Penulis: Maria A. Sardjono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2013
Jumlah hal.: 376 halaman
ISBN: 978-979-22-5788-5
Buku ini adalah edisi revisi dari
novel yang sebelumnya telah diterbitkan oleh Penerbit Alam Budaya.
Buku ini dipinjam dari Zoe Library
Tumbuh dewasa dalam perkawinan poligami
orangtuanya membuat Dewi bertekad takkan membiarkan dirinya bernasib seperti
ibunya, yang nrimo begitu saja. Ia tak ingin terombang-ambing mencari
jati diri dan martabatnya sebagai perempuan diinjak-injak. I bertekad
menyejajarkan pernanya sebagai perempuan dalam rumah tangganya kelak. Dan kini
ia siap menyongsong kehidupan barunya bersama Pujisatriya, yang pasti akan jauh
berbeda dari perkawinan orangtuanya.
Namun menjelang pernikahan mereka, Dewi
malah dikejutkan kabar bahwa calon suaminya itu menikahi perempuan lain. hanya
dalam hitungan jam, nasib dan nama baik keluarga besarnya dipertaruhkan. Dan ketika
Puji tetap berniat memenuhi kewajiban untuk melangsungkan pernikahan mereka,
Dewi dihadapkan pada dilema: menolak mentah-mentah pria yang mengkhianatinya,
atau membiarkan sejarah kembali terulang dalam perkawinannya sendiri…
***
Itu adalah blurb yang menggugah saya meminjam buku
ini. Terutama karena beberapa waktu terakhir saya membaca buku tentang Kartini
yang juga menentang poligami seperti halnya tokoh dalam novel ini. Saya pikir
melalui buku ini saya bisa menemukan sudut pandang baru tentang poligami
sekaligus mendapat gambaran psikologis anak perempuan yang hidup dalam rumah
tangga yang berpoligami.
Buku ini dibuka
dengan menggunakan kacamata Dewi dalam memandang persiapan pernikahannya.
Meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, namun yang menjadi fokus
cerita adalah Dewi. Seolah narator ada di sebelah Dewi, menceritakan apa yang
dirasakan oleh Dewi dan membaca isi hati Dewi keras-keras.

Persiapan pernikahan
dalam kacamata Dewi lebih berfokus pada sang ibunda tercinta. Ibunda Dewi
adalah perempuan yang harus rela membagi suaminya dengan perempuan lain.
posisinya sebagai istri pertama jelas lebih perih karena memunculkan sisi
rendah diri karena seolah ia tidak cukup baik untuk sang suami sehingga sang
suami perlu kehadiran perempuan lain untuk memenuhi keinginannya. Dewi yang
melihat penderitaan ini sejak ia kecil dan tumbuh dengan kepekaan atas perasaan
ibunya, berjanji bahwa ia tidak akan mengalami apa yang dialami ibunya.
Namun kini ia
harus menerima takdirnya demi menjaga nama baik keluarga. Ia bersedia dimadu.
Bahkan dialah sang istri kedua. Meskipun Pujisatriya (Puji) mengatakan bahwa ia
mencintai Dewi, bukan istri pertamanya yang juga adalah mantan kekasih Puji. Namun
Dewi sudah tidak mampu lagi membalas cinta sang suami. 
Di lain pihak,
Dewi bertemu kembali dengan Pramono. Pramono adalah pria yang pernah Dewi
cintai. Hubungan mereka berakhir ketika mereka akan bertunangan. Perpisahan
terjadi karena orang tua Pramono tidak suka dengan keluarga Dewi karena ayahnya
memiliki dua istri. Dewi sakit hati, terlebih saat menyadari bahwa Pramono
bahkan tidak berusaha memperjuangkan Dewi di mata keluarganya. Akhirnya
hubungan mereka berakhir dan tidak pernah bertemu lagi. Namun setelah menikah,
Dewi yang bekerja di media cetak tanpa sengaja bertemu dengan Pramono.
Di lain pihak,
Dewi terus merasa bersalah pada Indah, wanita yang lebih dulu dinikahi Puji,
karena ia seolah telah menjadi penghalang bagi rumah tangga Indah dengan Puji.
Apalagi Indah telah melahirkan anak Puji. Dewi pun semakin ingin bercerai dari
Puji. Namun sulit karena Puji terus berkata tidak mau menceraikannya. Ibu
mertuanya pun sangat menyayanginya dan berharap ia mempertahankan
pernikahannya, bahkan kalau perlu merebut Puji dari Indah. 
Bagaimana Dewi
akan menghadapi semua dilema hidupnya?  Bagaimana
Dewi menerima kenyataan bahwa ia harus menjalani kehidupan yang ia benci? Apa alasan
Dewi memilih melanjutkan pernikahan itu? Akankah ia mengakhiri pernikahannya?
Apakah Dewi akan kembali pada Pramono yang pernah menyakitinya?
Membaca buku ini
saya melihat perempuan yang berpendirian namu 
juga tidak bisa menolak ikatan adat yang menjeratnya. Tidak bisa
melepaskan begitu saja tanggung jawab untuk menjaga nama baik keluarga demi kebahagiaannya
sendiri.
Penulis pandai
mengolah konflik dalam cerita ini. Konflik batin tokoh Dewi pun sangat menarik
diikuti. Pilhan-pilahannya  yang terkait
prinsip hidupnya, harus diperhadapkan pada realita membuat novel ini pun punya
nilai moral dan bisa menjadi bahan bacaan yang menarik khususnya untuk kaum
perempuan.
Jika harus
memberi nilai pada novel ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8,5
(^_^)v