Siang tadi, alhamdulillah Bandung sedang cerah. Cukup terik saat saya melangkah
meninggalkan kostan demi menghadiri sebuah acara di Gramedia Merdeka, Bandung.
Talkshow “Jodoh” yang akan menghadirkan langsung penulisnya, Fahd Pahdepie.
Talkshow
yang diadakan oleh Bentang Pustaka ini sekiranya akan dimulai jam 2 siang. Saya
datang tepat waktu. Kurang dua menit sebelum jam 2. Sayangnya seluruh kursi
yang telah disediakan sudah penuh. Tapi alhamdulillah. Mendadak ditodong oleh
MC cantik untuk ngobrol dikit tentang novel Jodoh. Hadiahnya dapat mug kece dan
dapat tempat duduk saat turun dari depan. Berkah
blogger salehah. 😀
Keterlambatan
Fahd berjodoh dengan tempat parkir membuat kehadirannya ikut terlambat. Lewat
40 menit berlalu, barulah penulis ini bergabung dengan audience. Tapi antusiasme masih tinggi. Obrolan tentang Jodoh dan “jodoh”
pun dimulai.
Fahd
membuka talkshow dengan berkisah tentang namanya. Bagi yang mengakrabi nama
Fahd Djibran, pasti tahu bahwa itu adalah nama pena yang dulu disematkan oleh
Fahd pada setiap bukunya. Ini ternyata punya cerita sendiri. “Dulu saat saya
mengirim tulisan saya ke media lokal yang terkenal di Bandung dengan nama Fahd
Pahdepie pasti ditolak. Kemudian saya mengirim tulisan yang sama dengan nama
Fahd Djibran, ternyata diterima. Ini terjadi lagi di kali kedua. Akhirnya saya
memutuskan memakai nama Fahd Djibran.”

Setalah
itu, Fahd kemudian mulai bercerita tentang novel Jodoh. Mengungkapkan bahwa ia
memasukkan kisahnya sendiri dalam novel Jodoh ini. Kisah Sena yang jatuh cinta
pada Keara  sejak SD ini diambilnya dari
pengalaman pribadi. Tapi Fahd pun menegaskan bahwa cinta-cintaan masa SD
yang dialaminya tidak seperti anak-anak SD masa kini yang punya modal untuk
makan bareng di restoran fast food
atau untuk berkirim pesan via handphone.
Ia
pun mengungkap bahwa jodoh itu berhubungan dengan titik pertemuan antara waktu
dengan takdir. Takdir adalah sebuah ukuran. Dan ukuran ini bisa dalam bentuk
apa saja. Selain itu jodoh pun berhubungan dengan titik-titik kemungkinan dan
keputusan-keputusan yang kita ambil. Fahd kemudian menutup pernyataannya dengan
candaan, “Bingung? Iya sengaja. Biar bingung.” Tawa MC cantik berkerudung ungu pun
mengakhiri sesi itu.
Sesi
tanya jawab kemudian dibuka. Dan ternyata memang pertanyaannya semua terkait
jodoh. Hm..semoga sepulang dari talkshow tidak semakin baper ya, Akang dan Teteh 🙂
Setelah
sesi tanya jawab, acara kemudian ditutup dan dilanjutkan dengan sesi Book Signing dan foto bersama Fahd
Pahdepie. Oiya, dalam acara hari ini, peserta laki-laki yang hadir cukup
banyak. Meski sebagian besar yang datang adalah perempuan. Apa ini berarti cowok
Bandung banyak yang galau soal jodoh? *eh..gimana* He..he..
 

sempat ikut nodong foto bareng

Oiya,
sedikit cerita tambahan, setelah acara selesai, saya berbincang dengan Tim
Bentang Pustaka dan Mizan Media Utama yang ikut hadir sebagai pihak
penyelenggara. Kemudian datanglah tawaran itu, “Tria, yuk ikut. Setelah ini mau
ngobrol lagi sama Fahd. Siapa tahu kamu pengin nanya-nanya.” Mendengar tawaran
itu, blogger buku mana yang bisa menolak?! He..he..
Foto bersama Fahd, tim Bentang, dan pemandu
 ***
Bertempat
di sebuah kedai kopi, sambil menyantap makan siang yang terlambat dan
menyeruput forozen Tiramisu saya pun
mengajukan beberapa pertanyaan pada Fahd. Salah satu yang selalu menarik minat
saya adalah tentang proses kreatif sebuah buku.
Saya
tahu bahwa di tahun ini, Fahd juga menerbitkan sebuah buku non-fiksi. Saya lantas
bertanya, “Yang mana ditulis duluan? Buku non-fiksi itu atau Jodoh?”
Fahd
memberikan jawaban yang menarik. “Awalnya saya bermaksud menulis sebuah buku
yang menceritakan kisah saya bersama istri saya. Ingin saya jadikan kado di peringatan
5 tahun pernikahan kami, tahun lalu. Tapi ternyata jadinya sangat tebal.”
Setelah
itu, ia pun bercerita bahwa naskah ini kemudian ia bagi dan menjadi 3 buah
naskah. Satu naskah menjadi buku non-fiksi tersebut, satu lagi masih belum
diterbitkan, dan satu lagi adalah novel Jodoh ini. “Masing-masing naskah saya
proses lagi selama kira-kira 6 bulan. Saya endapkan untuk kemudian saya baca
dan perbaiki lagi.”
Setelah
itu, Fahd kemudian bercerita bahwa penulisan novel Jodoh ini terinspirasi oleh
banyak hal. Mulai dari film India hingga novel Twilight. “Salah satu hal yang membuat Twilight diterima dengan baik oleh pembaca adalah karena karakter
Bella yang empty share. Tidak banyak
deskripsi tentang Bella. Ini agar setiap pembaca bisa menempatkan dirinya
sebagai Bella. Dan ini yang saya lakukan pula di Jodoh. Saya berharap saat
membaca Jodoh, pembaca bisa menempatkan dirinya sebagai Keara.”
Setelah
itu obrolan kami bersama tim Bentang Pustaka dan Mizan Media Utama pun meluas
ke berbagai hal. Sebenarnya ada beberapa obrolan lain yang ingin saya tuliskan
terkait novel Jodoh. Tapi biarlah saya tunda dulu. Obrolan lengkap akan saya
publish bersama review saya tahun depan (Januari 2016).
***
Akhir
kata, saya ucapkan terima kasih kepada pihak Bentang Pustaka yang memberi
kesempatan yang langka dan tidak terduga ini. Sebuah kebahagiaan bagi seorang
pembaca bisa ngobrol dengan penulis tentang buku yang dibacanya. Terima kasih
banyak sudah menghadiahi saya kesempatan ini.
Dan
untuk Kang Fahd Pahdepie, saya menunggu naskah ketiga yang sampai akhir obrolan
masih dirahasiakan judul dan jadwal terbitnya. Sukses terus dengan
karya-karyanya. Semoga menjangkau banyak pembaca dan bisa terus berbagi hal
positif ke banyak orang.
🙂
Bandung,
27 Desember 2015