“Mahasuci
Allah yang mempergilirkan segala sesuatu dengan teramat seimbang. Memberikan
kita dua pilihan hidup tanpa celah: bersyukur pada nikmat, atau bersabar saat
takdir tak seindah harap.” (hal. 159)

Penulis: Arrifa’ah
Penyunting: Mursyidah
Penata letakL Angga Gusniardi
Desain Cover: Maretta Gunawan
Redesain: Sul Nugroho
Penerbit: Qibla (imprint dari Bhuana Ilmu Populer)
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: xii + 189 halaman
ISBN: 978-602-249-772-1
Hidup adalah rangkaian perjalanan yang kita
lalui seiring dengan derap waktu. Terkadang, kita melangkah terlalu cepat,
sehingga tak sadar pada benang-benang cahaya hikmah yang sejatinya selalu saja
ada di balik berbagai peristiwa, bahkan yang kita anggap paling biasa
sekalipun.
Maka kita memang perlu untuk menyisakan
waktu sejenak, untuk merajut setiap hikmah yang terburai di setiap detik masa
tersebut. kita perlu menengok kembali dengan hati yang bening, dan menemukan
pencerahan yang semoga membawa hidup kita menjadi lebih baik.
Merajut Benang Cahaya adalah rangkaian
tulisan renungan untuk melalui hari-hari dengan lebih berarti. Ia hadir sebagai
ajakan untuk mengambil jeda sejenak dari arus rutinitas kita, untuk
mengumpulkan kekuatan dan memaknai setiap nikmat yang telah Allah beri, mengajak
turut menebarkan pesan kebenaran sebagai bentuk eksistensi kita sebagai
khalifah di muka bumi, serta mengingat perihal kehidupan yang akan berakhir,
sehingga harus dilalui dengan sebaik-baiknya cara.
Susurilah setiap untaian kalimat yang ada
di dalamnya. Lalu, rasakanlah perbincangan dengan nurani, yang akan memberikan
rehat dan makna di dalam diri.
***
Buku Merajut Benang Cahaya ini adalah sebuah
kumpulan tulisan yang dibuat personal namun membawa nilai-nilai universal.
Melalui tulisannya Arrifa’ah mencoba “membangunkan” kepekaan hatinya yang
sesekali terpejam. Ia membagi pikiran-pikirannya tentang berbagai hal yang
biasa saja hingga menjadi terasa “tak biasa”.
Lihat, bagaimana
pengalaman menjadi penumpang angkot (saya menyebutnya #BaladaAngkoters) yang bagi
banyak orang biasa saja bahkan sering kali terasa menyebalkan menjadi penuh
hikmah. Caranya? Dengan mengubah sudut pandang. Dengan melakukan perenungan.
Ini yang dilakukan oleh Arrifa’ah yang kemudian ia bagi lewat tulisannya. 
Bahasan
Arrifa’ah tentang berbagai filosofi yang berasal dar hal-hal simple menjadi
analogi yang menarik dalam menjabarkan tentang kehidupan. Cerita “Gorengan
dan Kehidupan”
contohnya, yang menjadikan kegiatan menggoreng kerupuk
menjadi hal yang filosofis. Membuatnya menjadi media untuk mengingatkan tentang
sabar. Atau tentang “kacamata” yang membuat kita ingat untuk tidak bersikap
seenaknya tanpa memperhatikan perasaan orang lain.

Selain hal-hal
sehari seperti itu, Arrifa’ah membagi pengalamannya dalam menempuh jalan
dakwah. Bagaimana ia menceritakan suka duka, hikmah, dan kerinduan yang ia
rasai dalam mengikuti jejak Rasulullah, menjadikan Islam sebagai rahmat bagi
seluruh alam. Ini ia ceritakan dalam Chapter Jeda Kedua: Cinta pada Jalan Cahaya.
Di Chapter
terakhir Jeda Ketiga: Dalam Perjalanan Pulang Arrifa’ah menyajikan berbagai
kontemplasi yang ia lakukan terkait akhir hidup. Saat nafas terakhir kelak akan
terhembus. Tentang bagaimana manusia sering kali hidup dan lupa bahwa kelak ia
akan mati. Tentang kematian yang tidak bisa direncanakan dan hanya bisa
disiapkan.
Semua
benang-benang hikmah ini diajaknya untuk kita rajut. Melalui setiap lembaran di
buku ini, kita seolah diingatkan bahwa bahkan hal-hal kecil pun bisa
mengejawantah menjadi samudra hikmah.
***
Dalam setahun kita melewatkan 365
hari. Seberapa banyak yang punya arti? Seberapa banyak yang kemudian berlalu
dan terlupa begitu saja? Adakah kita bak robot yang menjejak bumi? Tak berhati?
Ini adalah pikiran-pikiran yang kemudian muncul saat menutup buku Merajut Benang Cahaya ini.
Ada beberapa
bahasan yang menarik yang diangkat oleh penulisnya. Hal-hal kecil yang lebih
sering akan kita abaikan yang kemudian dengan “meminjam kacamata” penulis,
menjadi hal-hal yang berbeda. Tentang kisah yang tertuang dari pengalaman duduk
menjadi penumpang angkot. Atau kisah tentang sosok-sosok tanpa nama yang punya
makna karena kebaikan akhlak seperti yang ia gambarkan dalam cerita Seorang Ibu Bergamis Oranye.
Tulisan-tulisan
yang ditulis dengan bahasa tutur yang personal, membuatnya terasa mendalam.
Tulisan-tulisan yang pendek pun membuatnya tidak membosankan. Sebab belum
sempat rasa jemu menyapa, kisahnya telah diakhiri.
Melalui buku
ini, kita pun diajak mengenal beberapa sahabat Rasulullah yang kisahnya
melegenda. Secuil kisah tentang Rasulullah, Abu Bakar As Siddiq, Utsman bin
Affan, Sumayyah, atau pun Bilal. Serta kisah-kisah orang baik yang hadir di
kehidupan penulis dan menjadi teladan yang amat dekat. 
Namun, meski pun
dituliskan dengan gaya bertutur, namun di beberapa bagian terasa agak “menceramahi”
meski kemudian penulis menuturkan bahwa itu adalah sebuah pengingat yang ingin
ia sampaikan termasuk kepada dirinya sendiri.
Tapi secara
keseluruhan ini, tulisan ini penuh hikmah dan sangat mudah untuk dinikmati. 
Puisi yang terinspirasi oleh Buku Merajut Benang Cahaya