Judul       : Misteri Soliter
Penulis:   : Jostein Gaarder
Penerbit  : Jalasutra 
Cetakan  : 2011
Tebal      : 448 halaman
Terakhir membaca buku Misteri Soliter ini adalah di tahun
2007 aku bahkan lupa apakah aku berhasil menamatkan. Namun satu yang kuingat,
banyak bagian buku itu yang hilang. Pada dasarnya ceritanya unik dan membuat
kita teringat pada kisah Alice in Wonderland. Dan selain itu, aku ingat bahwa
pembahasan buku itu memang tidaklah ringan. 

Diceritakan dengan menggunakan
sudut pandang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Hans Thomas. Hans
Thomas bertutur tentang perjalan yang ia tempuh bersama ayahnya dari Norwegia
menuju Athena untuk menemukan Bunda, ibunya, yang telah lama pergi meninggalkan
rumah. Bunda lari meninggalkan Ayah saat Hans Thomas berusia 4 tahun dan sejak
itu Ayahnya pun mulai kecanduan minuman keras.
Sejak awal Hans Thomas
mengisahkan tentang silsilah keluarganya, dimana sang nenek, Nenek Line,
bertemu dengan kakeknya, Ludwig Messener, seorang serdadu Jerman. Namun mereka
berpisah tanpa sempat menikah sehingga Ayahnya lahir sebagai anak haram.
Kehidupan sang ayah menjadi lebih berat untuk ditanggung hingga akhirnya
memilih bekerja sebagai pelaut. Setelah menikah dengan ibu Hans Thomas lah
akhirnya sang ayah berhenti menjadi pelaut.
Namun, kisah ini bukan berpusat
pada drama keluarga itu. Melainkan pada penemuan yang menakjubkan Hans. Ia
diberi sebuah kaca pembesar oleh seorang yang bentuk tubuhnya lebih kecil dari
orang lain yang kemudian ia sebut kurcaci. Kemudian ia pun menerima sebuah buku
mini yang berjudul “Soda Bianglala dan Pulau Ajaib”. Buku itu ia peroleh
diselipkan dalam sebuah roti kismis oleh seorang tukang roti.
Sejak itu dimulailah perjalanan
Hans yang menakjubkan. Tidak saja tentang perjalanannya menuju Athena untuk
mencari ibunya tapi juga perjalanannya mengikuti kisah dalam buku mungil
tersebut yang bercerita tentang sebuah pulau ajaibnya yang didalamnya hidup
kurcaci-kurcaci yang beridentitaskan diri sebagai sebuah kartu. Selain itu,
Hans yang merasa bahwa Ayahnya selayaknya diberi gelar sebagai filsuf terus
terlibat dalam diskusi dengan Ayahnya tentang kehidupan. Setiap mereka berhenti
beristirahat, Ayah akan memberi Hans “kuliah” filsafat yang menarik dan sering
kali membuat Hans berfikir lebih banyak.
Selain itu dalam buku ini diceritakan
bahwa para kartu-kartu dalam pulau ajaib  memiliki watak yang berlainan. Di ceritakan
bahwa Keriting lebih lamban dan kaku kepribadiannya daripada Wajik yang samar
dan sensitif. Hati lebih ramah dan lincah daripada Skop yang galak dan lekas
marah (hal.218). menarik kan? Bisa saja setiap kartu pada dasarnya mewakili
sifat-sifat tertentu manusia. Dan joker yang tidak masuk dalam kelompok manapun
bisa saja mewakili manusia-manusia yang “berbeda” karena lebih peka dalam
memandang hal sekitarnya. (Apakah manusia landak juga termasuk para joker??
Ha..ha..maaf pertanyaan ini khusus bagi yang sudah tahu tentang filosofi
landak(^_^)v)
Penuturan dalam buku ini pun
sangat menarik. Ringan dan penuh imajinasi namun disaat yang sama menggugah
kita untuk lebih banyak berfikir tentang eksistensi diri kita sendiri. Tentang
apa kita ini? Siapa? Dari mana? Dan untuk apa kita hadir di dunia ini. Di buku
ini juga disebutkan bahwa ketika kita mulai menanyakan hal-hal seperti itu dan
berusaha menemukan jawabannya, maka kita telah berfilsfata. Berfilsafat tidak
selalu tentang berfikir dengan keras dan rumit tentang suatu hal.
