“Mudah
rasanya berpikir akan tetap mencintai seseorang ketika suatu kejadian hanya
berupa kemungkinan. Namun, saat kemungkinan itu menjadi kenyataan …. Tidak.
Semuanya sama sekali tidak semudah yang aku bayangkan.” (Hal. 110)

Penulis: P.S. Putri
Desain Sampul: P.S.
Putri
Penerbit: GrayScale
Publishing
Cetakan: 2014
Diterbitkan melalui www.nulisbuku.com
“Tokoh
utama pria memang selalu digambarkan dengan sempurna di layar kaca rakyat
Indonesia. Namun, aku tidak pernah tertarik dengan tokoh utama. Bagiku,
kesempurnaan itu terlalu berlebihan. Terlalu menyesakkan. Dalam beberapa
cerita, kesempurnaan itu juga bisa membuat sang tokoh utama menjadi terlalu
dominan. Tokoh utama cenderung merasa bahwa apapun yang diinginkannya, pasti
akan ia dapatkan. Egois, ya? Makanya, aku tidak suka. Setiap kali menonton
sebuah pertunjukan teater atau film, aku selalu lebih tertarik pada side
character–pemeran pembantu….”
Gadis
Aretha adalah mahasiswi baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Wajahnya
biasa saja, keluarganya tidak kaya, dan kepribadiannya bisa dikatakan buruk. Anehnya,
Hari Wijaya, sang ketua BEM yang menjadi idola banyak orang, tetap jatuh hati
kepadanya. Sementara itu, Gadis justru tertarik kepada Seno, pemuda pendiam
dari fakultas sebelah yang setiap hari kerjanya hanya menyendiri dan membaca
buku saja. Perasaan Gadis tetap tidak berubah meskipun orang lain mengatakan
bahwa Seno aneh atau memiliki tampang seperti “bapak-bapak”. Namun, ketika
sebuah rahasia besar mulai terkuak, akan mampukah Gadis bertahan mencintai
Seno?
***

“Aku
tahu sebuah buku yang menarik bisa membuat beberapa orang lupa akan dunia nyata
di sekelilingnya.” (Hal. 11)

Novel
ini bercerita tentang tokoh utama bernama Gadis yang kuliah di jurusan
komunikasi. Karakternya yang perfeksionis dan cenderung tertutup membuatnya kesulitan
berbaur di kampus. Karakter Gadis ini mewakili mahasiswa yang kerjanya kuliah
pulang – kuliah pulang (kupu-kupu) kali, ya.
Ha..ha..
Hingga
suatu hari, tanpa sengaja ia menemukan sebuah taman yang indah. Ia menyebutnya
taman rahasia. Taman ini ia temukan tanpa sengaja saat menghabiskan waktu
dengan berjalan-jalan di sekitar gedung fakultasnya. Taman ini indah dan sepi. Sangat
jarang orang melintasinya. Namun ia selalu menemukan satu sosok itu di sana. Duduk
sendiri dan sibuk membaca buku yang dipegangnya.
Lelaki
itu bernama Seno, mahasiswa fakultas psikologi. Mereka jarang bertegur sapa.
Hanya saling berbagi ruang di taman rahasia itu. Seno sibuk dengan bukunya,
Gadis sibuk dengan pikirannya yang mengelana dan musik yang mengalun dari headphone-nya. Namun kebersamaan yang
lebih sering diisi sunyi ini memberi rasa nyaman dan aman bagi Gadis. Hingga tanpa
ia sadari perasaan itu tumbuh. Ia mencintai Seno.
Perasaan
ini kemudian diuji oleh kenyataan yang ia ketahui belakangan. Kenyataan bahwa
Seno berbeda. Bahwa laki-laki itu bisa saja berbahaya baginya. Dan akhirnya
kita sebagai pembaca pun dibuat bertanya-tanya, yang manakah yang merupakan
kebenaran?

“Cinta,
kan, bisa datang dari mana saja, Dis.” (Hal. 24)

***

“Manusia
itu hanya melihat apa yang ingin dia lihat. Mendengar apa yang ingin dia
dengarkan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mempercayai sesuatu kalau dia
tidak menginginkannya. Jadi ….” (Hal. 60)

Saat mendapatkan novel
ini dari seorang teman, saya jatuh suka dengan cover-nya. Ternyata, gambar yang ada di sampul novel ini adalah
gambar sebuah taman yang nyata yang menjadi inspirasi penulis dalam menciptakan
“Taman Rahasia” miliki Gadis dan Seno. Indah ya
🙂

Novel
ini memiliki konflik dan premis yang simple. Namun informasi yang berusaha
disampaikan penulis cukup “berat”. Informasi tentang gangguan mental khususnya
skizofrenia menjadi salah satu bahasan yang cukup banyak diangkat dan memegang
kunci penting dari keseluruhan cerita. Selain itu penekanan tentang perbedaan
profesi psikolog dan psikiater pun menjadi informasi yang menarik mengingat di
Indonesia kedua profesi ini masih sering disalahpahami.
Sedikit
masukan saya untuk penulis adalah kurangi telling
dan perbanyak showing. Munculkan deskripsi
yang mampu membuat pembaca menangkap gambaran karakter tokoh tanpa disebutkan. Untuk
menggambarkan tokoh yang baik hati, kenapa tidak buat satu adegan yang bisa
menggambarkan secara telak kebaikan hati tokoh yang dimaksud?
Selain
itu, sebarkan informasi tentang tokoh di seluruh cerita. Jangan merangkumnya
dalam satu atau dua paragraf saja.
Sebenarnya
ide cerita sudah bagus. Tinggal eksekusinya yang dimatangkan. Akan lebih
menarik jika Gadis dan Seno mendapat porsi yang sama dalam bercerita melalui
sudut pandang orang pertama. Ini biar semakin membuat pembaca penasaran tentang
kebenaran cerita. Apakah cerita dari sisi Seno atau Gadis yang merupakan
kenyataan.
Selain
itu, penempatan penjelasan tentang gangguan psikologinya jangan dijabarkan
panjang lebar dalam satu kesempatan. Melainkan sebarkan. Ini agar informasi
tersebut tidak terkesan seperti informasi yang ditempel begitu saja yang ketika
dihapus dari cerita tidak akan memengaruhi keseluruh cerita novel.
Nah,
sekian ulasan saya untuk novel ini. Novel ini sudah menjadi permulaan yang baik
untuk sebuah karya perdana. Tinggal diasah lebih jauh lagi.
Oiya,
tambahan komentar. Saya setuju dengan opini tokoh Seno tentang rokok yang ada
di halaman 77 meskipun pemikiran saya tentang hal itu tidak terlalu mendalam
dan ekstrim seperti Seno. He..he..

“Ketika
kita mencintai seseorang, kita biasanya menginginkan yang terbaik untuk
dirinya. Kita juga tidak ingin dia menderita atau disakiti oleh orang lain.”
(Hal. 95)