Hari ini, jam 13.00 selepas
kuliah saya segera melangkahkan kaki menuju gedung Graha Kompas Gramedia di
jalan R.E Martadinata Bandung. Mood saya sempat memburuk karena kebiasaan
angkot ngetem terlalu lama untuk menunggu penumpang membuat saya semakin
terlambat menghadiri acara yang ingin saya hadiri di Gedung Kompas Gramedia
tersebut. Belum lagi ternyata saya sempat nyasar mencari alamat gedung
tersebut, maklum karena pada dasarnya saya adalah pendatang di Kota Bandung
ini.
Akhirnya saya berhasil menemukan
Gedung yang dimaksud. Setelah bertanya ke satpam saya diarahkan ke lantai dua. Ternyata
tempat launching buku yang menurut info akan dilaksanakan di lantai 4 ternyata
dipindahkan ke lantai 2. Ya, hari ini saya menghadiri launching buku “GBS Tak
Menghalangi Langkahku: Kisah Nyata Ogest, mantan penyanyi Cilik Menghadapi
Guillain Barre Syndrom”. Honestly,ini saya menghadiri launching buku dan kali
ini saya hadir dengan undangan dari penulis bukunya yakni Mbak Risma Inoy dan
editornya Mbak Triani Retno. Jangan salah undangannya bukan untuk saya pribadi
melainkan untuk Klub Buku Bandung.
Syukurlah ketika saya datang
acara belum di mulai. Saya pun segera masuk ke dalam ruangan launching dan
menyapa penulisnya Mbak Risma yang tampil ceria dengan rok kuning dan jilbab
bermotif abstrak warna warni. Di dekat panggung saya melihat Ogest yang akrab
di sapa Aa’ Ogest tengah dikerubuti sejumlah orang. Aa’ Ogest ini tampaknya
menjadikan bertopi sebagai ciri khasnya.
Tak lama kemudian wanita
berjilbab merah maron mengambil mic dan membuka acara. Acara kemudian
dilanjutkan dengan pembacaan do’a oleh Pak Didin yang ternyata menurut
informasi memiliki anak yang sempat terkena penyakit GBS dan berhasil sembuh.
Setelah itu, sesi berikutnya menampilkan live performance oleh salah satu band
dari Bandung. Dan sejujurnya saya tidak pernah berhasil mendengarkan secara
jelas nama bandnya (maaf pembaca) tapi saya mengenali vokalisnya memiliki wajah
yang familiar bagi saya. Ternyata saya sempat mendengar bahwa ia adalah anggota
band Caffein, band yang sempat booming di zaman saya SMP 😀
Setelah itu kita kemudian masuk
ke sesi sharing penulis dan dengan Aa’ Ogest. Tadinya akan ada dokter yang
dihadirkan untuk menjelaskan mengenai penyakit GBS ini, namun ia berhalangan
hadir. Maka jadilah saat itu Mbak Risma dan Aa Ogest menjadi nara sumber yang
menjawab pertanyaan orang yang hadir di acara tersebut tentang GBS.
Sesi ngobrol dengan penulis dan Aa Ogest
Sebelumnya Mbak Risma
menceritakan awal perkenalannya dengan Aa Ogest. Awalnya Mbak Risma tertarik
dengan lagu yang ia dengar di facebook. Ia kemudian bertanya kepada kerabatnya,
The Dian, yang kemudian member tahu bahwa yang mencipta dan menyanyikan lagu
tersebut adalah suaminya, Aa Ogest. Maka dimulailah perkenalan itu. Mbak Risma
kemudian tertarik menulis tentang Aa Ogest. Awalnya hanya di Notes Facebook
namun oleh Mbak Triani Retno atau Mbak Eno disarankan menjadikannya buku. Mbak
Eno yang sebelumnya menjadi editor buku pertama Mbak Irma kemudian member deadline
bagi Mbak Risma untuk menyelesaikan tulisan mengenai Aa Ogest dalam dua bulan. Nah
setelah itu dimulai lah perjuangan Mbak Risma menulis di tengah-tengah
kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Ia pun ‘dihantui’ oleh Mbak Eno sang
editor yang super disiplin untuk benar-benar menyelesaikan naskahnya dalam dua
bulan.
Selama proses penulisannya
menurut penuturan Mbak Risma, ia belajar banyak hal melalui Aa Ogest. Aa Ogest
yang lumpuh dari leher ke bawah menghadapi banyak tantangan dalam hidupnya. Ia harus
tidur miring ke kiri namun semua itu dijalaninya dengan tabah. Selain itu ada
pengalaman ketika Mbak Risma dan Aa Ogest terjebak macet. Mbak Risma yang
bergerak-gerak gelisah akhirnya dibuat malu oleh ketabahan Aa Ogest duduk diam
tanpa bergerak hingga berkeringat dingin. Mbak Risma melakukan beberapa
kegiatan yang dilakukan oleh Aa Ogest dalam keterbatasannya seperti  nge-chat
menggunakan jari tengah yang tertekuk kea rah kepalan. Ternyata membuat Mbak
Risma merasa tertekun. Namun Aa Ogest yang sebelumnya pernah hidup normal mampu
menyesuaikan diri dengan keterbatasan yang kini dimilikinya. Ah, Mbak RIsma
selama penulisannya belajar untuk tidak lagi mudah mengeluh menghadapi
hidupnya. Semoga kita yang membaca buku itu pun bisa belajar hal yang sama.
