“Kamu
cukup melakukan satu hal, Ries. Cukup merindukanku sekali saja, karena dengan
begitu aku akan punya alasan untuk datang dan mencintaimu sebanyak yang aku
mau.” (Hal. 277)

19546574
Penulis: Nay Sharaya
Editor: Anin
Patrajuangga
Desain Kover: Lisa Fajar
Riana
Penata Isi: Ana
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: vi + 280
halaman
ISBN: 978-602-251-329-2
Kau
menganggapku seorang puteri, bukan? Lalu, apa jadinya jika kau tahu, sosok
puteri yang diam-diam menyergap hatimu ini hanya seorang makhluk aneh kesepian,
yang kehilangan jati dirinya. Apakah cinta akan tetap sama? 

Ternyata, ini hanyalah tentang sepenggal kisah-kisah di ujung hari yang
menunggu akhir. Tapi, saat ia ingin menyerah, seseorang tiba-tiba membuat
janji.

“Membuat kamu aman adalah kegemaranku yang baru. Jadi siap-siap saja aku
lindungi, oke?”
Hanya karena sebuah janji, sesuatu berubah. Sebuah janji yang membuatnya mulai
percaya dan berharap. Namun kemudian, ia sadar bahwa sebuah janji tak akan
pernah bertahan lama. Karena itu, ia memutuskan untuk menjauh dan bertahan
dengan caranya sendiri. 

“Pernah suatu saat aku mencoba membayangkan masa depanku. Kau tahu?
Membayangkan masa depanku tanpa ada kau di dalamnya, rasanya sangat aneh.”
***
Cerita
dibuka dengan sebuah insiden yang terjadi di laboratorium yang melibatkan tokoh
utama, Mories. Ia menjadi salah satu orang yang terjebak di dalam ruang
laboratorium yang terbakar. Anehnya, percakapan para tokohnya malah menunjukkan
bahwa Mories adalah dalang dari kejadian itu.
Setelah
itu cerita maju ke kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang diikuti oleh
Mories. Kesialan Mories yang terpaksa menjadi teman Tiyanna, siswi kelas X
seperti Mories yang sangat senang melawan senior. Sejak itu, takdir seolah
mengikat Mories dengan Tiyanna. Kehadiran Alan, Ketua Osis, yang selalu
mengajak Tiyanna perang tapi bersikap baik pada Mories menjadikan cerita kian
kompleks. Ada pula Chandra, Ketua Panitia MOS yang selalu baik pada Tiyanna
namun selalu bersikap kasar pada Mories.
Cerita
pun berlanjut ke hari-hari berikutnya. Kehidupan Mories sebagai siswa kelas X
pun sangat berwarna. Sayangnya, karena Tiyanna, Mories pun menjadi sasaran
tindakan senioritas. Ditambah lagi karena Alan yang cukup populer di sekolah
kini mendekati Mories. Membuat Mories menjadi target gencetan para senior
perempuan yang menyukai Alan.

Kemudian,
satu persatu orang yang melukai Mories terluka. Kemudian masa lalu Mories pun
terungkap. Mories ternyata memiliki kepribadian yang berbeda. Ia manusia yang
berbeda. Secara emosi dia “lumpuh”.
***
Sejak
awal membaca novel, aku segera menangkap bahwa ada yang salah dengan karakter
Mories. Dengan pengulangan pada penggambaran Mories dengan menampilkan bahwa
Mories lebih terkesan sebagai sosok yang tidak punya emosi. Mata yang kosong. Sikap
diam yang tidak terlihat ketakutan saat diancam atau dimarahi. Penggambaran yang
berulang-ulang tersebut sangat jelas.
Jawaban
tentang hal ini akhirnya muncul setelah beberapa konflik. Yakni sikap Alan dan
Chandra yang membingungkan Mories. Tuduhan Mories kepada ayahnya yang telah
memerintah seseorang untuk menjaganya di sekolah. Mories menduga orang tersebut
adalah Alan. Tapi benarkah?
Penulis
kemudian mempertajam konflik dalam novel ini dengan membuat Mories dan Tiyanna
jatuh cinta pada orang yang sama. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis jadi lebih bebas menampilkan pergulatan setiap tokoh pada perasaan dan pikirannya.
Konflik
di dalam novel ini membuat saya cukup penasaran. Saya bertanya-tanya ada apa
sebenarnya dengan Mories? Dan ini terjawab di halaman 152. Mories menderita Urbach-Wiethe
disease
. Kerusakan pada bagian tertentu dari otak yang membuat
seseorang tidak mengenal rasa takut dan empati.
Mengangkat
penyakit ini dalam novel ini adalah ide yang menarik. Sayangnya, eksekusinya
kurang total. Penggambaran Mories sebagai penderita gangguan genetik ini kurang
banyak. Hanya digambarkan saat menghadapi senior atau sikap kasar orang, serta
saat ditakut-takuti dengan tikus. Pada hal-hal kecil kurang digambarkan. Selain
itu, perasaan Mories terhadap Alan entah kenapa terasa kurang pas. Bagaimana
mungkin rasa suka Mories bisa tumbuh dan itu seolah menyembuhkan Mories secara
mendadak.
Selain
itu, dalam novel ini kalimat “seperti di drama-drama Korea” terlalu sering
muncul. Rasanya lucu saja sih membaca sebuah adegan yang terkesan “Korea banget”
harus mendapat penjelasan semacam itu. Saya pikir jika benar adegan digambarkan
dengan baik dan dibuat mirip dengan film-film Korea, pembaca akan segera
menangkap hal itu.
Oiya, sedikit komentar tentang sampulnya. Manis banget. Sayangnya terasa kurang sesuai dengan ceritanya.
Tapi
secara keseluruhan, saya suka dengan konflik-konflik yang dibangun. Tentang
sikap Alan, Chandra, dan Tiyanna. Terutama ide unik yang menjadikan Urbach-Wiethe
disease
sebagai kunci cerita. (^_^)
“Ada
wanita-wanita tertentu yang hanya ditakdirkan menjadi kekasih sesaat. Namun ada
pula wanita-wanita tertentu yang jauh lebih beruntung, yang hanya layak
dijadikan kekasih selamanya. Kau tahu? Kau selalu berada di posisi yang kedua.
Aku meyakini itu.” (Hal. 278)
***
http://photos-f.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10948702_637969456332109_1776661973_n.jpg
sumber foto: Instagram @atriasartika


Menjagamu adalah inginku
Enyahkan gundahmu jadi wajibku
Menjadikanmu milikku jadi mimpiku
Orang boleh meragukannya
Ribut mendebatnya
Itu tidak akan melemahkanku
Esok akan datang tuk buktikan
Sejatinya kau memang untukku