“…
sedalam apapun hubungan persahabatan, kebohongan tidak pernah dapat menjadi
sebuah pilihan.” (Hal. 280)

Penulis: Sofi Meloni
Editor: Afrianty P.
Pardede
Penerbit: Elex Media
Komputindo
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 295
halaman
ISBN: 987-602-02-8629-7
Mencintai
berarti merelakan orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain?
Omong
kosong!
Cinta
itu tidak melulu soal merelakan namun juga soal perjuangan. Bodoh namanya jika
aku merelakan kamu – yang jelas pernah mencintaiku – demi wanita yang diam-diam
sudah menusukku dari belakang.
Delapan
tahun aku hidup dalam sebuah kebohongan yang mengatasnamakan persahabatan.
Aku
bukan malaikat.
Aku
juga bukan orang suci yang bisa pasrah dan menerima begitu saja apa yang telah
terjadi sebelumnya.
Kini
tiba saatnya aku memperjuangkan kembali kelanjutan cerita di antara kita. Kamu
harus sadar bahwa aku juga di sini menunggumu sadar, bahwa ada akhir bahagia
untuk cerita kita.
We
can have our happy ending, so look at me, please.
***
“Kadang
kita terlalu larut dengan semua pemikiran kita sendiri sampai akhirnya kita
jatuh tenggelam di dalamnya.” (Hal. 161)
Bagaimana
perasaanmu jika laki-laki yang kau cintai adalah kekasih sahabatmu sendiri? Apa
yang akan kau lakukan jika jauh di dalam lubuh hatimu kamu merasa bahwa kamulah
yang lebih mampu mendampingi pria itu? Meyakini bahwa masih ada cinta di
antara  kamu dan lelaki itu? Masih ada
kesempatan untuk memiliki kebahagian bersama di masa depan.
Itulah
yang dirasakan oleh Laras. Ia mencintai Gerry yang merupakan kekasih Lily,
sahabatnya sejak ia duduk sekolah menengah pertama. Bagi Laras, Gerry adalah
cinta pertamanya yang bahkan kini di saat ia telah menginjak usia 20an , tetap
saja ia belum mampu menghapus perasaan itu.
Ia
terus disekap bimbang. Sebab ia pun enggan melukai Lily. Namun saat kenyataan
atas sebuah rahasia milik Lily yang membuat Laras merasa bahwa sahabatnya
itulah yang “mencuri” kesempatannya untuk bersama Gerry, maka Lily mulai
mengambil langkah. Berusaha untuk mengambil tempat yang selama ini dimiliki
Lily di hidup Gerry. Tempat yang jadi milik Lily saat mereka masuk bangku
kuliah. Tempat yang seharusnya milik Laras saat mereka baru akan lulus SMA.
Namun
kenapa upayanya tidak semudah yang ia kira? Kenapa ini malah semakin sering menyikitinya
dan membuatnya menunjukkan air mata dan kelemahan di hadapan Remy, teman
sekantornya yang super duper menyebalkan? Kenapa Gerry tidak memperjuangkan
Laras? Bukankah Gerry tidak mencintai Lily? Kenapa setiap kali Laras butuh
seseorang yang ada malah Remy, bukan Gerry?
Bagaimanakah
akhir dari kisah cinta Laras dan Gerry? Bagaimana nasib persahabatan Lily dan
Laras?
***
“Terkadang,
saat masalah yang ada begitu berat, rasanya memilih terbawa arus adalah pilihan
yang tersisa, …” (Hal. 162)
Novel Look
at Me Please
termasuk dalam seri CityLite yang diterbitkan oleh Elex
Media Komputindo seperti halnya, Akulah
Arjuna
dan Cinta Masa Lalu karya
Nima. Maka di dalam cerita ini pembaca disuguhi oleh kisah cinta yang terjadi
di tengah dinamika kehidupan perkotaan.

Menggunakan
sudut pandang orang pertama dari sisi Laras, penulis menyampaikan cerita dengan
lebih emosional. Meskipun sesekali pembaca akan dibuat gemas atas sikap egois
tokoh Laras yang sibuk berkubang dengan perasaannya saja dan tidak memikirkan
orang lain. Merasa kesal pada tokoh Laras yang mudah mengambil sikap tanpa
berpikir panjang tentang konsekuensinya. Malah tidak terlihat dewasa. Padahal
ia menjalani kehidupan sebagai orang dewasa dengan karier yang mulai merangkak
naik, serta kehidupan freesex yang ia
pilih.
Cara
Sofi Meloni bercerita memang enak dibaca. Mengalir. Flashback dimanfaatkan untuk menjelaskan situasi. Agar pembaca mau
memahami alasan keputusan tokohnya. Selain itu konflik-konflik yang dimunculkan
sebelum konflik utama pun menarik. Seperti sejarah persahabatan Lily dan Laras
hingga rahasia Lily yang melukai Laras, ataupun konflik yang muncul antara Remy
dan Lily yang malah jadi seperti pasangan yang bahkan melakukan hubungan badan,
namun kepala Laras masih dipenuhi oleh Gerry.
Sayangnya,
meski menggunakan sudut pandang orang pertama, cerita masih kurang mampu
menyentuh emosi saya saat membacanya. Bisa jadi karena sikap tokoh Laras
terlalu mengasihani diri sendiri. Kemudian bersikap sebagai penjahat dengan
merusak apa yang dimiliki Lily dan Gerry. Kemudian dengan mudahnya malah tidur
dengan Remy bahkan hingga lebih dari sekali.
Mungkin
review ini terkesan subjektif, namun tetap saja pengalaman membaca seseorang
tentu berbeda bagi setiang orang meski membaca buku yang sama. Saya masih tetap
saja tidak bisa menerima jika freesex
diketengahkan secara terbuka di buku yang ditulis oleh penulis Indonesia dengan
setting di Indonesia dan tokoh-tokohnya orang Indonesia. Menampilkan bahwa freesex seolah telah menjadi bagian dari
kehidupan perkotaan Indonesia. Benarkah? Apakah itu kemudian digambarkan
sebagai hal yang biasa? Kemudian ditangkap oleh remaja yang membacanya bahwa
jika hidup di kota tidak apa menjalani kehidupan freesex?
Ini
adalah satu hal yang terasa paling mengganggu bagi saya. Mungkin tidak bagi
pembaca lain. Sebagus apapun narasi cerita, pada akhirnya novel ini tidak akan
saya rekomendasikan untuk sepupu-sepupu saya yang sering kali menanyakan buku
apa yang bagus untuk mereka beli dan baca.
Silakan
sebut saya udik, moralis, dan sebagainya. Sekali lagi ini tentang kenyamanan
membaca setiap orang. Pengalaman membaca setiap orang dipengaruhi oleh banyak
hal, mulai dari pengetahuan hingga norma yang melekat di hidupnya.