“Moral
cerita ini adalah tak peduli sehebat apa pun kita berusaha, tak peduli sebesar
apa keinginan kita … beberapa kisah memang tidak memiliki akhir bahagia.”
(Hal. 15)

Penulis: Jodi Picoult
Alih Bahasa: Maria
Lubis
Penerbit: Gramedia Pustaka
Utama
Cetekan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 512
halaman
ISBN: 978-602-03-2736-5
Alice
Metcalf adalah ibu yang penyayang, istri yang megabdi dan ilmuwan peneliti
gajah yang berdedikasi. Tak ada yang percaya ketika suatu hari ia lenyap begitu
saja, meninggalkan suami dan putri kecilnya, Jenna.
Di
usia tiga belas tahun, Jenna, yang merasa ditelantarkan, memulai pencarian atas
ibunya. Ia menelaah database orang hilang, membaca jurnal ilmiah para peneliti
gajah, dan meminta bantuan cenayang serta mantan detektif yang dulu mengusut
kasus Alice.
Dihantui
masa lalu dan pergulatan batin masing-masing, mereka bertiga menelusuri jejak
Alice. Yang mengejutkan, misteri hilangnya Alice mengungkap misteri-misteri
lain yang membuka jati diri mereka.
***

“…,
selalu ada penjelasan untuk semua yang kau lihat.” (Hal. 10)

Tumbuh sebagai seorang
anak yang ibunya menghilang tanpa jejak dan ayah yang mendekam di dalam rumah
sakit jiwa jelas bukanlah hal yang mudah apalagi normal. Inilah yang dialami
oleh Jenna Metcalf. Ia tumbuh menjadi seorang anak yang berbeda.
Di
usianya yang ketiga belas ia akhirnya memutuskan untuk bergerak mencari ibunya.
Selama ini ia terus menahan diri untuk merasa cukup dengan apa yang bisa ia
miliki. Mengunjungi situs orang  hilang,
membaca jurnal-jurnal ilmiah milik ibunya, dan berusaha terus terhubung dengan
fakta-fakta terkait kasus di Suaka Gajah New England milik ayahnya, Thomas
Metcalf, yang kini telah ditutup dan berubah menjadi Cagar Alam Stark.
Alice
menghilang setelah sebelumnya ditemukan pingsan di suaka, tidak jauh dari mayat
seorang perempuan yang ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan.
Alice yang pingsan dengan luka di kepala dibawa ke rumah sakit. Setelah sadar,
ia kemudian melarikan diri dan setelah itu menghilang tanpa jejak.
Akhirnya,
setelah mengumpulkan cukup uang dan merasa bahwa di usianya yang ketiga belas
ia terlihat lebih dewasa dibandingkan gadis kecil berusia sembilan atau sepuluh
tahun. Ia kemudian mendatangi Serenity Jones, seorang cenayang yang di masa
lalunya ternyata pernah menjadi peramal besar. Namun kemudian menghilang sebab
entah bagaimana kemampuannya menghilang dan bahkan menimbulkan kekacauan. Ia
berharap dari Serenity Jones ia bisa mendapatkan keyakinan bahwa ibunya masih
hidup.
Ia
kemudian menemui Virgil Stanhope, seorang detektif yang dulu adalah polisi yang
menangani kasus hilangnya ibunya. Virgil membuka agen detektif swasta setelah
menghilang dan dikabarkan bunuh diri tepat di hari pelantikannya sebagai
detektif kepolisian. Awalnya Virgil menolak untuk membantu Jenna. Namun demi
menenangkan batinnya sendiri, sebab sudah salam kasus hilangnya Alice Metcalf
menjadi beban berat di hatinya, akhirnya ia pun memutuskan membantu gadis kecil
itu.
Setelah
itu, ketiganya melakukan pengejaran fakta-fakta terkait kasus 10 tahun lalu
saat ibu Jenna menghilang. Mereka berusaha mengakses kembali barang bukti
dengan memanfaatkan koneksi Virgil. Di sisi lain, memanfaatkan insting miliki
Serenity, mereka mendatangi kembali TKP yakni suaka yang kini jadi cagar alam
tersebut. Di sana mereka menemukan dompet berisi identitas Alice Metcalf serta
kalungnya. Bukti-bukti yang tidak ditemukan oleh kepolisian yang saat itu
segera menyatakan kematian yang terjadi di suaka tersebut sebagai kecelakaan.
Perlahan,
satu persatu kenyataan terungkap. Namun ternyata di akhir pencarian mereka
menyadari bahwa sesungguhnya mereka pun telah menghilang. Bahwa akhir kisah ini
malah memberikan jawaban yang tidak terduga. Membuka kembali kesadaran mereka
pada sebuah fakta.
Apakah
itu? Bisakah Jenna bertemu dengan ibunya? Siapa sebenarnya yang membunuh
perempuan yang ditemukan meninggal di suaka gajah milik ayahnya Jenna?

“Ketika
seseorang pernah meninggalkan kita, kita akan menduga itu akan terjadi lagi.
Akhirnya, kita akan berhenti cukup dekat dengan orang lain yang akhirnya kita
anggap penting, karena setelahnya kita tidak akan sadar saat mereka menghilang
dari dunia kita.” (Hal. 26)

***

“Aku
bertanya-tanya, jika kita semakin dewasa, apakah kita berhenti terlalu
merindukan orang? Mungkin tumbuh dewasa hanyalah berfokus pada semua yang kita
miliki, bukan yang tidak kita miliki.” (Hal. 143)

Leaving
Time yang ditulis Jodi Picoult ini memberi pengalaman baru yang sangat berkesan
bagi saya. Jodi Picoult merupakan salah satu penulis yang karyanya selalu
membuat saya jatuh cinta. Kali ini ia mengajak serta saya untuk jatuh cinta
pada gajah.
Dalam
Leaving Time ini pembaca diajak untuk menyelami kehidupan gajah melalui
catatan-catatan yang dibuat oleh Alice Metcalf. Tidak ada kesan serius dalam
jurnal ilmiah tersebut karena dituliskan dalam sudut pandang orang pertama.
Kesan personal tokoh Alice membuat sisi emosional pembaca akan ikut terseret
sehingga fakta-fakta terkait gajah akan punya pesan yang menyentuh psikologi pembaca.
Ini
adalah pilihan cerdas penulis. Dengan memakai sudut pandang orang pertama dari
4 tokoh yang berbeda: Jenna, Serenity, Virgil dan Alice membuat cerita ini jadi
sangat “kaya”. Ini karena latar belakang mereka yang berbeda. Melalui Jenna
kita disuguhi kehidupan seorang gadis kecil yang dewasa lebih awal. Lewat Serenity,
pembaca disuguhi pengalaman pribadi seorang cenayang lengkap dengan berbagai
penjelasan dan pengalaman personal. Sedangkan Virgil menyuguhkan sepenggal
cerita dari kehidupan seorang polisi dan pilihan-pilihan di dalamnya.
Oiya,
satu quote ini bisa merangkum isi cerita secara umum: “Jenna kehilangan ibunya. Aku
kehilangan kredibilitasku. Virgil kehilangan keyakinannya. Kami semua
kehilangan beberapa kepingan diri. Sesaat aku percaya, bersama-sama, kami
mungkin bisa menjadi satu kesatuan utuh.” (Hal. 411)
Salah
satu kelebihan lain dari buku ini selain sangat informatif –terutama tentang
gajah-; cerita yang kompleks; juga ending yang benar-benar tidak terduga. Saya
sudah membaca ratusan buku dan masih bisa terkecoh oleh ending yang disuguhkan
oleh Jodi Picolut. Membalik sudut pandang tidak cukup? Maka Jodi Picoult
membalik realitas. Caranya? He..he.. baca sendiri saja karena nanti jadi
spoiler.
Pengalaman
membaca Leaving Time kali ini benar-benar berkesan bagi saya. Membaca buku ini
cukup menguras emosi saya. Ini karena secara personal saya pun mulai
menumbuhkan insting seorang ibu. Belajar untuk menjaga apa yang tengah tumbuh
di rahim ini. Berusaha menjadi ibu yang baik bahkan sebelum ia lahir ke dunia.
Ini membuat cerita yang dipaparkan oleh Jodi Picoult tentang perasaan induk
Gajah serta cara mereka berduka menjadi sesuatu yang sangat menarik.
Ah,
sekali lagi saya dibuat jatuh cinta pada karya Jodi Picoult. Pada idenya, pada
plotnya, dan pada keseriusan risetnya yang tertuang dengan sangat baik dalam
karyanya.

