Selalu
menyenangkan menonton film, bahkan anime, yang bercerita tentang tokoh
laki-laki yang menjaga perempuan yang ia cintai secara diam-diam. Tidak harus
pemeran utama, namun jika ia memerankan karakter seperti itu, maka seketika aku
akan jatuh cinta padanya. Itu mengapa aku selalu jatuh cinta pada tokoh Syaoran
yang selalu menjaga Sakura dalam serial kartun Cardcaptor Sakura juga dalam anime Chronicle of Wings. Juga pada tokoh Yoo Jong dalam drama Korea Cheese in The Trap yang meski terkesan
menakutkan namun itulah cara ia menjaga. Menjaga dalam diam. Tanpa pernyataan,
tanpa penjelasan.
Mungkin
hal itu juga yang membuatku jatuh cinta padamu. Laki-laki berkecamata yang
selalu fokus memandang Tiara. Meski Tiara adalah sahabatku sejak kecil, aku
tidak bisa menahan perasaan iri yang padanya yang memilikimu dalam hidupnya.
Dan rasa iri ini menggerogotiku dengan kemarahan setiap kali aku melihatnya
mengabaikanmu. Sibuk dengan Kian, kekasihnya.
Entah
sudah berapa kali aku harus melihat tatapan sendumu yang segera kau ubah ceria
setiap kali Tiara muncul di hadapanmu. Sudah 800 hari berlalu sejak aku
menemukanmu yang tidak mampu melepaskan pandangan dari Tiara. Di saat yang
sama, sebersit tanya menghampiriku, “Sejak kapan mata indah dengan iris mata
berwarna cokelat yang memikat itu memandang Tiara? Adakah ribuan hari telah kau
lalui dengan menjaga Tiara dalam diam?”
Ah,
aku ingat, sudah 1248 sejak perkenalan pertamamu dengan Tiara. Ya, aku tahu. Sebab
saat itu aku sedang bersama Tiara saat kau beranikan diri menyapa Tiara di toko
buku. Kau melihat kami kebingungan mencari buku yang ditugaskan untuk diresensi
oleh Ibu Paulina, guru bahasa Indonesia paling galak di sekolah. Buku “Cantik
Itu Luka” tidak berhasil kami dapatkan karena stoknya kosong. Kau lantas
menawarkan untuk meminjamkan milikmu pada kami, tepatnya pada Tiara. Hari itu,
binar berbeda telah kutemukan di matamu. Itu pula yang mungkin membuatmu luput
memandangku. Kamu melihatku namun tidak memandangku.
Kini,
sekurangnya 44 purnama telah kau lalui dan tetap saja binar itu kutemukan di
sana. Beberapa kali ia terlihat meredup namun tidak pernah padam. Bahkan ketika
Kian muncul dalam kehidupan Tiara.
Tidak
bisakah kau menoleh dan melihatku yang selalu berdiri di sisi Tiara? Menunggumu
menemukanku? Sebelum aku kehilangan keyakinan bahwa aku pun layak dicintai.
***
Kembali
saya menemukanmu menatap lelaki berkacamata itu dalam-dalam. Intensitas yang
disisipi harap. Berharap orang itu menoleh dan menemukanmu yang selalu berdiri
di sana. Di sisi yang tertutup oleh bayangan. Bayang seorang Tiara.
Sudah
setahun terakhir saya sulit melepaskan pandangan darimu. Pertemuan pertama saat
Kian meminta untuk ditemani ke toko buku. Katanya, kekasihnya ingin kencan
ganda. Maka Kian dengan seenaknya menyeretku untuk mengikutinya yang saat itu
datang untuk membawakan kue titipan Bunda ke Tante Rita, Bundanya Kian.
Tahukah
kamu? Saya seketika jatuh cinta pada senyum diam-diam yang terbit dari bibirmu
saat menyentuh sebuah buku. Mungkini itu buku yang sudah lama kamu idamkan. Atau
itu buku karya penulis favoritmu. Atau buku yang cover-nya membuatmu jatuh cinta, seperti yang belakangan saya
ketahui.
