliknya yang baru ingin diubah menjadi dapur yang modern
dan minimalis. Antonia tidak tega menghancurkan dapur yang menggambarkan
kehangatan sebuah keluarga besar yang entah sudah menjadi bagian manis kenangan
dari berapa generasi. Namun saat bersama-sama menyiapkan menu Thanksgiving di
kelas memasak Lilian, ia pun menemukan cara untuk mempengaruhi pemilik tersebut
agar mempertahankan dapur yang indah itu.
Cerita berlanjut
ke kehidupan Tom, pria yang selalu berwajah muram di kelas memasak Lilian. Ia
kehilangan cinta sejatinya. Ini membuatnya berduka berkepanjangan. Ia bergabung
ke kelas Lilian dan akhirnya berusaha membuat dirinya bisa menerima
kehilangannya tersebut.  Memasak spagheti
dan saus pasta membuatnya belajar menghadapi masa lalunya bersama Charlie,
istri yang dicintainya dengan sepenuh hati, yang sangat piawai memasak dan
mencintai memasak.
Chloe, gadis
paling muda di kelas memasak Lilian, mendapati dirinya adalah seorang penggugup
dan kikuk. Maka wajar jika ia sering menjatuhkan barang atau memecahkan piring
saat bekerja sebagai pelayan di restoran. Ia memiliki seorang kekasih , Jake,
seorang koki di sebuah restoran tempat ia sempat bekerja. Namun ternyata
kehidupannya tidak membaik. Hingga akhirnya ia pun belajar membuat saus tomat
di kelas memasak Lilian. Ia kemudian menyadari potensi dirinya dan membuatnya
berani melangkah dan mengambil keputusan.
Setelah itu, ada
Isabelle perempuan setengah baya yang mulai mengabur ingatannya. Kenangan-kenangannya
bercampur baur. Antara kenangan 10 tahun yang lalu dengan dua tahun lalu
ataupun kenangan kemarin. Di tengah itu semua dia harus mengobati luka hatinya
atas pengkhianatan suaminya. Dan dia memperoleh ketenangan di restoran dan
kelas memasak Lilian.
Selain cerita
dari sisi Carl, ada pula cerita tentang affair
yang dilakukan Helen dari sisinya sendiri. Bagaimana ia akhirnya menyadari
bahwa ia sangat mencintai Carl namun sudah melukai pria itu. Ini adalah proses
yang panjang bagi seorang Helen.
Dan terakhir,
kisah ditutup dengan usaha Ian, salah seorang murid di kelas memasak Lilian
yang akhirnya menemukan kekosongan hidupnya dan jatuh cinta pada Antonia. Ia pun
berjuang mendapatkan hati Antonia dengan masakan. Berhasilkah ia?
Apakah yang
membuat kelas memasak menjadi sesuatu yang spesial dan memiiki makna yang lebih
dalam dari sekedar berkutat dengan bumbu dapur dan menghasilkan makanan yang
enak?
“Kalau kalian jujur dengan apa yang kalian
kerjakan, kurasa perhatian dan rasa hormat akan mudah kalian dapatkan.” (hal.
45)
***
“Manusia belajar Rory. Aku benci kalau
memikirkan ada usia yang membuat kita harus berhenti.” (hal. 175)
Maaf untuk
sinopsis yang kepanjangan. Saya tidak ingin melewatkan hal-hal yang penting
dari cerita-cerita dalam buku ini. Bagi anda ini spoiler? Saya yakin bukan. Karena
untuk menikmati isi bukunya pembaca harus benar-benar membaca langsung bukunya.
Selama membaca
novel ini saya merasa bahwa penulis membuat kegiatan memasak seperti sebuah
sihir. Ya, bagaimana memilih wangi yang tepat untuk memperbaiki suasana atau
mood seseorang , serta tentang bagaimana proses sebuah makanan dari memilih
bahan hingga sampai di meja untuk dihidangkan memiliki makna yang dalam
berkaitan dengan kehidupan.
Saya yang masih
sangat asing dengan dunia kuliner apalagi yang profesional (mengingat saya anak
kostan yang lebih familiar dengan menu sederhana dan praktis seperti sup ayam,
tumis kangkung, ayam goreng, dll) cukup kesulitan menangkap semua proses
memasaknya. Namun membaca kata-kata dalam buku ini membuat saya merasa bahwa
bahwa kegiatan memasak itu ternyata indah dan penuh sihir ya. (^_^)
Saya suka dengan
buku ini. Dan menariknya proses penerjemahan buku ini dilakukan menggunakan “Word++
Translation Service”. Jadi pujian perlu diberikan pada editor yang membuat buku
ini tidak terlalu sulit dicerna.
Hanya satu yang
ingin saya protes dari buku, kenapa judulnya harus “Kelas Memasak Lilian”?
Kenapa tidak judul aslinya saja? Karena kelas memasak Lilian hanyalah media dan
bukan inti dari cerita. (>_<)
Dengan
mempertibangkan semua ini , saya memilih menyematkan 4 bintang untuk buku ini.
Cerita yang menarik, cara bercerita yang mengalir dan indah, cover yang manis,
dan terjemahan yang cukup baik membuatnya layak mendapatkan 4 bintang itu.
(^_^)
***
Quote
“Dalam
dunia Lilian, buku adalah sampul dan kata-kata adalah suara dan gerakan, bukan
bentuk” (hal. 7)
“… reaksi orang pada rempah-rempah
tampaknya sama dengan reaksi mereka pada orang lain. Mereka dapat bersikap
santai dengan sendirinya kepada sebagain orang atau sebaliknya gemetar
sampai-sampai perasaannya membeku ketika bertemu orang lain.” (hal. 11)
“… tidak semua ranting dalam sebuah sarang
itu lurus.” (hal. 73)
“Pernikahan adalah sebuah lompatan
kepercayaan. Kalian adalah jaring pengaman masing-masing.” (hal. 74)
“… hidup itu indah. Sebagian orang hanya
mengingatkan dirimu pada hal itu daripada orang lain.” (hal. 157)
“… ingatan itu diciptakan, baik seorang
merenungkannya atau tidak.” (hal. 163)
***
“Apa
yang kau lakukan untuk membuatmu bahagia? Cuma kamu.” (hal. 49)
Kalimat
ini punya makna yang dalam. Dijelaskan lebih lanjut dalam kalimat berikut:

Agar dengan sengaja melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia, kau harus
mengenal dirimu sendiri.” (hal. 50)
 ***
 Review ini saya sertakan dalam RC: