Penulis             : Mikkel Birkegaard
Penerbit         : Serambi
Cetakan          : III, April 2010
Jumlah hal.     : 587 halaman
Saat pertama kali melihat sampul buku
ini dan membaca sinopsisnya, saya seketika tergugah. Namun karena saat itu saya
sedang tidak memiliki cukup uang untuk membeli buku, akhirnya saya menunda
membelinya. Sayangnya, saat itu saya tidak memotret sampul bukunya (hal yang
biasa saya lakukan saat tertarik pada sebuah buku namun belum sanggup
membelinya) dan parahnya lagi saya lupa judul bukunya (mungkin karena
kalimatnya tidak familiar bagi saya).
Akhirnya, butuh waktu satu tahun bagi
saya hingga akhirnya berhasil memiliki buku ini. Saya berkali-kali melakukan
pencarian atas buku ini dengan mengandalkan ingatan saya akan sampul bukunya
yang gelap dan ukurannya yang agak berbeda dari novel lainnya. Pencarian saya
berakhir di Islamic Book Fair di Bandung yang dilakukan di awal bulan Mei 2013
ini.
Di bab pertama cerita ini, penulis
mendeksripsikan kesenangan seorang Luca Campelli yang hidup dengan kecintaan
pada buku dan memiliki sebuah toko buku antik. Hal ini memberikan suntikan
semangat bagi penggila buku seperti saya karena saya mampu mengenali beberapa
deskripsi tentang hal-hal yang menyenangkan dari sekedar menjelajahi toko buku,
menyentuh sampulnya dan membaca secara acak judul dan penulis sebuah buku dalam
labirin toko buku.

Di bab berikutnya pembaca langsung
disuguhi deskripsi yang jelas tentang kehidupan dan pola pikir sebuah
pengacara. Sangat menarik mengingat latar belakang penulisnya bukanlah seorang
pengacara melainkan seorang yang bekerja di bidang IT. Yang cukup menyenangkan
dari deskripsi ini adalah tidak terkesan monoton padahal jika diperhatikan,
hidup tokoh yang dideskripsikan cenderung monoton dan teratur. Tokoh ini adalah
Jon Campelli, anak dari Luca Campelli.
Masalah dimulai saat Luca Campelli
ditemukan meninggal di dalam tokonya “Libri di Luca” sehingga Jon Campelli
harus menghadiri pemakaman tersebut sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki
Luca. Jon kemudian diberi tahu bahwa ia menjadi pewaris toko buku ayahnya.
Namun karena hubungan di antara mereka tidak cukup baik, maka Jon merasa
terbebani dengan hal ini. Namun ia kemudian diberi tahu mengenai sebuah
perkumpulan rahasia yang ayahnya ikut aktif berkecimpung di dalamnya.
Sejak saat itu cerita yang disuguhkan
semakin menarik. Mulai dari cerita tentang perkumpulan rahasia untuk Lector  yakni orang-orang yang mampu mempengaruhi
seorang pembaca yang ada di dekat mereka untuk tertarik atau tidak tertarik
pada sebuah buku. Kekuatan Lector ada
dua yakni penerima atau pemancar dan kedua kelompok ini memiliki kubu
masing-masing. Lector Penerima punya kemampuan untuk membuat seseorang terus
melanjutkan membaca sebuah buku atau tertarik pada sebuah buku, mereka mampu
membaca pikiran-pikiran orang tersebut saat sedang membaca buku dan dapat
mengendalikan seseorang berdasarkan buku yang dibacanya. Lector Pemancar
memiliki kekuatan yang berbeda, mereka dapat mengendalikan pemikiran seseorang
dan mempengaruhi kesadaran, pemikiran, dan opini orang tersebut melalui
pembacaan yang mereka lakukan di depan orang tersebut.
Konflik semakin menajam saat terjadi
serangan terhadap Libri di Luca. Yang kemudian mengungkapkan tentang kecurigaan
bahwa Luca Campelli dibunuh oleh seorang Lector. Akhirnya perpecahan antara
kubu penerima dan pemancar pun semakin jelas. Namun fakta-fakta mulai mengarah
ke hal lain, bahwa ada upaya pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan
perkumpulan para Lector tersebut. Akhirnya didampingin oleh Katherina, seorang
penderita Dyslexia yang memiliki kekuatan sebagai penerima, Jon Campelli
berusaha menginvestigasi hal ini.
Secara garis besar, alur cerita ini
benar-benar menarik. Cukup menegangkan, namun tidak bisa dibaca sambil lalu.
Ada beberapa bagian yang harus dipahami dengan seksama seperti deskripsi yang
diraskaan oleh Pemancar saat membaca buku untuk bisa mempengaruhi orang lain. Namun
bagi saya pribadi akhir cerita agak terasa berat karena harus benar-benar
memperhatikan deskripsi saat terjadi “pergulatan” antara Jon dan kelompok yang
mengganggu perkumpulan para Lector tersebut.
Harus saya akui, buku ini membangun
emosi pembaca dengan baik kecuali dibagian saat Jon dan Katherina saling jatuh
cinta. Hubungan keduanya terlalu mendadak. Lompatan emosinya jadi agak kurang
jelas. Hanya dibagian tersebut saya menganggap “garapan emosi” personal tidak
terbangun baik.
Jika harus memberi nilai pada buku
ini dengan skala 1-10, maka buku ini
saya beri nilai 9
(^_^)v