Saya yakin, semua orang sudah
pernah membaca sedikitnya satu buku yang berisi kisah hidup seseorang baik
dalam bentuk fiksi ataupun non-fiksi. Kemudian setelah membacanya, kita semua
akan berfikir dari sudut pandang kita masing-masing dan menemukan sesuatu dari
kisah tersebut. Kemudian tidak sedikit juga dari kisah-kisah itu yang membuat
kita berujar “betapa mengharukannya kisah ini”, 
“betapa menyenangkan hidupnya”, “betapa menyedihkan jalan menuju
kebahagiaan”, dan entah komentar apapun yang membuat kita merasa bahwa kisah
kita tidak seperti kisah itu.
Namun aku yakin, sebenarnya
setiap orang memiliki kisahnya sendiri yang jika dituliskan menjadi beberapa
BAB dengan intensitas emosi yang bervariasi. Ada kalanya kisah di BAB pertama
menjadi kisah yang menarik jika memiliki sisi emosional tersendiri (dan sesungguhnya setiap BAB pertama
kehidupan seseorang memiliki sisi emosional terutama jika yang menuliskan kisah
tersebut adalah ibu dan atau ayah dari pemilik kisah)
namun ada pula yang menganggap
bahwa BAB pertama kehidupannya biasa saja.
Biasanya, BAB yang paling banyak
menyimpan kisah dan kutipan-kutipan pelajaran yang menarik adalah BAB Usia
Remaja. Karena setiap paragrafnya akan mengungkapkan gairah-gairah masa muda
yang tertarik pada hal-hal baru dan menarik dalam hidupnya. Mulai dari kisah
persahabatan pertama, jatuh suka untuk pertama kali, patah hati pertama, hingga
kisah-kisah lain yang membuat kita menemukan banyak ibrah (pelajaran)
kehidupan. Dan intensitas emosi dan kemenarikan setiap buku kehidupan dalam BAB
ini berbeda-beda. Namun setiap kisah pasti memiliki titik klimaks untuk yang
terjadi di usia ini.
Kemudian untuk cerita dalam BAB
Kedewasaan akan labih banyak berkisah pengalaman-pengalam dalam menghadapi
tantangan hidup. Menceritakan tentang pergolakan batin, kekuatan keyakinan,
jatuh dan bangun dalam menghadapi berbagai problematika hidup serta banyak hal
lain yang mengisi diri dan karakter kita dengan nilai-nilai positif atau pun
negatif. BAB Kedewasaan ini biasanya menceritakan titik balik dan kesadaran
tertentu dari seseorang dalam hidup yang mungkin mengubah hidupnya secara
permanen. Namun, sekali lagi, setiap buku kehidupan memiliki kisah-kisah
“khas”nya sendiri.
Maka cobalah menulis kembali
kisah hidup entah di atas sebuah kertas ataukah hanya diatas sebuah buku
khayalan yang ada di dalam kepala. Dalam proses penulisan ulang itu, cobalah
untuk mensyukuri setiap nikmat dan memohon ampun kepada Allah atas kelalaian
kita sebagai seorang hamba Allah dan memohon maaf atas kesalahan kita kepada
orang lain, serta berterima kasih kepada orang-orang yang uluran tangannya
membantu kita melewati hari-hari yang terasa biasa hingga hari-hari yang terasa
amat berat untuk kita lewati.
Dan kemudian kita akan menemukan
bahwa kisah hidup kita tidak kalah menarik dan berarti dari apa yang baru saja
kita baca.

hm..manusia landak cenderung tidak pintar bergaul dengan orang lain..sehingga menulis dan membaca terkadang menjadi pelarian yang menyenangkan bagi kehidupan mereka..(^_^)

(^_^)
P.S: setiap kali membaca kisah tentang kehilangan seseorang yang
berarti dalam hidup, saya jadi ingin memeluk orang tua dan orang-orang
terkasihku dan mengatakan betapa saya menyayanginya agar kelak tidak akan
menyesal ketika tiba saatnya kita merasakan kehilangan yang sama. Setiap kali
membaca kisah tentang beratnya kehidupan seseorang, maka saya akan
menimbanganya dengan hidup saya sendiri, dan ketika (dan hal ini sering terjadi)
saya menemukan bahwa kehidupan saya jauh lebih mudah daripada kisah yang baru
saja saya baca, maka saya akan bersyukur dan kembali menata hidup yang lebih
baik lagi.
sesungguhnya apa yang kita baca akan mempengaruhi kita entah itu dengan lembut
atau kuat, namun dia akan tetap memberi sesuatu dalam hidup kita.
Terima kasih telah membaca
(^_^)