“Aku
jarang merasa sedih yang benar-benar sedih. Namun ternyata, kesedihan itu perlu
agar kita bisa lebih peka. Peka pada perasaan sendiri. Peka pada Tuhan.” (hal.
16)

“Apakah
bahagia adalah sebuah gagasan yang diciptakan agar manusia tidak pernah berhenti
percaya dan selalu berharap bahwa akan banyak hal baik datang dalam hidup
mereka yang rumit?” (hal. 69)

Penulis: Agustina K. Dewi Iskandar
Editor: Fanti Gemala
Desainer Kover & Ilustrasi: Rio Siswono
Penata Isi: Novita Putri
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: xii + 186 halaman
ISBN: 978-602-251-702-3
Sakinah,
mawaddah, warahmah, – katanya itu impian keluarga bahagia. Tapi bagaimana kalau
ternyata masih ada juga perempuan yang tidak cukup bahagia dengan segala ketenangan,
cinta, dan keseimbangan? Lalu, ia berusah mencari-cari kisah bahagia yang
direkamnya bersama orang lain, meskipun kemudian tiba-tiba saja ada kejernihan
perasaan yang mendera, membuatnya kembali menyadari bahwa pernikahan adalah
sebuah ikatan suci yang tidak boleh dinodai dengan perselingkuhan
Realitas:
kejujuran bukan berarti selalu berbalas dengan kejujuran berporsi sama.
Laki-laki pun masih tetap punya rahasia yang belum tentu terbagi dengan
perempuan yang dinikahinya. Sementara mau tidak mau, perempuan adalah siput
raksasa yang harus berbesar hati menyangga rumahnya meskipun ada satu bagian
kecil hati yang mungkin akan terluka. Ini menjadi kisah sepasang suami istri
yang melakukan perjalanan untuk menemukan 
titik bagi setiap pencarian yang terjadi setelah mereka menikah.
Bagaimana kalau tetap saja ada dua titik dalam sebuah pernikahan?
***

“Mungkin
cinta adalah sesuatu yang bersifat ilusif. Meskipun pada akhirnya, dengan
sedikit terpaksa, perempuan belajar bahwa tidak selalu karena cinta maka laki-laki
dan perempuan menikah, tetapi karena kebiasaan bersama dan keber-ada-an yang
tanpa disadari telah saling melengkapi.” (hal. 28-29)

Buku Pernikahan
Titik Dua ini mencoba mengisahkan tentang hiruk pikuk rumah tangga. Caranya
sedikit berbeda. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, secara berganti
penulis menceritakan tentang perasaan tiga orang tokoh yang dijerat cinta.
Dengan jenis cinta yang berbeda. Adalah Kansha, sosok perempuan yang mencintai
kehidupan. Suami Kansha, Loki, terjebak dalam cinta yang tidak mampu ia
hentikan. Dan juga sosok Wibi yang tidak pernah bisa melupakan cinta di masa
lalu yang terus ia yakini sebagai masa depannya.
Narasi tentang
hubungan ketiga orang ini diawali dan ditimpali oleh postingan-postingan blog
yang ternyata ditulis oleh Kansha. Blog yang ditemukan tanpa sengaja oleh Wibi.
Blog yang kemudian jadi penghubung mereka. Blog ini menjadi cara Kansha membagi
perasaan-perasaannya yang kemudian oleh Wibi dijadikan cara membaca
perasaan-perasaan Wibi tentang rumah tangga Kansha.

Adakah Kansha
telah berselingkuh saat ia dengan leluasa membagi hal-hal terdalam dari
perasaannya pada orang lain dan tidak mampu membagi hal itu pada suaminya
sendiri? Bagaimana bisa Wibi terus mencintai Kansha meski ia tahu perempuan itu
telah menikah. Dan Loki, lelaki yang sempurna namun ternyata selalu berusaha
tampil sempurna demi menyembunyikan satu kekurangan yang sangat mencengangkan
yang ada di dalam dirinya.

