Apa, untuk Siapa dan Kenapa Journaling?

Saat mendengar kata Journaling, banyak yang mengasosiasikannya dengan jurnal ilmiah atau ada juga yang langsung membayangkan kegiatan jurnalistik. Ini tidak salah sih. Tapi yang dimaksud dengan Journaling oleh para penggiat Journaling sebenarnya merujuk pada kegiatan membuat rekam jejak harian personal. Semacam diary.

Atau kalau merujuk pada arti kata journal dalam English dictionary adalah : “a daily record of news and events of a personal nature; a diary”. Yup, jadi journaling yang dimaksud kali ini adalah kebiasan menulis catatan harian yang berisi berita dan kejadian pribadi (personal). Sebuah diary. Itu sebabnya mereka yang menekuni kegiatan journaling sering disebut diarist.

daily journal AtriaSartika

Daily Journal AtriaSartika

Tapi dalam perkembangannya, journaling ini berkembang dengan berbagai tipe mengingat bahwa kegiatan ini sangat personal sehingga setiap orang tentu memiliki tipe journal yang sesuai untuk dirinya. Bahkan semakin lama menekuninya, bisa jadi ia menemukan bentuk journal modifikasi yang sesuai dengan karakter dan kebutuhannya

 

Mungkin ada yang akan nyeletuk, “Ah, ini sih sama aja kaya nulis diary. Kegiatan ini cewek banget.” Jangan salah, Ganteng. Kata siapa journal itu hanya domain perempuan? Tahu Leonardo Da Vinci? Beliau itu diarist lho. Kalau pernah menonton kisah kehidupan beliau terutama yang dokumenter, berkali-kali akan disebutkan “dalam catatannya”. Beliau ini selalu membawa buku catatan ke mana-mana. Tercatat bahwa beliau menghasilkan sekitar 20.000 sampai 28.000 halaman catatan dan sketsa antara tahun 1478 dan 1519. Salah satu karya yang paling familiar selain Mona Lisa, mungkin adalah sketsa Manusia Vitruvian. Kelihatan banget kan kalau ini adalah sebuat sketsa yang detail dan dibuat dalam sebuah buku catatan.

Manusia Vitruvian

Manusia Vitruvian (sumber: Wikipedia)

Selain Leonardo Da Vinci, ada juga Thomas Edison, Charles Darwin, dan banyak tokoh lain. Dan sejujurnya saya menemukan bahwa mereka yang produktif biasanya didukung oleh kebiasaan mereka dalam mencatat. Minimal mereka punya buku yang berisi bank ide. Dan ini bisa jadi masuk dalam salah satu jenis journal.

Kegiatan journaling ini diyakini oleh banyak ahli (yang telah melakukan penelitian tentang hal tersebut) mampu menjadi strees healing karena membantu untuk me-manage stress. Menulis perasaan dan kemudian berkontemplasi melalui jurnal harian bisa mengurangi stress. Selain itu journaling mampu: (1) mengurangi gejala asma, arthritis dan sejumlah kondisi kesehatan lainnya; (2) meningkatkan fungsi kognitif; (3) meningkatkan sistem imun; (4) menangkal banyak efek negative dari stress.

 

Apalagi dalam situasi pandemi Covid 19 seperti ini, journaling bisa berguna, lho. Minimal agar kita tidak stress di tengah kepungan informasi tentang Corona yang malah berpotensi menurunkan sistem imun kita. Jadi mumpung kita dianjurkan oleh pemerintah untuk di rumah aja (#dirumahaja), kita bisa mencoba sendiri kegiatan journaling ini. Apakah benar-benar bermanfaat seperti hasil penelitannya? Beneran bisa kita bisa lebih tenang menghadapi perubahan situasi akibat virus Corona yang berkembang dengan cepat di Indonesia? Apa hanya dengan kegiatan menulis, rasa cemas akibat Covid 19 ini benar-benar bisa berkurang?

Daripada menambah kecemasan akibat virus Corona ini, lebih baik kita menyibukkan mata, tangan, dan pikiran dengan belajar hal baru. Salah satunya yang bisa dicoba ya kegiatan Journaling ini.

Nah, sekarang jadi mikir, kalau mau melakukan kegiatan Journaling kita harus mempersiapkan apa? Mulai dari mana?

