“Dan
jika suatu kali kau bertemu dengan seseorang di mana saja yang suka tersenyum
dan mengucapkan alhamdulillah, mungkin kau telah bertemu dengan anak cucu Ayub
dan Rahmah. Kau bisa mengucapkan salam padanya.” (Hal. 23)


Penulis: Wikan Satriati
Editor: Andriyati
Cover dan ilustrasi:
EorG
Penulis: Republika
Penerbit
Cetakan: I, Maret 2016
Jumlah hal.: 92 halaman
ISBN: 978-602-0822-211
“Tahukah
kamu, saat kamu menjawab ucapan assalamu’alaikum dengan wa’alaikumsalam, seribu
malaikat akan mengucapkan salam pula padamu.”
“Benarkah?”
“Ya.
Apakah kau tidak merasakannya?”
Si
Bocah menggeleng.
“Suatu
saat kau akan bisa merasakannya, Nak. Ketika kau menjadi lebih peka.”
***
Buku
ini membingkai Kalimat Thayyibah: bismillah, alhamdulillah, subhanallah,
assalamu’alaikum, lailahaillallah, dan astagfirullah dengan kisah-kisah, agar
maknanya lebih mudah dimengerti, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
dengan gembira oleh anak-anak.
***

“Saat
seseorang ingin menyampaikan sesuatu dan orang lain tidak mendengarkan, itu
seperti ada bara api yang bergejolak di perutnya, membakar dadanya, dan
memanaskan kepalanya. Tetapi jika orang lain mendengarkan, bara api itu akan
padam, dan yang ada kesejukan semata.” (Hal. 9)

Dalam
buku ini ada 7 cerita yang mewakili masing-masing kalimat thayyibah, yakni: bismillah,
alhamdulillah, assalamu’alaikum, subhanallah,
lailahaillah, dan astagfirullah. Cerita terakhi berkisah
tentang sebuah ladang yang berisi keenam kalimat thayyibah tadi.
Dalam
kisah-kisah ini, penulis menggabungkan antara dongeng dan kisah Islami. Di
cerita awal kita dikenalkan dengan kelembutan Rasullah. Kemudian ada juga kisah
tentang Nabi Ayyub. Ada juga penggalan kisah tentang Umar bin Khattab yang
dikisahkan sebagai bagian dari sebuah kisah. Ya, untuk cerita yang berjudul “assalamu’alaikum,
Salam Sejahtera Bagimu”
,
pembaca disuguhkan cerita berlapis. Sebuah
cerita yang di dalamnya mengandung cerita.

Hm…
favorit saya adalah cerita “Astagfirullah, Aku Menyesal”. Ada
beberapa alasan kenapa saya paling menyukainya. Pertama, karena cerita ini
sendiri terbagi menjadi 3 cerita yang tokohnya adalah Kakek Eata, ayah dan mama
Eata, dan cerita tentang Eata sendiri. Selain itu, cerita ini mengadopsi kisah
si kancil dengan sudut pandang baru yang lebih segar dan islami. Digambarkan
bahwa Kancil memang cerdik, tapi dari sudut pandang Islam sikap Kancil ini
malah terkesan buruk. Sebab ia senang memperolok orang dan memamerkan
kecerdasannya. Padahal di Indonesia dongen Si Kancil adalah salah satu cerita
yang paling populer.
Dalam
hal ilustrasi, gambar-gambarnya memang terkesan simple dan hangat. Tidak
mendominasi cerita namun mampu menyampaikan pokok cerita dengan baik.
Buku
ini menjadi bacaan yang bagus untuk anak-anak muslim. Menceritakan tentang
keteladanan dan contoh-contoh tentang perilaku yang baik dan buruk. Tapi untuk
lebih optimalnya, anak-anak tetap didampingi saat membaca buku ini karena ada
beberapa hal yang mungkin bisa menyelisihi pemahaman mereka selama ini. Seperti
kisah Si Kancil yang sering kali dielu-elukan sebagai tokoh yang pintar. Namun
ternyata lebih dekat dengan sikap licik. Sedangkan anak-anak tentu belum
benar-benar paham tentang sikap licik itu seperti apa.

“Meskipun
pada dasarnya seseorang memiliki wajah rupawan, tetapi apabila ia langsung
merasa matanya sakit dan telinganya gatal-gatal setiap kali melihat orang
berbuat kebaikan dan berbahagia, kau mungkin akan bisa melihat sosok buruk rupa
di balik wajahnya yang rupawan itu.” (Hal. 18)

***
Kumpulan Quote dalam “Melangkah dengan
Bismillah”

“Ia
terkejut tetapi tidak takut. Biasanya anak-anak kecil akan seperti itu. Mereka
tidak berpikir orang asing berbahaya.” (Hal. 32)

“Kesedihan
kadang dapat membuat siapa pn menjadi lebih peka, ….” (Hal. 72)

“…
otak adalah sebuah ruang ajaib yang siapa pun bisa mengisinya dengan apa saja.
Tetapi siapa pun harus hati-hati sebelum memutuskan apa yang akan disimpan di
dalam otaknya karena itu akan menentukan jati dirinya.” (Hal. 76)

“…
setiap harapan yang baik akan selalu bisa menemukan jalan menjadi kenyataan.”
(Hal. 77)

“Sebagaimana
yang selalu terjadi, di dunia ini segala sesuatu akan terdiri dari dua hal.
Jika ada saat-saat nakal, ada pula saat-saat menyesal.” (Hal. 78)

“…
kecerdikan baru akan menjadi satu hal yang bernilai di dunia ini apabila
dipergunakan untuk kebajikan dan kebaikan. Dengan demikian dunia ini akan
semakin indah.” (Hal. 83)