“…,
dia selalu berpikir, yang paling menyedihkan di dunia adalah dilupakan oleh
orang-orang yang dia cintai. Ternyata ada yang lebih dari paling menyedihkan di
dunia: melupakan orang-orang yang dicintai.” (Hal. 154)


Penulis: Dedek Fidelis
Penyunting: Dedik
Priyanto
Penyelaras akhir: Diah
Utami
Pendesain sampul: Fahmi
Fauzi
Ilustrator isi: Fahmi
Fauzi
Penata Letak: Tri Indah
Marty
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: iv + 220
halaman
ISBN:978-979-795-904-3
Bagi
Kiara, kejutan datang bersama denting piano Pachelbel Canon in D yang dimainkan
sosok pemuda di sebuah senja, sepersekian detik selanjutnya, ia jatuh cinta
pada pemuda itu.
Namun,
saat Kiara merasa telah menemukan cinta pertamanya, ia justru mengalami
kecelakaan. Kiara berpikir ia sudah meninggal, tapi sesuatu yang tidak pernah
ia percaya terjadi. Kiara mengalami perjalanan waktu; berpindah ke masa depan
dan berjumpa dengan banyak hal yang tak pernah ia bayangkan.
Lalu
apakah cinta Kiara menghilang begitu saja seperti halnya waktu yang acapkali
menipu?
***
Gio
Tidak
peduli berapa kali aku akan terlahir kembali dan bertemu denganmu, tidak peduli
di mana dan bagaimana kelak kita akan berjumpa, aku akan selalu jatuh cinta
kepadamu. Lagi, dan lagi.
Kiara
Kau
masih ingat cinta pertamamu? Aku masih. Dan cinta pertama dalam hidupku hadir
dari waktu yang tidak mungkin lagi kita bertemu.
***

“Kautahu,
seseorang pernah mengatakan kepadaku, kita tidak akan benar-benar meninggal,
selama masih ada orang-orang yang mengingat dan menyimpan diri kita sebagai
kenangan. Dilupakan, adalah bentuk kematian yang sesungguhnya.” (Hal. 1-2)

Kiara,
seorang remaja putri yang tengah menikmati kehidupan berseragam putih abu-abu.
Suatu hari tanpa sengaja ia jatuh cinta pada sesosok pemuda yang memunggunginya
seraya memainkan sonata klasik. Ia jatuh cinta pada punggung itu. Kiara pun
memberanikan diri untuk meninggalkan sebuah surat untuk pemuda itu. Pemuda yang
hanya ia kenali punggungnya. Suratnya ternyata berbalas. Sayangnya, ia tidak
sempat membaca surat itu sebab sebuah kecelakaan membuatnya menjalani kehidupan
yang “lain”.
Setelah
kecelakaan itu, Kiara malah terbangun di masa depan. Ya, ia terlempar ke masa 2
tahun yang akan datang. Sahabatnya, Adrian, sudah sering menceritakan tentang time traveler, atau perjalanan waktu,
namun ia tidak memercayainya. Namun kini ia mengalaminya sendiri.
Orang
pertama yang ia temui di masa depan adalah Gio. Gio-lah yang mendampingi Kiara
melewati waktunya. Ia menampung Kiara di apartemen miliknya. Meminjamkan baju
untuk gadis itu, dan berbagai hal lainnya. Perlahan Kiara merasa nyaman
menjalani kehidupan bersama Gio. Meskipun tentu saja ia masih merindukan
keluarganya. Namun ia tidak memiliki kebaranian untuk mencari kedua
orangtuanya. Ia tidak ingin jika ia mengganggu keseimbangan waktu.
Perlahan,
ia dihinggapi kecemasan. Sampai kapan ia akan terus berada di masa depan?
Bagaimana kehidupannya di masa lalu? Selain itu, perlahan ada cinta yang tumbuh
di antara Kiara dan Gio. Membuat keduanya selalu berusaha menikmati apa yang
mereka miliki saat ini, sebab mereka tidak pernah tahu kapan kebersamaan itu
akan mendadak berakhir.
Menurutmu,
bagaimana kisah Kiara akan berakhir, Readers? Dapatkah ia kembali ke masa lalu?
Adakah masa depan untuk ia dan Gio?

