“Mencintai
pasangan hidup kita itu adalah pilihan kita sendiri.” (hal. 290)

Penulis: Deasylawati P
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Jumadil ‘Ula 1435 H./ Maret 2014
Jumlah hal.: 368 halaman
ISBN: 978-602-1614-07-5
Dunia Yunan berubah 180 derajat saat dia
menikah dalam kondisi yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Silmi, teman
sekantor Yunan yang idealis itu jadi istri ‘tak terduganya’. Antara kaget,
bingung bercampur senang Yunan menjalani kehidupan barunya bersama Silmi,
wanita yang diam-diam membuat hatinya selalu bergetar.
Tapi, perjalanan rumah tangga keduanya tak
seindah agama. Yunan menyadari bahwa Silmi belum bisa  melupakan lelaki yang ‘hampir’ menjadi
suaminya. Dan kenyataan bahwa Silmi masih dan semakin dekat dengan mantan calon
suaminya itu membuat Yunan ingin mundur dalam perjuangan cintanya. Di satu
sisi, Silmi yang mulai membuka hatinya pada Yunan harus menerima kenyataan
bahwa ada hati lain yang sudah lama memendam rasa kepada suaminya.
Akankah cinta sanggup membawa bahtera Yunan
dan Silmi berlayar hingga ke pelabuhan bernama bahagia?
***

“…, ibaratnya sekarang ini kamu sudah
maju perang. Maka apa pun yang terjadi, cobalah untuk bertahan, jangan pernah
menyerah terlalu dini. Tantangan di depan itu tidak akan terlewati kalau tidak
dihadapi.” (hal. 235)

Apa jadinya jika
kondisi membuatmu menikahi laki-laki yang awalnya tidak pernah terbayangkan akan
menjadi pendamping hidupmu? Bagaimana jika perempuan yang kamu nikahi malah
sibuk mengakrabkan diri dengan laki-laki yang sempat melamarnya?

Inilah dua sisi
yang terjadi antara Yunan dan Silmi. Silmi yang karena sebuah kondisi, batal
menikah dengan pria “Senyuman surya” yang membuatnya kagum. Ia masih belum mampu
mengenyahkan rasa hangat yang muncul setiap kali melihat senyum itu. Meskipun
dia sudah memiliki suami. Daniar, nama pria “senyum surya” tersebut. Ternyata
mereka memiliki hubungan darah dan itulah yang membuat Silmi dan Daniar batal
menikah hingga akhirnya Yunan muncul untuk menikahi Silmi agar keluarga Silmi
tidak menanggung malu karena tamu undangan sudah datang untuk menyaksikan akad
nikah.
Setelah menikah,
Silmi malah meminta kepada Yunan agar pernikahan mereka dirahasiakan sampai
resepsi yang akan diadakan sebulan kemudian. Alasannya karena Silmi dan Yunan
teman sekantor. Namun ternyata saat meminta jarak dengan Yunan, Silmi malah
semakin dekat dengan Daniar. Keduanya kembali saling mengenali setelah terpisah
selama 20 tahun. Selain itu, tanpa terduga teman sekantor Silmi dan Yunan yang
bernama Dellia bercerita pada Silmi bahwa ia jatuh cinta pada Yunan. Namun
Silmi tidak bisa memberi komentar sebab ia masih ingin merahasiakan hubunganya
dengan Yunan. 
Setelah resepsi,
Yunan dan Silmi tinggal dalam rumah yang sama. Rumah tersebut adalah hadiah
dari Daniar untuk adiknya dan adik iparnya. Yunan tidak nyaman dengan hal
tersebut. Rasa tidak suka Yunan semakin bertambah ketika Silmi lebih sering
menghabiskan waktu dengan Daniar daripada dirinya. Ia merasa bahwa Silmi tidak
mau berusaha untuk hubungan mereka berdua.
Di lain pihak,
Silmi tidak bisa menghapus pendapat awalnya tentang Yunan. Selama menjadi teman
sekerja, Silmi selalu menganggap Yunan kekanak-kanakan. Ternyata setelah
menikah ia pun tidak bisa melepaskan stigma. Apatah lagi saat menyadari betapa
tidak teraturnya Yunan. Ini jelas sangat bertolak belakang dengan Silmi yang
rapi, teratur dan bahkan cenderung perfeksionis.
Hubungan
keduanya pun dalam persimpangan. Silmi tidak bisa berhenti menjadikan Daniar
sebagai pahlawannya. Di waktu yang sama Dellia datang menyampaikan keinginannya
untuk membahagiakan Yunan, hal yang dituduhkan Dellia tidak mampu dilakukan
oleh Silmi.
Jelas di saat
itulah terasa bahwa “cinta saja tak pernah cukup” dalam menjalani bahtera rumah
tangga. Apalagi jika mengharapkan sakinah mawaddah warahmah.
***