Eits, tahan dulu. Sebelum praktik, yuk kenali dulu beberapa jenis journal, biar bisa punya bayangan mau memanfaatkan kegiatan journal ini untuk apa Nah, ada beberapa jenis journal nih:

Mulai Journal mu sendiri

  • Traditional Journal

Tipe journal ini secara sederhana bisa dikatakan sebagai diari versi kreatif. Untuk yang terbiasa menulis diari, akan sangat mudah beralih ke traditional journal ini. Bahkan bisa jadi lebih menarik rasanya karena bisa sambil menyalurkan kreativitas. Di traditional journal ini, bukan hanya kata-kata yang dipakai untuk menuangkan isi pikiran melainkan gambar (bisa foto, bisa doodle, bisa sketsa) dan ephemera (barang2 koleksi yang awalnya memiliki kegunaan atau popularitas jangka pendek seperti tiket, bording pass, brosur, dll).

Penekanan traditional journal adalah sebagai media untuk menceritakan kembali sebuah kejadian yang telah dialami. Semacam kilas balik kehidupan kita. Bisa jadi tentang hal yang telah terjadi hari ini, kemarin, pekan lalu, bulan lalu, hingga bertahun-tahun lalu yang ingin kita tuang secara detail tentang peristiwa tersebut.

 

 

  • Bullet Journal

Di Indonesia, bullet journal mulai populer sejak sejumlah influencer mulai membagikan cerita tentang kebiasaan mereka menggunakan bullet journal sebagai pendukung produktivitas mereka. Apa bedanya Bullet Journal dengan jenis journal lain sehingga jadi primadona dibandingkan yang lain? Ini karena cakupan bullet journal tuh luas. Di dalam bullet journal ada catatan kegiatan (planner), catatan kejadian atau peristiwa (semacam diary), to do list, tracker (biasanya terkait habbit yang ingin dibangun), catatan ide, koleksi, quote hingga doodle. Semua ini digabung dalam 1 buku.

 

Hanya saja yang berkembang sudah model bullet journal yang telah dimodifikasi oleh masing-masing orang. Padahal kalau Bullet Journal itu sudah ada sistemnya sendiri: seperti harus pakai key bullet, indeks, koleksi dan migrasi.

Selengkapnya tentang bullet journal ini bisa dibaca di link berikut: https://www.ewafebri.com/2019/01/panduan-lengkap-bullet-journal-indonesia-2019.html#1

 

Tapi mostly yang saya lihat, yang mengaku membuat bullet journal nggak pakai pakem ini.

 

  • Art Journal

Seperti namanya, art journal menjadi media seseorang untuk menuangkan seni yang ingin disampaikannya. Bisa dengan bereksperimen dengan berbagai media, pensil warna, cat air, dan sebagainya untuk menghasilkan sebuah seni. Untuk lebih detail bisa coba search di youtube dengan kata kunci, “art journaling”, nanti akan muncul banyak kreasi menarik yang memanfaatkan banyak media yang melibatkan satu buku dengan halaman yang penuh dengan karya seni.

  • Gratitude Journal

Kalau untuk gratitude journal ini, sebenarnya konsepnya lebih simple. Kita membiasakan diri menuliskan hal-hal yang kita syukuri setiap hari. Bua tapa? Ya buat kita sadar bahwa sesungguhnya banyak hal yang bisa kita syukuri di tengah-tengah kondisi yang menyesakkan dada sekalipun.

Saya sempat memaksa diri membuat gratitude journal di pertengahan tahun lalu. Dan bertahan selama setengah tahun. Itu adalah titik di mana saya merasa bahwa kehidupan yang saya jalani sangat berat. Gratitude journal memaksa saya untuk fokus menemuakn hal-hal terkecil sekalipun untuk bisa saya syukuri. Sekadar datang ke kantor tanpa terburu-buru dan tanpa tangisan anak-anak pun bisa jadi kesyukuran meski di hari itu saya diomeli atasan dan diberi aliran pekerjaan yang mengalir deras.

Gratitude journal benar-benar berhasil memaksa saya untuk selalu bisa bersyukur. Kenapa berhenti? Karena akhirnya saya mulai terlalu sibuk untuk mengisi banyak journal dalam satu waktu.

 

  • Ideas Journal

Nah, kalau untuk ideas journal ini saya malah membayangkan Da Vinci yang jalan-jalan ke mana-mana sambil mengantongi Ideas Journalnya. Melihat hal tertentu yang menarik langsung dibuatkan sketsa diserta ide yang melintas tentang hal tersebut.

