Menua dan menjamah waktu bersama
Tak terlupa ketika menjadikan tanah sebagai
sumber tawa
Menapaki pesisir seraya tanpa alas
Berkejaran dengan ombak yang terus menggoda
pantai datang dan pergi

Masih terbayang kesenangan di kebun yang
rimbun
Tak ada bunyi robot
Yang terdengar teriakan “aduh” ketika
peluru kerta
s
mengenai musuh
Ketika tim terkuat menjahili yang kalah
Memaksa mereka meminjamkan pundak tuk
ditunggangi keliling kebun,
Bukti kemenangan
Kini, tak ada lagi permainan yang mengotori
tangan
Seolah noda dibaju menjadi tabu
Gelak tawa tak bisa mengandung bulir
keringat
Warna-warni layar menjadi pemikat utama
Kebisingan music dan tarian dengan wajah
putih dan terlalu indah menyibukkan mereka
Kanak-kanak dan remaja kini tak mampu lagi
terbeda nyata
“Ah, mereka terlalu cepat dewasa” pikirku
Lantas tak mampu terbayangkan olehku,
Permainan apa yang tersisa untuk
pangeran-pangeran kecilku kelak?
Bidadari-bidadari mungilku akankah tertawa dengan permainan tebak kata?
Adakah kesenangan kan mereka temukan dari
batu-batu kecil?
Adakah mereka kan mencintai bunga dengan
tangan mereka?
Ataukah mereka akan menjadi generasi tak
perasa?

Bandung,
7 January 2013
@99ers
coffee BIP, Bandung.