Penulis                 : Dyah Rinni
Penerbit              : Qanita
Cetakan               : I,
Februari 2013
Jumlah hal.         : 304 halaman
Pengejaran saya
atas novel-novel pemenang Lomba Penulisan Romance Qanita masih terus berlanjut.
Setelah memulainya dengan membaca Macaroon Love. Pengejaran saya berlanjut ke
Seven Days dan kini Marginalia. Harus saya akui bahwa kualitas-kualitas cerita
roman yang menjadi pemenang lomba ini memang bagus. Saya jadi kasihan pada
jurinya yang pasti kebingungan dalam menetapkan pemenang.
Marginalia
adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah kegiatan membuat catatan
pinggir. Setelah mengetahui makna kata ini, maka kita bisa menebak bahwa
konflik yang terjadi dalam novel ini pastilah ada hubungannya dengan catatan
pinggir yang dibuat oleh pembaca pada sebuah buku.

Kisah ini
berputar dalam kehidupan dua tokoh yakni Drupadi dan Aruna. Semua bermula dari
Marginalia yang dibuat oleh Drupadi dengan terpaksa. Marginalia itu ia tulis
demi memperoleh kesepakatan dengan pemilik Kafe Marginalia, sebab ia berusaha
melobi agar Wedding Organizer yang ia kelola bisa menggunakan tempat itu
sebagai venue. Ini semua karena
keinginan sepupunya yang sekaligus musuh utamanya, Inez. Seandainya bukan
karena Luna Nueva, Wedding Organizer milik Drupadi, membutuhkan Inez dan
teman-temannya sebagai klien maka ia tidak akan mau terus menerus mengikuti
semua keinginan Inez yang sangat hobi menggonta-ganti planing.
Namun ternyata
Marginalia yang dibuat Drupadi membuat seseorang marah. Aruna, vokalis band
rock Lescar, marah atas Marginalia singkat yang dibuat Drupadi. Drupadi menulis
“Cengeng!” di dalam buku kumpulan puisi Rumi. Buku itu bukan buku biasa bagi
Aruna. Buku ini berisi kenangan tentang ia dan Padma, kekasihnya yang setahun
lalu meninggal dunia. Seandainya buku itu tidak menyimpan kenangan sedalam itu,
maka marginalia Drupadi tidak akan dirisaukannya. Akhirnya terjadilah perang
Marginalia di antara keduanya.
Hingga akhirnya
mereka bertemu dan Aruna jatuh hati pada Drupadi. Namun sayangnya hati Drupadi
telah beku. Ia tidak lagi percaya pada cinta. Ia tidak percaya pada keajaiban.
Karenya ia pun menolak ketertarikan yang terjadi antara dirinya dan Aruna. di
tengah pusaran perasaan di antara keduanya, hadir masa lalu mereka berdua yang
membuat kebersamaan mereka semakin sulit terjadi. Konflik meluas hingga
pertikaian Drupadi dan Inez ikut memperburuk kondisi.
Lantas
sanggupkah Aruna meyakinkan Drupadi? Bisakah luka Drupadi terobati? Akankah
Drupadi memberi kesempatan bagi perasaannya dan perasaan Aruna untuk
berkembang? Konflik di dalam novel ini menarik untuk diikuti. Tokoh Padma hanya
mampir sejenak di dalam novel ini. Padma menjadi kunci awal bagi pertemuan
Drupadi dan Aruna.
Buku ini mencoba
menceritakan bahwa ada sebab-akibat dalam sebuah kejadian. Tidak ada kejadian
tunggal. Sesuatu hal yang terjadi pasti mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
kejadian lainnya. Dan di tengah lingkaran kejadian itu, sebuah keajaiban
mungkin saja terjadi. Ini mirip dengan nilai yang berusaha diceritakan dalam
buku The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom.
Nah, kalau harus
memberi nilai pada buku ini pada saya memberinya nilai 8 karena didukung pula
oleh sampul buku yang menarik dan lucu. Selain itu bentuknya yang kecil jauh
lebih mudah untuk dibawa-bawa (^_^)v