Judul : Love Story
Pengarang: Erich Segal
Tebal: 155 halaman
Terbitan: Gramedia Pustakan Utama
Cetakan: September 1997
Dipinjam dari Taman Bacaan Hendra

Pernahkah kamu jatuh cinta pada
pandangan pertama pada seseorang? Aku belum pernah. Tapi hari ini aku jatuh
cinta pada dialog pertama sebuah buku. Ya, dialog perkenalan dua orang yang
baru bertemu untuk pertama kalinya.
Mungkin sudah banyak yang pernah
mendengar sebuah novel romance klasik berjudul “Love Story” tapi aku cukup ragu bahwa ada banyak orang Indonesia
yang sudah membacanya. Terutama generasi muda. Harus aku akui bahwa karya ini
memang benar-benar bertema cinta. Tapi bukan yang picisan dan murahan dengan model
galau zaman sekarang.
Novel ini mengangkat cerita dari
sudut pandang si pria. Mungkin karena itu kesannya lebih logis dan tidak
terlalu melodramatis. Tokoh utamanya bernama Oliver Barret IV. Nama yang aneh??
Iya, pemilik namanya pun dikisahkan sangat tidak suka dengan penamaan berlabel
angka itu. Namun apa daya, kamu tidak bisa memilihkan dari keluarga apa kamu
akan lahir.
Dikisahkan bahwa Oliver Barret IV
yang mahasiswa Harvard dan kaya ini jatuh cinta dengan seorang wanita bernama
Jennifer Cavilleri yang cerdas. Jennifer yang disapa dengan nama Jenny ini
adalah mahasiswa Radcliffe yang cemerlang. Perkenalan awal mereka di
perpustakaan benar-benar menarik (aku juga mau donk mengalami perkenalan yang
menyenangkan diperpustakaan (^_^)v). Tidak ada bujuk rayu dan gombalan murahan.
Dialognya cerdas. Buku ini cukup tipis namun mampu membawa emosi pembacanya.

Awalnya konflik lebih banyak
berkisar di pola hubungan Oliver Barret IV dengan ayahnya, Oliver Barret III.
Hingga kemudian konflik puncak terjadi saat Jenny terserang penyakit. Logika
pria benar-benar menarik dicerna melalui buku ini. Tentang bagaimana mereka
menghadapi masalah, bagaimana mereka menerima kenyataan hidup. Tapi pada
akhirnya drama terpenting dalam buku ini adalah hubungan yang terjalin antara
Oliver dan Jenny. Hubungan yang saling melengkapi dan mendukung.
My Fav.Quote:
“Cinta berarti tidak perlu
meminta maaf” lebih manis di karya aslinya sih “Love is never to say you are sorry”
“Untuk jadi pemenang yang hebat,
kita harus menerima kekalahan dengan baik”
“Pendek kata, ya, aku takut
ditolak. Aku juga takut diterima dengan alasan yang keliru”