Membaca buku ini adalah membaca
cerita dalam cerita dalam cerita
bingung?? Ha..ha.. Maksudku ada tiga lapis cerita saat membaca novel ini. Kisah
Hans adalah lapis pertama, kisah hidup penulis buku ajaib itu adalah lapis
kedua, dan kisah yang diceritakan dalam buku ajaib itu adalah lapis ketiga.
Hebat kan??
Membaca buku ini akan membuat
kita berfikir banyak tentang diri kita, dunia tempat kita tinggal, dan
keyakinan kita tentang Tuhan. Salah satu kalimat yang menarik dari buku ini
adalah “..Tuhan duduk di langit seraya tertawa-tawa karena orang-orang itu tak
beriman kepadaNya”. Izinkan aku membocorkan tentang makna kalimat itu. Dari
yang kupahami dalam Chapter “Dua
Sekop” ini adalah bahwa Tuhan menciptaka manusia dan tidak henti mengamati
ciptanNya itu. Tuhan tertawa karena manusia sibuk menciptakan hal-hal hebat
namun lupa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dasar tentang dirinya
sendiri. Salah satunya pertanyaan tentang “Darimanakah kita berasal?”
Buku ini juga bercerita tentang
Socrates. Sebelum membahas sepenggal kisah Socrates sa ng ayah memberitahu arti
filsuf pada Hans. “Filsuf artinya orang yang mencari kebijakan. Akan tetapi
bukan berarti bahwa para filsuf memang bijak. Kau mengerti perbedaannya?” (hal.
238). Kemudian disampaikan bahwa seorang yang bijak bukanlah orang yang selalu
merasa tahu tentang segala sesuatunya melainkan merasa tidak tahu sehingga ia
akan terus berusaha mencari tahu.
Semakin aku membaca lebih banyak,
aku menyimpulkan, Apakah Jostein Gaarder mengandaikan manusia dengan
kartu-kartu itu? Apakah Soda Bianglala adalah analogi bagi isi dunia yang
melenakan manusia dari pertanyaan-pertanyaan penting tentang dirinya sendiri?
Ah, sudahlah, aku sudah
membocorkan terlalu banyak isi buku ini. Bagi kalian yang merasa sangat paham
tentang filsafat, maka bacalah buku ini dan lihat bagaimana seorang yang cerdas
memaknai keilmuannya sendiri. Tidak perlu berbangga dengan pengetahuanmu akan
filsafat karena sudahkah pengetahuanmu itu membantumu menemukan dirimu sendiri?
Dan bagi yang selama ini anti
terhadap filsafat atau bahkan merasa bahwa filsafat itu sangat sulit untuk
dipahami, maka baca buku ini. Buku ini meskipun sebuah novel, namun memberikan
kita banyak pengetahuan tentang filsafat itu sendiri. Tidak perlu memaksakan
diri untuk membaca buku-buku filsafat secara khusus. Baca novel ini, jadikan
pengantar untuk mencari tahu lebih banyak (jika kamu mau).
Semoga review kali ini bermanfaat
yah
Fav.Quote:
“Malangnya, kau tak selalu bisa
memilih kepada siapa kau akan jatuh cinta”
“Karena bintang tidak bergosip,
Albert. Mereka tidak peduli bagaimana kami menjalani hidup kami masing-masing
di atas bumi”
“Aku sepakat bahwa itu agak
misterius. Ada lima milyar orang yang hidup di planet ini. Namun, kamu hanya
jatuh cinta pada seseorang yang istimewa dan kau tak bisa menggantikannya
dengan siapapun”
“Orang pasti akan heboh apabila
para astronom menemukan planet lain yang memiliki kehidupan,”simpul Ayah,”
Mereka tak mau takjub pada planet mereka sendiri”.
“Joker sosok kecil yang bodoh dan
berbeda dari sosok lainnya. Dia bukan keriting, wajik, hati atau sekop. Dia
bukan sembilan, delapan, raja, atau pangeran. Dia orang luar. Dia ditempatkan
dalam pak yang sama seperti kartu lainnya, tetapi bukan termasuk kelompok itu.
Oleh karena itu, dia dapat dibuang tanpa ada seorang pun yang merasa
kehilangan”
“…Joker sebagai simbol
filsafat. Dia selalu merasa melihat hal-hal yang ganjil yang tak terlihat oleh
orang lain”.
“Kita adalah makhluk yang
akan musnah. Tapi tidak demikian dengan mimpi-mimpi kita. Mereka bisa hidup
dalam benak orang lain biarpun kita telah tiada”