“Sejatinya
jalan yang berliku, jalan apa saja, menghadirkan keindahan dibandingkan jalan
yang lurus. Lebih kaya makna dan pengalaman.” (Hal. 96)


Penulis: Dian Nafi
Cetakan: Pertama, Juli
2016
Penyunting: Dila
Maretihaqsari
Perancang sampul:
Musthofa Nur Wardoyo
Ilustrasi sampul:  Desti Intan
Pemeriksa Aksara:
Nurani
Penata aksara: Rio
Digitalisasi: Faza
Hekmatyar
Penerbit: Bentang
Pustaka
Jumlah hal.: v + 230
halama
ISBN: 978-602-1383-99-5
Ini adalah e-book
terbitan Bentang Pustaka yang saya beli di Playstore
Mukti
resah karena kakaknya, Ayu, tak kunjung menikah. Ada saja yang membuatnya gagal
mendapatkan calon suami. Karena itu, Ayu melontarkan pertanyaan yang bombastis.
Jangan-jangan mereka masih keturunan sunan? Konon, keturunan sunan memang dapat
ujian hidup yang lebih berat dan berliku.
Awalnya
Mukti tak menggubris hal itu sampai dia mengalami sendiri nasib sialnya.
Larasati, gadis pujaannya ternyata lebih memilih putra seorang kiai. Mukti
merasa terbanting. Ia jadi berpikir seandainya benar keturunan wali, tentu
harga dirinya akan naik di mata Larasati dan yang lainnya.
Demi
mengejar sebuah mukti atau kemuliaan, akhirnya seorang Mukti pun pergi mencari
tahu lebih jauh silsilah keluarganya. Ia berharap status kehormatan itu memang
milik keluarganya. Dari kota ke kota, dari makam ke makam, hari-harinya
dipenuhi pengalaman yang tak terbayangkan sebelumnya.
***

“Kalau
kamu kerja keras, tidak lihat dia ini keturunan siapa, ya pasti akan sukses
tho, Mukti.” (Hal. 26)

Mukti
baru saja lulus kuliah. Ibunya tiada henti menyuruhnya untuk segera mencari
kerja. Terutama berusaha menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun Mukti masih
ingin mengambil jeda sebentar. Sebelum secara aktif mencari pekerjaan. Ini
membuatnya memiliki cukup banyak waktu luang.
Selaini
itu, Mukti sedang tertarik dengan seseorang. Larasati, perempuan yang juga
berhasil memikat hati banyak pemuda lain selain Mukti. Namun, Mukti merasa
minder dengan salah satu saingannya dalam memperebutkan hati Larasati. Ini
karena laki-laki masih keturunan Kiai, sedang dalam masyarakat tempat Mukti
lahir dan dibesarkan status sebagai keturunan ulama atau kiai atau sunan adalah
status yang dihormati, serupa dengan status ningrat.
Suatu
hari, ia mendapati bahwa ada sebuah silsilah keluarganya yang berujung pada
seorang sunan yang terkenal. Ia pun merasa bahwa harus membuktikannya. Sebab ia
melihat bahwa banyak hal menjadi mudah jika seseorang masih keturunan ulama
atau kiai hingga sunan. Maka ia berpikir untuk mencari tahu hal itu. Mengejar
kemuliaan yang bisa saja memang miliknya dan keluarganya.
Dengan
berbekal silsilah itu, Mukti pun melakukan perjalanan dari kota ke kota, dari
makam ke makam, dari pesantren ke pesantren untuk membuktikan kebenaran
silsilah itu. Yang dilakukannya mendapat dukungan dari kakaknya yang sedang
galau karena jodoh. Kakak perempuan Mukti merasa bahwa kemalangan yang
menimpanya hingga sulit mendapatkan jodoh disebabkan oleh ujian karena mereka
masih keturunan sunan.
Kira-kira
bagaimana hasilnya? Benarkah Mukti masih keturunan seorang sunan? Apakah ia
akan meraih kemuliaan itu? Apakah memang mukti (kemuliaan) karena keturunan itu
masih sesuai dengan zaman sekarang?

***

“Kadang
kebelumtahuan menjadikan seseorang berani menempuh medan.” (Hal. 145)

Novel
karya Dian Nafi ini bisa saja dikategorikan sebagai novel religi. Namun tidak
sepenuhnya seperti itu. Karena bahasan terkait syariat malah terasa sangat
kurang. Terkait ibadah pun tidak seberapa.
Melalui
novel karya Dian Nafi ini kita malah diajak menelusuri banyak hal. Mulai dari  pesantren. Serta berbagai kebiasaan terkait
mengunjungi makam para sunan dan kiayi. Peringatan haul orang-orang yang
dihormati masyarakat serta keriuhannya.
Selain
itu dalam novel ini, pembaca diajak untuk mengunjungi berbagai tempat yang non-mainstream di Jawa Timur. Bukannya
diajak mengunjungi tempat-tempat yang terkenal di kota besar, pembaca diajak
mengunjungi berbagai kabupaten yang memiliki tempat-tempat menarik dengan
pemandangan yang menakjubkan seperti Lamongan, Tuban, Jogoloyo, hingga
Banyuwangi.
 Salah satu yang menarik adalah tempat seindah
Alas Purwo, yang termasuk sebagai salah satu taman nasional terbesar di
Indonesia. Ini pertama kalinya saya membaca buku yang membahas tentang tempat
tersebut.
Selain
itu, saya juga baru pertama kali mengetahui tentang blue fire yang ada di Kawah Ijen yang muncul saat matahari terbit.
Fenomena blue fire ini digambarkan
dengan sangat memesona. Membuat pembaca tertarik untuk melihat langsung
keindahan ciptaan Allah tersebut.
Ada
juga kemeriahaan “Festival Banyuwangi” yang kini menjadi festival tahunan.
Berbagai kebudayaan Banyuwangi ditampilkan. Salah satunya tarian Gandrung.
Masih banyak budaya lain Banyuwangi yang ikut diceritakan di dalam novel ini.
Sedikit
yang terasa mengganggu hanyalah cara penuturan cerita yang masih terkesan
terlalu serius. Kaku. Selain itu beberapa kali deskripsi perjalanan masih
kurang menarik. Namun untuk deskripsi tentang festival, Alas Purwo dan Kawah Ijen
tampil dengan menarik, kok.
Oiya,
sisipan sociopreneur di dalam novel
ini sebenarnya bagus. Hanya saja terasa masih kurang smooth. Terutama di akhir novel. Karena masih terkesan menggurui.
Bisa jadi karena penuturan yang terlalu serius itu. Kurang casual sehingga malah membuat ending cerita menjadi anti-klimaks.
Kurang menarik lagi.
Terakhir,
yang membuat saya cukup menyukai novel ini adalah pesan yang berusaha ia
sampaikan. Bahwa kemuliaan itu sebenarnya bukanlah tentang keturunan. Melainkan
sikap kita sendiri. Walaupun keturunan seorang kiyai, jika tingkah lakunya jauh
dari agama, tidak bisa menjadi teladan bak seorang kiyai, maka ia bukanlah
orang yang layak dihormati. Tapi meskipun ia bukan seorang kiyai, namun
memiliki ilmu yang luas, sikap yang baik, serta bermanfaat bagi banyak orang,
maka orang-orang akan segan dan menghormati.