“Urusan
perasaan dan hati itu nggak pernah ada yang salah. Yang kurang tepat adalah
reaksi kita terhadap perasaan tersebut.” (Hal. 82)


Penulis: Ninit Yunita
Editor: Emka & Bayu
Novrilianto
Proofreader: Andrea
Dhien
Penata Letak:
Nurhasanah Ridwan
Penyelaras akhir: Landi
A. Handwiko & Putra Julianto
Desain cover: Adryana
Putri & Amanta Nathania
Penulis skenario: Novia
Faizal
Penerbit: EnterMedia
Cetakan: Pertama,
Oktober 2014
ISBN: 978-979-780-763-4
Pernahkah
kamu berpikir,
jatuh cinta kepada seseorang itu
sesederhana saat menuliskannya?
Jatuh
cinta itu hak semua orang.
Tiap-tiap hati bebas menaruh cintanya
kepada hati yang ia percaya.
Namun,
bagaimana ketika seseorang
yang telah memiliki kekasih,
ternyata jatuh cinta pada orang lain,
yag dianggap mampu memberi rasa
nyaman dibandingkan dengan kekasihnya sendiri?
Apakah
itu cinta?
Ataukah pelarian semata?
Bisakah semua kembali seperti sedia kala
dan hati yang tengah mendua kembali kepada cinta yang satu?
***
Resapi
dan temukan pertannyaan tentang cinta dan novel ini.
Cinta antara Imam, Widya, dan Chen Jia Li.
Mereka berjuang menemukan jawabannya hingga ke negeri Cina.
Apakah semua perjalanan cinta memang tak akan sia-sia?
Atau justru perjalanan hiduplah yang lebih berharga
dibandingkan dengan kata cinta itu sendiri?
***

“…
sejauh apapun tempatnya, ilmu harus dituntut. Kebaikan yang dituai dari
mengamalkan ilmu adalah amal yang tidak akan terputus.” (Hal. 23)

Ridwan
Imam Fadli, atau akrab di sapa Imam, adalah mahasiwa Universitas Negeri
Semarang yang tengah dikejar deadline lulus. Di sisi lain, ia pun mulai merasa
tidak nyaman dengan sang kekasih, Widya. Widya yang sudah lebih dulu lulus
dengan IPK yang bagus. Bahkan Widya langsung diterima mengikuti MDP di Bank
Central Java. Ini membuat Widya terus merongrong Imam untuk segera
menyelesaikan studinya.
Hal
lain yang ikut menambah kegusaran Imam adalah sikap ayah Widya yang cenderung
sinis padanya. Ini karena sebuah kejadian saat Imam dipaksa mengimami shalat
Maghrib di rumah Widya. Imam yang shalat Jumat saja ogah-ogahan mengimami
shalat?! Pastilah hasilnya runyam. Ini membuat Imam akhirnya selalu mendapat sindiran
dari Ayah Widya.
Di
tengah semua masalah itu, tanpa sengaja Imam bertemu dengan Chen Jia Li di
Klenteng Sam Poo Kong. Jia Li adalah perempuan asal Tiongkok yang sedang
berlibur ke Semarang. Ia seorang muslimah yang baik. Menghindari sentuhan
dengan yang bukan mahramnya, berhijab, dan selalu berusaha menjaga shalatnya.
Kecantikan dan keanggunannya membuat Imam terpesona.
Di
sisi lain ada Dimas, pria mapan yang bekerja di Marketing Departemen Head di
Bank Central Java, yang tertarik pada Widya. 
Dia bahkan terus melakukan pendekatan pada Widya meskipun sudah
mengetahui bahwa gadis itu sudah memiliki pacar. Ini karena ia merasa kansnya
lebih besar daripada Imam.
Lama
kelamaan hubungan Imam dan Widya merenggang. Imam semakin jatuh cinta pada Jia
Li. Jia Li hadir seperti sebuah oase bagi gersangnya keimanan Imam. Pengaruh
dari Jia Li membuat Imam menjadi lebih rajin beribadah dan berimbas dengan
semakin lancarnya skripsi laki-laki itu. Sayangnya, Jia Li harus kembali ke
Tiongkok. Dan apakah itu akhir bagi perasaan cinta Imam?
Ternyata
tidak. Imam nekat mengejar Jia Li ke Tiongkok. Ini menjadi perjalanan penting
baginya. Mengejar cinta yang ia yakini. Widya? Tidak lagi dipikirkannya.
Apakah
perjuangan Imam ini akan membawa hasil yang bahagia? Bisakah ia menemukan
pendamping terbaik baginya? Berhasilkah ia meminang Jia Li?

“Minta
pertolongan kepada siapa lagi kalau bukan sama Allah? Dengan sabar dan salat.
Sabar itu, kan, tidak menyerah, terus berusaha. Dan dengan salat, kita akan
jauh lebih tenang.” (Hal. 34)

***

“Kung
fu itu artinya keahlian yang diperoleh melalui proses yang panjang. Kalo lo
jago nulis…, artinya elo kung fu writer.” (Hal. 38)

Novel
ini cocok disebut sebagai novel perjalanan cinta islami. Ya, tokoh utamanya,
Imam, melakukan dua perjalanan sekaligus yakni perjalanan menjemput hidayah dan
juga memperjuangkan cintanya. Ia bahkan nekat ke Cina demi cintanya itu.
Novel
ini termasuk novel islami yang ringan. Simple. Konfliknya simple namun banyak
nilai-nilai Islam yang ditampilkan dengan casual.
Seperti penolakan Jia Li untuk makan di rumah makan Billy, sahabat Imam yang
keturunan Tionghua, karena melihat bahwa di restoran itu dijual berbagai menu
olahan babi. Hal-hal seperti ini muncul beberapa kali dalam interaksi antara
Imam dan Jia Li. Ini menjadi pesan yang tidak meninggalkan kesan menggurui.
Namun yang aneh, bagaimana mungkin perempuan sesalehah Jia Li mengizinkan
dirinya untuk melakukan perjalanan jauh tanpa didampingi mahram ya? He.. he..
abaikan pemikiran saya ini.
Oiya,
sisi traveling di dalam novel ini
tidak dominan. Tempat-tempat yang disebutkan di Semarang dan di Beijing
merupakan tempat-tempat yang umum dikunjungi oleh pelancong. Seperti berbagai
kelenteng yang di Semarang hingga Fobidden City di Beijing. Deskripsinya pun terasa
kurang kuat. Menjadi seperti tempelan saja. Kurang menyatu dengan cerita.
Selain
itu, ending yang menghadirkan Widya rasanya terlalu dipaksakan. Didramatisir.
Tapi
secara keseluruhan cara bercerita yang mengalir membuat novel ini tetap enak
dibaca. Bahkan dalam satu kali duduk.
“…,
konon, kung fu master itu panggilan dari orang lain karena, orang bijak kalo
jago, nggak pantas buat menilai dirinya sendiri.” (Hal. 39)