“Sekali
menjadi ibu, selamanya begitu” (Hal. 152)

***

Kumpulan Quote dalam Leaving Time

“Ada
guru matematikaku, Mr. Allen. Dia berkata jika kau sebuah titik, yang bisa
kaulihat hanya titik. Jika kau garis, yang bisa kaulihat adalah titik dan
garis. Jika kau benda tiga dimensi, kau akan melihat benda tiga dimensi, garis
dan titik. Hanya karena kita tak bisa melihat dimensi keempat, bukan berarti
itu tidak ada. Itu hanya berarti kita belum mencapainya.” (Hal. 187)
“Kukira
duka mirip sofa yang benar-benar buruk. Keduanya tidak pernah bisa
disingkarkan. Kita bisa mendekorasi sekelilingnya; kita bisa menghiasnya dengan
rajutan di atasnya; kita bisa mendorongnya ke sudut ruangan –tetapi akhirnya,
kita akan belajar untuk hidup bersamanya.” (Hal. 224)
“…
yang diinginkan alam semesta dari kita hanya dua hal: Jangan sengaja menyakiti
diri sendiri atau orang lain, dan berbahagialah.” (Hal. 244)
“Jika
kau seorang ibu, kau harus memiliki seseorang untuk dijaga.
Jika
seseorang itu direnggut darimu, entah baru lahir maupun sudah cukup dewasa
untuk berkembang biak, bisakah kau masih menyebut dirimu ibu?” (Hal. 253)
“…
memaafkan dan melupakan bukan hubungan yang saling meniadakan.” (Hal. 275)
“Salah
satu hal paling menakjubkan dari duka gajah di alam liar adalah kemampuan
mereka untuk berduka secara hebat, tetapi kemudian, dengan jelas dan
terang-terangan, mengikhlaskannya. Sepertinya manusia tidak bisa melakukan itu.
Aku selalu berpikir ini karena agama. Kita berharap bertemu orang-orang
tercinta kita di kehidupan selanjutnya, apa pun bentuknya. Gajah tidak memiliki
harapan itu, hanya kenangan akan kehidupan ini. Mungkin karena itulah mereka
lebih mudah melanjutkan hidup.” (Hal. 304)
“Menyimpan
rahasia tidak selalu berarti berbohong. Kadang-kadang, itu satu-satunya cara
untuk melindungi orang yang kaucintai.” (Hal. 338)
“Di
Tsawana, ada ungkapan: Go o ra motho, ga go lelwe. Di mana ada dukungan, takkan
ada duka.” (Hal. 344)
“Memar
adalah cara tubuh mengingat perlakuan yang salah.” (Hal. 357)
“…
tidak ada kekuatan yang lebih besar di dunia ini daripada pembalasan seorang
ibu.” (Hal. 444)
“…,
ketika mempelajari rasa duka gajah, sangat penting untuk mengingat bahwa
kematian adalah peristiwa alamiah. Sementara, pembunuhan tidak.” (Hal. 456)