“…,
kau tidak akan pernah bisa menyeberangi lautan jika hanya memandanginya saja,”
(hal. 235)

Hm.. Kalimat
“cinta saja belum cukup” acap kali terdengar saat membicarakan pernikahan. Ini
sering menjadi petuah yang diberikan oleh mereka yang sudah menikah. Bahkan tidak
sedikit orang tua yang mengingatkan anaknya yang tengah mabuk kepayang bahwa
menjalani kehidupan berumah tangga itu tidak mudah sehingga pertimbangkanlah
dengan matang saat memilih suami. Lantas bagaimana jika berada di posisi Silmi
yang hampir tidak punya pilihan untuk menolak?
Novel ini dibuka
oleh prolog cerita tentang kakak beradik yang tanpa sengaja terpisah. Kemudian
cerita di-fast forward ke masa 20
tahun kemudian. Prolog cerita sebenarnya berhasil menjerat pembaca untuk
menebak kelanjutan nasib kedua anak tersebut. Cerita masih memikat sampai
cerita saat Daniar menduga bahwa Silmi adalah adik kandungnya setelah mendengar
cerita Pak Rauf, paman Silmi, yang menemukan Silmi 20 tahun lalu. Setelah itu
saya sering kali dibuat gereget oleh sikap tokoh-tokohnya. Seperti saat Pak
Rauf ngotot ingin Daniar tetap
menikahi Silmi meskipun dia juga menduga bahwa Silmi kemungkinan besar adalah
adik Daniar. Kemudian saya dibuat kesal berkepanjangan dengan sikap Silmi pada
Yunan. Bagaimana mungkin seorang istri bisa sekeras hati itu pada suaminya?
Sebenarnya dalam
hal penokohan, ada logika yang terasa aneh. Bagaimana mungkin seorang Silmi
yang pemahaman agamanya baik hingga menjaga pergaulannya dengan pria yang bukan
mahramnya bisa bersikap sedurhaka itu sebagai istri. Bagaimana ia mampu
berusaha menjaga diri dalam pergaulan jika ternyata ia tidak mampu memaksakan
diri untuk berbakti pada suaminya? Apa tokoh Silmi ini adalah perempuan yang
tidak paham tentang kewajiban seorang istri dalam Islam? Ini menjadi sebuah
kejanggalan tersendiri.
Namun di dalam
novel ini juga ada tokoh yang berkembang secara dinamis. Tokoh Yunan adalah
tokoh yang paling terasa mengalami perubahan bersama konflik. Tidak melulu
berkembang maju. Yunan sempat mengalami kemunduran yang membuatnya meragukan
kemampuan ia dan Silmi untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Konfliknya sebenarnya
sudah bagus. Bikin greget pengen ngomelin Silmi. Tapi masih ada beberapa hal
yang belum tereksplore dengan baik.  
Buku ini cukup
menarik untuk dijadikan teman membaca saat topik pernikahan sedang diminati
(^_^)
 ***

 “ Silmi,
ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, itu bukan
pilihan, itu kesempatan. Ketika kita bertemu dengannya dalam suatu persitiwa,
itu juga bukanlah pilihan, itu adalah kesempatan. Dan ketika kita bertemu
dengan orang yang tepat untuk dicintai, itupun, sekali lagi, Silmi, bukanlah
pilihan, itu adalah kesempatan. Akan tetapi, Silmi sayang, bila kita memutuskan
untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan
lagi kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan
seseorang walau apa pun yang terjadi, itupun adalah pilihan. Bahkan ketika kita
menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih
kaya daripada pasangan kita, dan kita tetap memilih untuk bersamanya, dan tetap
mencintainya, itulah pilihan.” (hal. 287)