Penulis: Sari Agustia
Editor: Pradita Seti
Rahayu
Penerbit: Elex Media
Komputindo
Jumlah hal.: ix + 228
halaman
ISBN: 978-602-02-6097-6
Kata
orang, pernikahan yang kupunya ini sempurna.
Karier
kami sama – sama menanjak. Sejak dua tahun lalu, kami mulai tinggal di rumah
sendiri. Tak hanya itu, kami pun membekali diri kami masing – masing sebuah
mobil untuk bepergian setiap harinya. Oh ya, kami juga punya dana untuk
traveling ke luar negeri – setidaknya sekali dalam seathun – dan berkunjung ke
rumah Ambu di Bandung atau rumah Bapak atau Ibu Mertuaku di Malang.
Hanya
satu yang sebenarnya sering kali mengganggu: Keturunan. Lima tahun bahtera ini
berjalan, belum juga hadir si buah hati.
Kami
tak pernah menunda. Tak pernah juga mempermasalahkannya. Dan… tak pernah juga
membicarakannya.
Bagaimana
ini…
Suamiku
sebenarnya mau punya anak atau tidak?
Yang
ke dokter hanya aku. Yang mau adopsi hanya aku. Masa hanya aku saja yang
berusaha?
***
Cerita
dibuka dengan sebuah prolog yang cukup membuat pembaca penasaran ingin
mengetahui kelanjutan cerita.
Setelah
itu, pembaca seolah disuguhi memoar kehidupan seorang Tessa Febriana Sasmita.
Kehidupannya bersama suaminya, Bhaskoro, awalnya terasa mulus. Kehadiran seorang
anak tidak menjadi hal yang menuntut. Namun kondisi mendadak berubah saat adik
Bhaskoro, Indah, menikah.
Ibu
Mertua Tessa menjadi semakin sengit membahas tentang anak. Belum lagi Indah
yang kemudian mengabarkan kehamilannya. Semua hal jadi terasa menekan Tessa.
Belum lagi sikap Bhas yang seolah tidak peduli. Ini cukup memberatkan hati
Tessa.

Namun
setelah konslutasi kesehatan bersama, Bhas jadi lebih bisa diajak kerjasama.
Tidak lama kemudian Tessa hamil, namun malang tidak dapat ditolak. Tessa
keguguran. Namun ternyata ini pun menjadi tragedi.
Semua
hal semakin memburuk. Sikap Bhas, sikap ibu mertua Tessa, serta keinginan Tessa
yang semakin menggebu untuk mengadopsi anak Mbak Kanti. 
Mbak
Kanti ini adalah seorang cleaning service toilet yang ada di gedung kantor
Tessa. Ia menyukai karakter Mbak Kanti dan suaminya dan tertarik meringankan
beban mereka yang telah memiliki 4 orang anak namun memiliki kesulitan ekonomi.
Mbak Kanti tengah mengandung anak kelimanya. Dan ingin menyerahkan anaknya
untuk diadopsi karena merasa tidak sanggup lagi jika beban ekonominya harus
bertambah.
Tessa ingin mengadopsi anak tersebut namun Bhas keberatan. Pertengkaran pun pecah dan kehadiran ibu mertua Tessa memperparah keadaan. Bagaimana
nasib pernikahan Tessa dan Bhas?
***
Membaca
novel ini memang terasa mengikuti sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh
tokohnya. Narasi fiksinya kurang terasa.
Prolog
yang menjadi pemantik awal kisah, hingga terakhir menyisakan tanda tanya bagi
saya pribadi. Lantas anak siapa yang dikandung Tessa? Prolog ini ditulis di
rentang waktu yang mana?
Karakter
Tessa dan dilema serta kebingungannya berhasil diceritakan dengan baik melalui
POV orang pertama. Sayangnya kisah dari sisi Bhas yang muncul di dalam cerita
tidak menjadi penguat ceritanya. Penjelasannya tentang awal ia jatuh cinta pada
Tessa malah membuat emosi tokoh Bhas menjadi dipertanyakan.
Setelah
perjuangan sehebat itu bagaimana mungkin ia berpikir meninggalkan Tessa? Kenapa
ia tidak berusaha membujuk Tessa dengan penuh cinta kasih? Kenapa malah menjauh
dan bersikap dingin?
Sejujurnya
konflik yang ditampilkan dalam buku ini sudah menarik. Dan cukup informatif.
Sayangnya, penuturan penulis tentang prosesi adat pernikahan Jawa kurang
menyatu denga cerita. Saya masih merasa seperti membaca berita feature di koran.
Namu
sekali lagi. Ide cerita dan informasinya sudah bagus. Sayangnya, eksekusinya
yang kurang manis. Diksinya masih kaku. Perlu lebih smooth lagi.
Dan
sampai akhir saya mempertanyakan “Love Fate” ini bermakna apa? Sisi konflik mana
yang dimaksud? Apakah akhir cerita dan pilihan Tessa yang digambarkan dalam
kata “Love Fate” tersebut?
Tapi
secara keseluruhan? Sebagai sebuah novel perdana, novel ini mengambil tema yang
menarik yakni: pernikahan, anak, dan adopsi
***

Puisi yang terinspirasi oleh novel Love Fate ini:
Awalnya ini hanya tentang
kita,
Tentang kamu dan aku semata

Namun cerita jadi berbeda
Ketika celoteh dan riang jadi rindu
Harap pada hadirnya sosom mungil
mulai membuncah di dada

Sayangnya Tuhan sedang ingin menguji
Sekokoh apa bahtera kita
Bisakan ia menampung hadirnya sosok baru
Ataukah kita berdua saja sudah terlampau berat
Hingga bahtera ini mulai tenggelam?
Lantas mampukah kau menjadi kapten tangguh?
Dan aku jadi awak pendukungmu?
Ataukah kita hanya bisa melihat bahtera ini karam perlahan

Bandung, 14 Juni 2015