Selanjutnya Pak Ogest
menceritakan kisah hidupnya dengan terbata-bata dan mata yang berkaca-kaca. Ia
mengucapkan terima kasih pada Alm.ibunya yang pada awal kepenulisan buku itu
masih hidup dan selalu mendukung dan merawat Aa Ogest dengan penuh kesabaran. Namun
saat buku ini dilaunching beliau telah menghadap Sang Ilahi. Ia pun
berterimakasih pada istrinya yang dengan sabar menemaninya dan pada anaknya
yang tidak merasa malu memiliki seorang Ayah yang memiliki keterbatasan seperti
dirinya.
Aa’ Ogest performance dengan teman2nya
Kemudian dibuka sesi pertanyaan
yang berhadiah. Sejumlah hadirin mempertanyakan mengenai detail penyakit GBS
atau Guillain Barre Syndrome (GBS). Ini sedikit keterangan tentang GBS yang
saya ambil dari pengantar buku “GBS Tak Menghalangi Langkahku” dan dari
keterangan yang disampaikan oleh Mbak Risma dan Aa Ogest. GBS merupakan
peradangan yang terjadi pada sejumlah akar saraf di susunan saraf tepi. GBS
merupakan penyakit autoimun yang menyerang sususan saraf tepi. Panyakit ini
tidak menular dan bukan karena keturuna. Hampir dua pertiga pasien memiliki
riwayat infeksi bakteri atau virus sebelum terjadinya GBS. Umumnya berupa
infeksi saluran pernapasa atau infeksi saluran pencernaan. Itulah sebabnya ciri—ciri
GPS biasanya adalah flu yang berkepanjangan dan diare. Kemudian gejala
selanjutnya adalah mati rasa atau kebas pada jari dan kelemahan otot-otot
tungkai atas hingga tidak dapat berjalan. Setelah itu secara bertahap GBS akan
menyebabkan kelumpuhan seluruh anggota tubuh. Oiya, untuk mendeteksi GBS ini
hanya dengan MRI.
Diceritakan bahwa pertama kali
mengalami gejala-gejala GBS, Aa Ogest mengabaikannya. Ia menganggap flu yang
berkepanjangan sebagai hal yang biasa dan tidak mampu didramatisir. Padahal ternyata
itu adalah tanda-tanda awal GBS. Selain itu pihak rumah sakit sendiri terlambat
mendeteksi penyakit yang diderita Aa Ogest. Sebenarnya GBS bisa disembuhkan
jika diberi terapi pengaturan system daya tahan tubuh (immunomodulator) serta immunoglobuilin Intervena dan pertukaran
plasma yang mempunyai  efektivitas sama
diketahui dapat mempercebat penyembuhan. Aksi setelah sesi bertanya, para
penanya diberi hadiah. Pssstt.. 2 anak klub buku berhasil memboyong pulang
masing-masing 1 hadiah yang kemungkinan adalah buku.
Setelah itu akhirnya kegiatan
ditutup dengan performance Aa Ogest bersama temannya. Harus saya akui bahwa
suara Aa Ogest cukup bagus. Yang hebat, tidak jarang penderita GBS mengalami
sesak nafas. Namun dengan semangat yang tidak memudar Aa Ogest terus berkarya.
Aa Ogest menyanyikan dua buku yang mewakili cerita hatinya salah satunya adalah
lagu “Nurjanah” yang diartikan cahaya surga yang ia dedikasikan untuk ibunya. Setelah
itu ada performance juga dari Yanna, vokalis The Marvells yang merupakan
sahabat Ogest. Setelah itu ada juga performance dari Delicious Band. Dan akhirnya
ditutup dengan performance dari Faby Macellia jebolan Mamamia yang kini
berkiprah sebagai penyanyi dan pemain sinetron. Faby dan Yanna termasuk
orang-orang yang hidupnya disentuh oleh Aa’ Ogest dan perjuangannya menghadapi
GBS.
Hari ini saya pulang membawa
banyak hal. Selain dua buku gratis karena sukses menjawab dua pertanyaan. Saya juga
pulang dengan membawa ilmu tentang kehidupan. Dan tentu saja semakin mengenal
banyak orang.
Terimakasih ya Allah untuk hari
yang indah ini