Penulis                 : Winda
Krisnadefa
Penerbit              : Qanita
Cetakan               : I,  Maret 2013
Jumlah hal.         : 262 halaman
Novel ini
termasuk dalam salah satu Naskah Unggulan “Lomba Penulisan Romance Qanita”.
Buku ini saat melihatnya pertama kali cukup bikin jatuh cinta. Kenapa??
Tampilan bukunya sangat ramah buat dibawa kemana-mana. Ukuran buku yag cukup
mini membuatnya mudah diselipkan di dalam tas sehari-hari. Selain itu sampul
dengan warna lembut itu bikin penampilan makin keren saat duduk manis menuggu
di kafe atau bahkan dipinggir jalan sembari menunggu angkot (^_^)
Macaroon Love
ini dimulai tentang keluhan simple. Ya, masalah kecil menurut saya yakni
tentang kekesalan seorang perempuan pada namanya yang tidak umum. Tokoh
utamanya bernama Magali yang berasal dari bahasa Perancis yang berarti
“Mutiara” atau lebih keren dan romantis lagi yakni “daughter of the sea”. Nama
Magali masih tergolong aneh dan tidak umum di Indonesia. Hal ini membuat Magali
harus menghadapi berbagai reaksi orang atas namany mulai dari salah menyebut
nama hingga namanya dipelesetin macam-macam (ini terjadi di zaman dia sekolah).

Novel dibuka
dengan wish birthday Magali yang setiap tahunnya sama yakni andaikan nama dia
bukan Magali. Dengan ditemani sepupu yang sekaligus sahabatnya yang bule kere
bernama Beau. Saat itu, Magali tidak menyangka bahwa usia 24 akan membawa
berbagai cerita ke dalam hidupnya. Hal ini ditandai dengan perkenalannya dengan
Ammar yang memiliki restoran “Suguhan Magali”. Ya, restoran itu memiliki nama yang
sama dengan namanya. Apakah ini sebuah kebetulan tanpa arti? Ataukah benar kata
orang bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan, selalu ada alasan untuk
setiap kejadian?
Sejak itu Magali
mulai belajar melihat dirinya melalui kacamata seorang Ammar. Selama ini dia
selalu merasa sinis bahkan terhadap namanya sendiri. Ia merasa bahwa namanya
yang aneh dan berbeda membuatnya menjadi pribadi yang aneh dan sulit di pahami
orang lain. Hal yang ia senangi berbeda dengan hal yang secara umum disenangi
oleh orang lain.
Pekerjaan Magali
sebagai freelance writer di Free Magazine untuk rubrik wisata kuliner. Ya,
Magali memang sangat menyukai dunia kuliner. Kecintaan ini mungkin dipicu
karena Jodhi, ayah Magali, bekerja sebagai juru masak di sebuah kapal pesiar.
Setiap pulang Jodhi pun membawa majalah-majalah kuliner dari negara-negara yang
ia singgahi, hal ini semakin memperluas pengetahuan Magali tentang dunia
kuliner.
Namun akhirnya
pada satu titik Magali mempertanyakan pilihannya sendiri. Tentang alasan ia
masih bertahan pada pekerjaan freelance writer yang tidak menjanjikan kemapanan
ekonomi dan tidak bisa ia nikmati itu. Magali tidak mampu menyukai pekerjaannya
meskipun membuat dia tetap berkecimpung di dunia makanan, sebab selera makan
Magali cukup aneh. Tidak umum. Berbeda. Dan dalam tulisan yang ia buat saat
meliput sebuah tempat makan, ia harus memaksa diri dan sudut pandangnya sesuai
dengan selera makan yang umum dan cenderung seragam.
Maka ketika satu
persatu masalah mengganggu pikirannya, Magali belajar memahami dan
menghadapinya. Mulai dari masa depan dan pekerjaan yang harus dia pertimbangkan
ulang dengan memperhitungkan Nene, neneknya Magali, Jodhi dan Beau hingga
masalah perasaan yang tidak bisa dia mengerti. Tentang perasaannya pada Ammar.
Dan puncaknya ketika idenya dicuri dan saat kabar buruk tentang Jodhi datang.
Saat itulah
Magali belajar menemukan hidup dan masa depannya. Magali berdamai dengan
namanya. Berdamai dengan kehidupan yang dia anggap biasa saja dan bahkan
cendurung ia pandang dengan sinis.
Yah, secara
keseluruhan buku ini jauh lebih dekat dengan kehidupan pribadi saya. Usia 24
tahun, masa depan yang belum pasti, nama yang tidak umum. Saya paham perasaan
terkait nama itu, tapi syukurlah saya pribadi sudah berhasil berdamai dengan
persoalan nama tersebut. (^_^)v
Hm..ok, secara
keseluruhan saya menyukai buku ini. Dan
jika harus memberi nilai pada buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya
nilai 8,5
(^_^)v