Penulis: Hana Sutresno
Penyunting: Novalya
Putri
Penyelaras akhir: Hegar
Purna Purina
Tata letak: Helen Lie
Ilustrasi cover: Dewi
Citra
Penerbit: Bhuana Satsra
(Imprint dari PT. BIP)
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 138
halaman
ISBN: 978-602-249-815-5
Sebuah
kotak rahasia tersimpan dalam hati Jill, kotak yang bercerita tentang cintanya
pada Vian. Hanya Tuhan yang tahu, betapa Jill sangat mencintai partner
bertengkar semasa SMA-nya itu.
Setelah
delapan tahun, mereka bertemu lagi dalam acara bulanan penghuni apartemen
mereka di rooftop. Sekarang Vian adalah tetangga sebelahnya. Mereka pun kembali
akrab, dan tetap sering bertengkar seperti dulu.
Kini,
harsukah Jill jujur tentang kotak rahasia di dalam hatinya itu? Atau, ia
membiarkan kotak itu tetap berada di sudut hatinya setelah tahu bahwa Hilly,
sahabatnya, jatuh cinta dengan Vian?
***
Dengan
menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis menyuguhkan pada pembaca
kehidupan Jill yang merasa cukup terpojok karena berstatus jomblo. Kedua
sahabatnya, Hilly dan Alena, sudah memiliki kekasih. Akibatnya mereka gerah
melihat Jill yang betah menyendiri.
Jill
bukannya sengaja menjomblo. Ia hanya belum menemukan lelaki yang membuatnya
tertarik. Selain itu, ia belum bisa melupakan Vian, teman SMA yang dulu membuatnya
terpesona.
Dan
mendadak takdir mempertemukan Jill dengan Vian. Bahkan mereka akhirnya tinggal
di apartemen yang sama. Sayangnya, pertemuan pertama mereka setalah delapan
tahun tidak bertemu tidak berjalan mulus. Vian mendadak menyebutnya “pembohong”.
Ini membuat Jill bingung. Ia tidak ingat hal apapun yang menyebabkan Vian
menyematkan gelar itu padanya.
Akhirnya
setelah pertemuan itu Jill dan Vian kerap bertemu dan tentu saja bertengkar
tanpa henti. Ada saja hal yang membuat mereka adu mulut. Namun ini membuat
mereka kembali dekat seperti saat mereka di SMA dulu.
Akhirnya
Jill pun menyadari bahwa perasaannya pada Vian memang belum berubah. Ia masih
mencintai laki laki itu. Namun, saat ia mulai memupuk keberanian untuk mengakui
perasaannya pada Vian, sebuah hal mengejutkan terjadi. Hilly yang patah hati
karena putus dari kekasihnya ternyata lebih dulu bercerita pada Jill tentang
perasaanya pada Vian.
Haruskah
Jill mengalah? Tapi Hilly adalah perempuan rapuh, ia baru saja patah hati, apa
jadinya jika ia kembali patah hati? Lagi pula belum tentu Vian pun menyukainya.

***
Cerita
dalam novela ini cukup simple. Yup, ini adalah novela dengan jumlah halaman 128
halaman. Saya rasa ini lebih baik daripada memaksa konflik yang simple ditulis
dalam 200 sampai 300 halaman. Nanti ceritanya pasti akan berputar – putar saja
dan hanya akan bikin bosan.
Cerita
ini berpusat pada kisah cinta pertama yang sulit dilupakan. Saya rasa kalimat
tadi sudah sangat sering kita dengar ya, Readers. Dan mungkin banyak yang
mengamininya 😉
Dan
ini jelas sebuah tantangan. Ide cerita jelas sudah sangat mainstream. Maka
penulis harus mampu membuat ceritanya tetap menarik pembaca. Serta alurnya
tidak benar – benar tertebak. 
Hana
Sutresno berhasil mengundang rasa penasaran pembaca dengan memunculkan konflik
berupa tuduhan “pembohong” sejak awal cerita. Pembaca tentu ingin tahu, apa
yang dilakukan Jill? Kenapa Jill malah tidak menyadari kesalahannya? Dan saat
jawaban itu disuguhkan, pembaca kembali dibuat penasaran dengan hasil akhir
ceritanya. Ini karena konflik batin Jill sendiri.
 
Hm..
kalau harus menuliskan pendapat singkat tentang novela ini maka jawaban saya
adalah “ide cerita yang simple dengan penuturan yang mengalir”.
Oiya,
gambar covernya manis terkesan ala drama korea. Tapi tenang saja, settingnya di
Indonesia kok. Dan layout tulisan di dalam buku ramah banget karena ukurannya
yang cukup besar. (^_^)v