“Hanya
tahu nama nggak akan membuat kita terhindar dari justifikasi-justifikasi yang
belum tentu benar. Nama adalah juga hanya cover. Nama adalah sesuatu yang orang
tahu dan diri kita tahu.” (hal. 37)

***

“Maka,
wahai perempuan, janganlah pernah menjadi lelah dengan kodratmu sebagai
perempuan. Karena pada ikhlas itulah, maka titik mula menuju surga akan
terbuka….” (hal. 28)

Membaca novel
Menikah Titik Dua ini, pembaca akan disuguhi pemikiran-pemikiran Kansha tentang
kehidupan. Rasanya tidak berani menuliskan itu sebagai pikiran Agustina K. Dewi
Iskandar tentang pernikahan. Namun tulisan-tulisan Kansha di blog ini jadi
menarik dicermati sebab awalnya Kansha menggambarkan kehidupan pernikahan
sebagai sebuah hidupa yang mampu membuatnya nyaman. Namun belakangan Kansha
mulai merasa kehilangan dirinya sendiri. Ia mulai menuangkan pikiran-pikirannya
yang lebih kompleks tentang pernikahan.
Pikiran-pikiran
itu menarik untuk diikuti. Salah satu bagian yang paling saya sukai adalah
tulisan blog Kansha yang berjudul “Perempuan
adalah siput perkasa”
di halaman 27. Digambarkan bahwa perempuan seperti
siput yang selalu membawa rumahnya ke manapun dia berada. Pada seorang istrilah
perkara rumah itu digantungkan. Kenyamanan dan keindahan sebuah rumah
tergantung dari seorang istri yang menjaganya.
Pikiran-pikiran
Kansha tentang pernikahan yang dituangkan dalam blog serta percakapannya dalam
bentuk chatting-an dengan Wibi yang
membuat kisah ini menarik untuk diikuti. Sebuah gaya penceritaan yang cukup
unik meski bukan hal yang baru.
Melalui buku ini
saya belajar tentang Johari Window. Sebuah
konsep psikologi yang sangat asing dalam duniaku. Yang mungkin tidak akan
kuketahui jika tidak membaca buku ini.
Sayangnya, saya
sering kali merasa menjadi orang bodoh saat membaca tulisan-tulisan di blog
ini. Ini karena sering kali diksinya menjadi terasa berat untuk dipahami.
Penulis sesekali menggunakan kata yang jarang digunakan dalam keseharian.
Bahkan cenderung menggunakan penggambaran dan istilah-istilah khusus. Contohnya
penggalan paragraf berikut:

“Katamu,
kau mencari seseorang yang akan membiarkan warnamu dan warnanya saling
bersisian, namun tetap tak kehilangan substansi warna masing-masing. Kalian
akan membangun layar tabung, ruang hampa dimana kalian dapat saling
membentangkan layar fosfor yang terdiri dari sejumlah titik yang sangat banyak,
sangat kecil ukurannya, disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah bidang
layar, dan menembakkan elektron sehingga menghasilkan cahaya dalam bentuk
warna.” (hal. 39)

Sejauh ini,
membaca buku ini seolah tengah mengikuti perenungan-perenungan pribadi tentang
pernikahan namun dilengkapi dengan kisah. Ditampilkan melalui karakter Kansha.
Pikiran-pikiran Kansha menjadi pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan
kepada pembaca untuk dijawab sendiri. Membuat pembaca berkontemplasi dengannya.
Secara
keseluruhan novel ini cukup menarik. Meski kisah tentang Loki sebenarnya gampang
tertebak. Namun di waktu yang bersamaan membuat pembaca bertanya-tanya apa yang terjadi
kemudian? Bagaimana Kansha akan menghadapinya? Apa pilihan Loki?
Novel Menikah
Titik Dua ini cukup membuat pembaca berfikir. Genre ini jelas jauh berbeda
dengan genre yang ditulis oleh Agustina K. Dewi Iskandar sebelumnya di novel Batas (yang juga telah saya review di sini).
Puisi yang terinspirasi oleh buku ini. Sila cek di instagram saya

“Dengan
mengeluh, kamu sesungguhnya sedang melakukan detoksifikasi hati agar kemudian
kamu bisa kembali dan bangkit dan berfikir dengan lebih jernih.” (hal. 48)