Penulis                 : Windry Ramadhina
Penerbit              : Gagas
Media
Terbitan               : kedua,
2013
Jumlah hal.         : 357 halaman
Seperti biasa,
Gagas Media selalu menyuguhkan sinopsis yang menggugah rasa ingin tahu di
sampul belakang buku. Covernya pun menurut saya pribadi, cukup menggugah. Dan
sampulnya berhasil merepresentasikan bagian-bagian penting dalam buku ini. Sampul
depan yang menggambarkan sakura dalam sebuah rol film bisa secara umum
menggambarkan cerita dari novel ini (jika kita mampu menebak dengan baik).
Ya, buku ini
menceritakan tentang dunia sinematografi dari sudut pandang seorang Rayyi, terkadang
disapa Bao, yang merupakan seoarang mahasiswa IKJ dari Peminatan Produksi. Pada
dasarnya ia mencintai dunia perfilman dokumenter, namun beban sebagai anak
satu-saru dari Irianto Karnaya yang merupakan seorang Produser yang cukup besar
namanya di dunia perfilman Indonesia membuat Rayyi hanya berani bermimpi untuk
mendalami dunia film dokumenter.

Perkenalannya
dengan Haru Enomoto pun ikut mempengaruhi hidupnya. Haru adalah mahasiswa dari Jepang. Haru berhasil memasuki
hati Rayyi. Perasaan kesal karena berhasil dikalahkan oleh Haru Enomoto dalam
kompetisi Film Dokumenter akhirnya sirna setelah ia menjadikan Haru sebagai
obyek film dokumenternya. Kehadiran Haru pun membuat Rayyi terpacu untuk
membuat film dokumenter yang lebih bagus lagi.
Namun, sayangnya
baik cita dan cintanya tak berjalan mulus. Cita-cita Rayyi harus dihadapkan pada
sikap ayahnya yang tidak mendukung impiannya untuk berkecimpung di dunia
dokumenter. Di lain pihak hubungannya dengan Haru pun tidak menunjukkan
kemajuan yang berarti bahkan mendadak Haru pulang ke Jepang dan meninggalkannya. Apa yang terjadi sebenarnya??
Konflik dalam novel ini dikemas dengan lambat namun
menarik. Ada ilmu-ilmu terkait dunia sinematografi yang menjadi tambahan
pengetahuan yang menarik untuk pembaca. Yang paling saya sukai
dari novel ini adalah kemampuannya menggarap akhir cerita sehingga berakhir
lambat dan cenderung mampu membawa emosi pembacanya. Dalam novel ini kita bisa
juga memahami bahwa bentuk “happy ending” dalam sebuah buku bisa
bermacam-macam. Tidak hanya tentang “berbahagia bersama selama-lamanya” dan
segala hal indah seperti itu.
Maka jika harus
memberi nilai pada buku ini, maka saya
memberinya nilai 8 (^_^)v
Quote:
“Selalu ada
impian yang besar dari impian yang lain”
“Pohon Sakura
berbunga setahun sekali. Calon bunganya mulai terlihat sejak pertengahan
Januari, tapi baru akan mekar pada awal April. Sakura yang telah berkembang
bertahan selama satu sampai dua minggu, lalu gugur dan kelopak-kelopaknya
terbawa angin.  Keindahan Sakura hanya
sebentar, tapi karena itu dia begitu berharga”