Untuk yang suka menulis, buku ini bisa jadi bermanfaat untuk mengumpulkan timbunan ide yang kadang datang tanpa diduga. Lagi di kamar mandi muncul sebuah ide, sebaiknya setelah keluar dari kamar mandi bergegas raih Ideas Journalnya terus langsung tulis ide tersebut. Jadi kalau suatu hari kita merasa kehabisan ide, kita tinggal mengecek buku ini.

 

  • Quran Journal

Untuk Quran Journal ini, bisa dimanfaatkan untuk mencatat taklim-taklim yang kita ikuti. Liqo-liqo yang kita hadiri. Kalau lagi tidak ada Liqo atau taklim, kita bisa jadikan Quran Journal ini sebagai media untuk latiha menulis Kaligrafi Al Quran. Bisa juga jadi media curhat yang kemudian kita menemukan ayat yang cocok dan jadi solusi bagi masalah tersebut. Jadi semacam reminder yang kalau suatu hari kita baca ulang, akan menguatkan keimanan kita.

 

Selain jenis-jenis journal di atas, masih ada banyak journal lain seperti doodle journal, morning journal, junk journal, dan lain sebagainya.

Oiya, ada satu dimensi dalam Bullet Journal yang ingin saya tekankan yakni tentang planner. Kita sudah sangat sering mendengar kata planner bahkan menemukan banyak book planner dengan desain yang unik dan lucu. Sayangnya di Indonesia penggunaan planner ini masih kurang dikenal. Padahal untuk planner ini berguna untuk semua kalangan.

Planner ini berguna untuk menyusun rencana dan target kegiatan harian agar tidak ada tugas ataupun hal-hal (sekecil apapun) yang terlewatkan. Bagi siswa maupun mahasiswa ini bisa sangat membantu. Minimal untuk menulis deadline tugas. Trus kalau mau lebih detail bisa menambahkan detail seperti jenis data yang akan dicari, kapan mulai cari data trus kapan mulai mengolah data hingga akhirnya tugas bisa selesai sebelum deadline.

Sedang untuk pekerja kantoran pun sama, planner bisa digunakan untuk menulis jadwal rapat dan daftar tugas yang harus diselesaikan. Bahkan sampai detail tugas kecil seperti mengingatkan pimpinan atau staf lain tentang hal tertentu. Karena biasanya jika tidak ditulis besar peluangnya akan terlupakan akibat tugas lain. Padahal kumpulan tugas (yang dianggap) kecil/remeh bisa menghambat produktivitas dan bisa bikin stress.

Trus, kalau saya ibu rumah tangga, ngapain bikin planner? Wah, jangan salah. Ibu rumah tangga yang full time di rumah itu malah sangat butuh. Hal ini mengingat ibu dipaksa multi tasking. Ngajarin dan bantu anak menyelesaikan tugas sekolah, memenuhi kebutuhan keluarga, memasaka, membereskan rumah, mengurus keuangan, dll. Banyak banget kan? Kira-kira kalau tidak dicatat atau dibuat to do list, apa semua hal akan ter-handle?

Kalau saya mau mulai kegiatan journaling, bagaimana?

Mudah kok. Kita hanya butuh 3 hal mendasar yaitu

  1. Buku catatan

Buku ini bisa jenis apa saja. Buku tulis biasa yang dulu kita pakai di sekolah pun boleh. Buku khusus yang sudah ada template untuk planner, bullet journal, daily journal atau notes dengan tema tertentu juga boleh.

Buku ini tidak harus mahal. Karena yang paling penting adalah kegunaannya. Dan kalau untuk yang baru mulai dan merasa tidak punya modal, buku bekas pakai yang masih punya banyak sisa halaman pun boleh dipakai. Binder lama yang masih punya kertas kosong pun bisa digunakan. TIDAK WAJIB beli yang baru dan mahal

Journal

Pilih buku dan penamu

  1. Pena

Alat tulis utama sih pulpen hitam yang nyaman dipakai menulis. Kalau punya pulpen warna warni boleh juga dipakai. Mau pakai pensil pun boleh. Benar-benar senyamannya kita dan sesuai dengan budget. Kalau memang menikmati kegiatan handlettering boleh beli brushpen. Tapi ya itu, tidak wajib dan hanya jadi suplemen. Bukan yang utama

  1. Niat dan tekad

Ini penting. Kalau tidak ada niat, ya mulai journaling-nya hanya wacana saja. Kemudian butuh tekad untuk mulai menulis apalagi untuk menulisnya secara rutin tiap hari.

Tapi saya pribadi percaya, jika kita bisa menemukan manfaatnya, insyaAllah niat dan tekad ini akan menguat. Yang penting adalah mulai saja dulu.