“Ketika
kamu merasa sedang kacau, pejamkan kedua matamu, lalu tarik kedua sudut bibirmu
perlahan, tersenyumlah dan katakan berulang kali kepada dirimu sendiri bahwa
segala sesuatunya baik-baik saja.” (Hal. 39)

***

“Hidup
itu memang penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak pernah diduga.” (Hal. 54)

Awalnya
saya berpikir bahwa novel yang ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang
ketiga ini ditulis oleh seorang perempuan. Ini karena yang paling banyak
disorot adalah kehidupan Kiara sehingga lebih banyak bersentuhan dengan
kehidupan seorang remaja putri. Namun saat membaca halaman 59, saya menemukan
pembahasan tentang make-up. Pada bagian ini, terasa bahwa yang menulis adalah
laki-laki. Karena kurang detail. Namun hanya dibagian ini hal tersebut terasa.
Namun di bagian lainnya sudah bagus.
Untuk
penokohan, kehadiran tokoh-tokoh lain selain Kiara, Gio, dan Adrian kurang
menyatu dengan cerita. Sosok Alvin dan Novinta kurang dimanfaatkan untuk
menambah warna dalam cerita ini. Padahal bisa menambah riak dalam hubungan Kiara
dan Gio. Ini membuat intensitas konflik utama di novel jadi kurang tajam.
Dalam
hal setting masih kurang banyak dieksplorasi, terutama untuk setting tempat.
Namun perbedaan dua tahun yang dialami Kiara ditulis dengan matang dengan
menghadirkan fakta yang memang nyata terjadi di Indonesia dalam kurun waktu dua
tahun yang “dilompati” Kiara.
Dalam
hal detail cerita, disuguhkan dengan pas. Tidak terlalu minim tapi juga tidak
terlalu banyak. Seperti di halaman 102 ada pembahasan tentang Kara dan Kira.
Saat berumur 1 tahun Kara meninggal dan sejak itulah Kira dipanggil Kiara. Ini
fakta yang menarik meski sebenarnya tidak memengaruhi jalan cerita secara
signifikan.
Oiya,
rasanya selalu menyenangkan saat menyadari penulis yang karya sedang saya baca
ternyata membaca buku yang sama dengan yang saya baca. Bahkan membaca salah
satu buku favorit saya. terdapat kutipan dari buku Mitch Albom, salah
seorang penulis kesayangan saya, di halaman 79: “Mitch Albom, si penulis buku
itu, menuliskan gini; cinta yang hilang tetap cinta, Eddie. Hanya bentuknya
saja yang berbeda. Kenangan menjadi pasanganmu. Kau memeliharanya. Kau
mendekapnya. Kau berdansa dengannya.”
Ah, itu kutipan dari buku “The
Five People You Meet in Heaven”. Silakan baca ulasannya di sini:
Secara
keseluruhan novel ini adalah novel remaja yang manis. Enak dibaca di saat
santai dan mengisi waktu luang.

 “Kupikir, setiap manusia pasti takut bila
merasa sendiri. Enggak ada seorang pun manusia yang benar-benar ingin sendiri,
bahkan orang paling kuat sekali pun!” (Hal. 100)

***
Kumpulan Quote dalam Melodi
“…
mana yang lebih menyedihkan, di antara dua orang yang saling mencari lalu
menemukan satu sama lain tetapi hanya bisa bersama dalam waktu singkat, atau
dua orang yang saling mencari tetapi tidak kuncung menemukan salah seorang yang
lain dan malah saling melewatkan?” (Hal. 117 – 118)
“…
cinta itu adalah hal paling sederhana namun akan terasa istimewa bisa bersama
dengan orang yang tepat. Seperti dua orang yang saling berjauhan namun masih
saling mendoakan masing-masing di antara mereka. Sesederhana itulah cinta.
Saling percaya.” (Hal. 118)
“Baginya,
cinta pertamanya serupa melodi piano yang didentingkan cowok itu. Begitu indah.
Dirinya sebagai tuts berwarna hitam, dan cowok itu sebagai tuts berwarna putih.
Bersama-sama, mereka berdua membentuk harmonisasi.” (Hal. 119)
“Waktu
terus berputar. Manusia terus berubah. Segala sesuatu terus silih berganti. …
tapi, akan ada beberapa hal yang tidak akan pernah berubah.” (Hal. 123)
“Yang
terpenting dari hidup kita bukanlah mencemaskan masa depan atau mencoba
melupakan masa lalu. Yang terpenting adalah masa sekarang ini, masa di mana lo
hidup.” (Hal. 140)
“Terlalu
mencemaskan masa depan hanya akan membawa kita pada kesia-siaan. Yang
terpenting bukan apa yang akan terjadi di masa mendatang, melainkan apa yang
kita lakukan, kita rasakan, kita mampu wujudkan pada masa kini.” (Hal. 146)
“…
yang melemahkan sekaligus menguatkan–cinta. Ketika kautahu kau mencintainya,
kau akan merasa, kau bisa melalui segalanya.” (Hal.207)