Saya
kembali dibuat jatuh cinta saat kamu menertawakan gaya berbicaraku. “Terlalu
serius. Nggak perlu pakai saya-kamu. Kesannya seperti atasan ke bawahannya. Padahal
kita seumur, lho.” Ya, semudah itulah kamu membuat seseorang nyaman. Namun
tidak lama, saya menemukan senyum itu memudar sesaat saat laki-laki berkacamata
itu hadir. Ikut bergabung di meja tempat kita menyantap masakan Jepang.
Sempat
saya temukan senyum lebar dan ceria saat matamu menemukan sosoknya. Namun dalam
sekejap memudar saat lelaki itu menyapa Tiara lebih dulu. Bukan dirimu. Dan sejak
itu rasa penasaran membuat saya tidak bisa melepaskan pandangan darimu.
Bagaimana kamu selalu berusaha membesarkan hati saat lelucon lelaki itu tidak
ditanggapi Tiara. Dan di titik itu, saya menyadari bahwa kelak laki-laki itu akan
membuatmu menangis.
Dan
kini apa yang saya duga terjadi.
***
“Aku
tahu suatu hari Dani akan berhasil memiliki hati Tiara. Karena dia orang baik,”
kalimat itu kukatakan lebih kepada diriku sendiri. Meyakini bahwa aku sudah
menduga bahwa kisah ini akan berakhir seperti ini. Seperti aku yang kehilangan
harapan dan harus merelakan kamu berbahagia. Ya, bagiku ini lebih baik daripada
menemukan duka di matamu.
Tidak,
bukan akhir seperti ini yang aku harapkan. Bukan.
Aku
berharap kamu akan berhenti mengharapkan Tiara demi melihatnya berbahagia
bersama Kian. Berharap kamu mau melihatku yang selalu berusaha membesarkan
hatimu saat Tiara dengan tidak tertawa pada leluconmu. Berusaha meringankan
kekecewaanmu saat Tiara membatalkan janji dan malah mengirimku untuk
menggantikannya. Berharap kamu akan menemukan bahwa aku yang selalu berusaha
ada untukmu saat Tiara terlalu sibuk jatuh cinta pada Kian dan tidak menyadari
perasaanmu.
“Kenapa
tidak mengutarakan perasaanmu padanya? Saat hubungan Tiara dan Kian masih
mesra. Jauh sebelum ini?” seketika kubuka mataku. Menatap Randi yang sedari
tadi duduk di hadapanku. Ia yang menyelamatkanku dari rasa malu akibat tidak
bisa mengendalikan diri saat mendengar bahwa kamu dan Tiara akhirnya resmi
menjadi sepasang kekasih.
“Bagaimana
bisa? Dia bahkan tidak pernah benar-benar melihatku. Pandangannya terpusat pada
Tiara. Juga hatinya,” air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya jatuh juga.
Air mata yang kusimpan sejak lama. Air mata untukmu. Air mata yang kuharap akan
segera mengering.
“Aku
mengerti,” lirih kudengar jawabannya. Namun lebih pilih kuabaikan. Kulemparkan
pandangan menembus dinding kaca yang memisahkan kafe ini dari hiruk pikuk di
luar.
***
“Aku
mengerti,” hanya itu yang bisa saya katakan padamu yang belajar merelakan perasaanmu yang tidak berbalas. Melepaskan harapan.
Ya,
saya benar-benar mengerti bagaimana rasanya menjadi dirimu. Lihat, bukankah
kita sangat mirip? Kamu sibuk menatap Dani yang memunggumi dan menatap Tiara
dengan penuh cinta. Dan saya sibuk memandangi punggungmu yang menatap Dani
dengan penuh harap.
Tapi
semoga kisah kita tidak berakhir sama. Saya akan menemanimu mengobati luka
akibat cinta diam-diam. Dan semoga setelah itu kamu mau menatapku.
***
Aku
selalu suka pada tokoh laki-laki yang menjaga perempuan yang dicintainya secara
diam-diam. Tapi aku lupa, bahwa bisa jadi karena itu si perempuan tidak
menyadari hadirnya. Seperti hadirku yang tidak terlihat olehmu. Dan seperti dia
yang tidak terlihat olehku.
Aku
lupa bahwa bisa jadi aku pun seperti perempuan dalam cerita itu. Memiliki
laki-laki yang menjagaku dalam dia.
“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi
#tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”