“Mungkin,
dalam satu periode kehidupan seseorang, hanya akan ada satu orang yang tetap
tersimpan di sudut hati, sekalipun perasaan itu tersimpan di bagian sudut hati
yang paling dalam dan gelap.” (Hal. 281)
22084966
Penulis: Pia Devina
Editor: Mita M Supardi
Proofreader: Christian
Siamamora
Penata Letak: Gita
Ramayudha
Desain Cover: Ardyana
Putri
Ilustrasi Isi: Ria
Rizki Azib
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: vi + 298
halaman
ISBN: 979-780-714-2
Jika
namamu dan namanya tertulis di gembok itu, kau dan dia akan menjadi pasangan
abadi. Begitu yang mitos itu katakan, bukan?
***
“Apa semua orang yang menuliskan nama mereka dan pasangan mereka di sini,
mengalami hidup yang namanya happily ever after dan hubungan yang tak
terpisahkan?”

Seandainya mitos itu sungguh ada. Dan, seandainya mitos itu berbaik hati untuk
mengikat kisah kita.

Namun…, mengapa orang yang kucintai itu harus kau?
Aku tahu, dan kau pun jelas tahu. Kita hanya akan terluka dengan apa yang kita
miliki.
—Rhinea
***
Jangan pernah tanya, kenapa aku bisa mencintaimu. Karena bila hati bisa
memilih, aku tentu akan memilih orang lain untuk kucintai. Bukan kau.

Mungkin, takdir sedang mempermainkan kita? Atau, justru masa lalu memang ingin
menyergap langkah kita?
—Mario

***
“Mungkin,
banyak dari cerita cinta yang berakhir perih karena dibayang-bayangi oleh kisah
dari masa lalu.” (Hal. 59)
Novel
ini bercerita tentang kehidupan Rhinea yang pergi menjenguk ibunya di Jerman
untuk mengobati luka hatinya. Harus merelakan tunangannya yang ternyata
mencintai perempuan lain jelas bukan hal yang mudah. Itulah kenapa ia butuh
ruang. Butuh hal-hal lain untuk dipikirkan dan dikerjakan.

Tadinya
ia akan berlibur ke Humburg bersama Ayahnya yang sedang ada urusan pekerjaan di
Jerman. Namun karena suatu hal, Rhinea akhirnya hanya berangkat berdua bersama
Maria, pemuda yang menjadi tangan kanan ayahnya.
Mereka
pun menghabiskan waktu bersama dengan menungjungi Kota Cologne. Mario punya
alasan pribadi hingga memutuskan untuk menghabiskan masa libur kerjanya di kota
itu. Ia ingin menyusuri jejak memori ibunya, Erika. Mencoba melihat apa yang
diceritakan oleh ibunya di dalam buku harian tersebut.
Namun
ternyata, pilihan Mario membuat ia dan Rhinea terjerat dalam simpul hubungan
yang rumit yang terjadi 20 tahun lalu. Sania, ibu Rhinea, ternyata mengenal ibu
Mario. Begitupun dengan  Bima, Ayah
Rhinea yang juga atasan Mario. Mereka bertiga, Sania, Bima dan Erika, ternyata
punya sesuatu yang terpendam. Hal itulah yang membuat kedua orang tua Rhinea
berpisah. 
Akibatnya,
hubungan Rhinea dan Mario yang berkembang dengan cepat harus segera diabaikan.
Sayang keduanya ternyata telah jatuh cinta pada satu sama lain. Tapi masa lalu
kini menjadi jurang pemisah yang sangat lebar bagi mereka. Bisakah mereka
menjebatani hal ini? Bisakan mereka meletakkan masa lalu di belakang mereka,
merelakan dan memaafkan?
“Mereka
beruntung…bisa nemuin orang yang nemenin mereka… bisa menghabiskan waktu
bersama sampai tua… dengan tetap jatuh cinta.” (Hal. 112)
***
“Walaupun
dulu hati gue udah milih dia, apa gunanya kalau ternyata hatinya dia nggak
milih gue? Dua orang bisa bersama karena kedua hati mereka saling memilih untuk
bersama, bukan?” (Hal. 143)
Membaca
novel Love Lock karya Pia Devina ini, kita akan diajak pada kisah cinta yang
terbelit oleh masa lalu. Hm.. sebut saja bahwa kesalahan dari generasi
sebelumnya membuat generasi masa kini harus menghadapi kehidupan yang sulit.
Dengan
sudut pandang orang ketiga, penulis dapat berpindah penceritaan dengan baik
sehingga seluruh konflik terlihat dengan jelas. Penulis berpindah dari
kehidupan satu tokoh ke tokoh lainnya. Bahkan penulis bisa berpindah dari masa
lalu ke masa kini. Tapi ini hanya terjadi di BAB 1 saja. Sisanya, perpindahan
waktu terjadi hanya melalui buku harian Erika yang dibaca oleh Mario.
Cara
Pia Devina bercerita sangat manis. Mengalir. Dengan tambahan informasi yang
cukup banyak tentang kota Cologne. Novel ini bisa merangkap menjadi petunjuk
liburan bagi yang ingin menghabiskan liburannya di Cologne. Saya bahkan jadi
tertarik untuk datang ke Museum Cokelat (>_<)
Namun
gaya bahasa yang dipakai dalam buku harian Erika kurang menarik.
Penggambarannya terasa membosankan. Menggoda untuk dibaca cepat. Tapi di luar
itu semuanya tetap enak untuk dibaca.
Latar
tempat benar-benar dideskripsikan secara jelas. Bahkan menjadi bagian cerita.
Tidak terasa sebagai tempelan.
Konfliknya
juga menarik, tapi puncak klimaksnya tidak begitu terasa karena sejak awal
pembaca sudah bisa menduga bahwa akan ada konflik dalam hubungan Mario dan Rhinea
akibat hubungan yang terjalin antara orang tua mereka. Selain itu, secara emosi
masih kurang bisa membuat pembaca terharu. Merasa kasihan sih iya. Tapi
perpindahan patah hati Rhinea dari tunangannya, Willy, ke Mario masih terasa
terlalu cepat. 
Tapi
keseluruhan cerita tetap menarik untuk diikuti. Yang paling menarik adalah cover novel ini. Manis ya (^_^)v
 “Ah, kenapa untuk orang lain… jatuh cinta
itu terlihat sangat indah?” (Hal. 275)
***
Puisi yang terinspirasi
oleh novel Love Lock
https://igcdn-photos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/t51.2885-15/923774_922551441113163_1457121278_n.jpg
posted on my instagram
Jika sebuah cinta membutuhkan
gembok, apakah itu karena ia membelenggu?

Sebaiknya, lepaskan dan biarkan hatimu
menentukan sendiri tujuannya