“Masalahnya,
setiap orang selalu pengin terlihat kuat di depan orang lain. Berusaha menutupi
semuanya biar dianggap kuat. Padahal itu malah makin menyakitkan” (hal. 36)

Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Hutami Suryaningtyas
Perancang & ilustrasi sampul: Gloria Grace Tanama
Ilustrasi isi: Belinda C.H
Pemeriksa Aksara: Neneng & Intan
Penata aksara: Gabriel
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: pertama, Juli 2012
Jumlah hal.: vi + 138 halaman
ISBN: 978-602-9397-32-1
Aku
heran, deh, sama tingkat kecerdasan teman-teman-kalau bisa dibilang teman,sih-
sekolahku. Mereka hobi banget mem-bully-ku. Ya, ayahku seorang ODHA (Orang
dengan HIV AIDS). Itulah alasan kenapa kau selalu diperlakukan berbeda. Sejak
SMP, aku mengalaminya. Dan, rupanya ini terus berlanjut hingga aku SMA. Semua
orang mengasingkanku, kecuali Rani, sahabatku.
Di
tengah perjuanganku menghadapi mereka yang menyebalkan, aku harus rela menerima
kenyataan baru. Kak Andre minta putus lalu memacari Rani!
“Tasia
itu kuat, sendirian pun pasti akan baik-baik aja.”
Cih!
Cowok macam apa yang tega bilang begitu? Sahabatku sendiri juga sangat bodoh.
Bisa-bisanya dia tanya padaku, “Kamu nggak apa-apa kalau aku jadian dengan Kak
Ander?” Mereka berdua memang sudah sinting! Mana mungkin aku nggak apa-apa?!
Lalu
aku menyadari bahwa situasi ini makin parah. Bahkan makin lama Rani ikut
menjauhiku. Aku benar-benar sendiri sekarang. Rani, Kak Andre, semunya. Gimana
kau bisa melewati semua ini? Aaarrrgh!
***
Novel ini
bercerita tentang kehidupan Anastasia Kharzkov. Yang baru duduk di kelas 1 SMA
dan ternyata harus menghadapi neraka. Ya, neraka yang diciptakan karena masa
lalunya. Neraka yang diciptakan oleh teman-teman sebayanya.
Anastasia atau
yang akrab disapa Tasia awalnya menjalani hari yang biasa saja. Sampai
merebaklah informasi itu. Tentang ayah Tasia yang merupakan seorang ODHA. Tanpa
mencoba memahami cerita dibaliknya, remaja-remaja ini memperlakukan Tasia bak
virus yang bisa menulari siapapun melalui udara.
Tasia
dikucilkan. Kali ini tidak semudah saat SMP, saat Rani mau berdiri di sisinya. Menemaninya.
Kini, Rani bahkan enggan bicara dengan Tasia. Di tengah rasa sendiri itu, Tasia
pun mulai mempersalahkan semua hal termasuk ayahnya dan penyakit yang diderita
sang ayah.
***
“Kalau
udah gitu, kamu nggak punya pilihan lain selain menebusnya, menjalani pilihanmu
sampai akhir, berjuang.” (hal. 36)
Isu bullying dan
ODHA disatukan dalam satu frame? Dan jadi cerita remaja?

Hm.. rasanya tidak
akan mudah. Namun buku yang cukup tipis ini sedikit banyak berhasil berbagi
sejumlah hal pada pembaca. Melalui cerita yang simple dengan bersuasanakan
kehidupan remaja, penulis menjadikan selipan-selipan informasi tidak terasa
menggurui.

Sebuah “sindiran”
coba diketengahkan adalah tentang mudahnya manusia berprasangka dan terpengaruh
oleh informasi yang mereka dapatkan tentang seseorang. Tidak pernah ada
teman-teman Tasia yang coba mencari tahu penyebab ayah Tasia mengidah HIV AIDS.
Kemudian masih banyak orang yang merasa bahwa hanya dengan menyentuh penderita
HIV maka mereka akan segera terjangkit penyakit tersebut.
Ini jelas
mengetengahkan kenyataan dalam bentuk fiksi. Sebuah cerminan yang menarik.
Sayangnya,
konflik di novel ini kurang tajam padahal ada beberapa hal lain yang jika
berhasil dieksplorasi dengan baik, maka buku ini tidak terasa datar. Sudut
pandang orang pertama yang digunakan memang mempersempit lingkup cerita. Namun sayangnya
emosi yang ditampilkan pun masih kurang kuat. Padahal dengan memanfaatkan
interaksi tokoh “aku” dengan orang-orang di sekitarnya, maka masalah dan emosi
bisa dibuat lebih kompleks.
Tapi, tetap saja
untuk sebuah karya pertama, buku ini sudah cukup menarik (^_^)v
*siap-sipa
membongkar karya Mbak Dy Lunaly yang berikutnya*
“Mama
selalu mengajariku, sebagai cewek kita harus berdandan, tapi berdandanlah untuk
diri kita sendiri. Untuk membahagiakan diri kita. Dengan itulah kecantikan kita
sesungguhnya akan terlihat. Cantik itu berasal dari kebahagiaan, itu pesan Mama
yang selalu aku ingat.” (hal. 25)
puisi yang terinspirasi oleh My Daddy Odha