Siapa bilang membaca fiksi itu pekerjaan tidak berguna?
Siapa bilang cerita rekaan hanya akan membuat khayalan kita membumbung tinggi?
Pernah membaca buku “9 Matahari” karya Adenita?
Jujur, buku ini pada awalnya membuatku bosan setengah mati.
Alhasil, sejak membelinya pada Desember 2009, baru pada Mei 2011 ini aku berhasil menamatkan  buku ini.
Moment yang agak terlamat sebenarnya.
Namun tidak ada kata terlambat dalam memungut berbagai ilmu kehidupan yang terserak disepanjang kisah hidup kita kan?
Sebenarnya aku bermaksud untuk memposting berbagai kalimat bijak dan berbagai inspirasi hidup yang tercecer dalam buku ini. Namun, izinkan lah aku terlebih dahulu menuntaskannya kemudian berbagai banyak hal yang kutemukan saat membaca karya Adenita tersebut.
InsyaAllah akan ada satu postingan (atau bahkan 2 jika ternyata satu tulisan tidak bisa cukup mengulasnya) yang akan membahas berbagai nilai positif karya ini.
Satu hal yang aku temukan bahwa,
“setiap buku selalu memberi nilai pembelajaran tersendiri. Seburuk apa pun buku itu, keburukan dari buku itu mengajarkan kita untuk menemukan sebuah kebaikan”
Selain itu aku juga menyadari bahwa kita tidak akan menyukai sesuatu jika sejak awal hanya mampu memulainya tanpa berusaha menyelesaikannya. Seperti ketika membaca buku ini, cerita awal buku ini bagiku – penikmat fiksi sejak kecil- sangatlah membosankan. Hingga akhirnya menolak untuk menyelesaikannya. Namun ternyata ketika ada sebuah moment untuk menyelesaikannya (meski pada awalnya karena keterpaksaan demi “membunuh waktu”), aku akhirnya bersyukur telah membeli buku ini. Bagian tengah hingga akhir buku ini banyak motivasi positif terkait pendidikan yang sayang untuk diabaikan. Itulah sebabnya kalimat “tidak kenal maka tidak sayang” tetap lekang sepanjangan zaman. Karena pada dasarnya kita tidak akan bisa menemukan sesuatu yang akan membut kita “jatuh cinta” hingga kita berusaha mengenal seluruh seluk beluk dan “isi” dari sesuatu.
Makassar, @ kamar sementaraku
23:56