“Ya,
kurasa kalian – penulis – selalu memiliki kehidupan lebih rumit dari yang siapa
pun bisa bayangkan.” (Hal. 228)


Penulis: Vira Safitri
Editor: Irna
Permanasari
Desain Cover: Marcel A.
W.
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Cetakan: Pertama
Jumlah hal.: 288
halaman
ISBN: 978-602-03-1506-5
Tidak
ada yang tahu bahwa Julia Milano adalah sosok di balik penulis best seller
terbitan BlackInk, tempat Julia bekerja sebagai editor.
Ketika
Ethan Hall, sutradara ternama, ingin mengangkat salah satu karya Julia ke layar
lebar, mau tidak mau Julia harus membuka topeng yang selam ini ia kenakan dan
membuka diri untuk bekerjasama dengan pemuda itu.
Tapi
siapa sangka, kedekatan membawa mereka pada skenario yang membua luka hati dan
rahasia – rahasia yang mereka sembunyikan tersibak.
Ketahuilah,
seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. Apa pun….
***

“Perasaan
adalah hal yang sangat kompleks. Kita berdua tahu itu” (Hal. 27)

Kehidupan
Julia Milano mendadak menjadi keluar dari jalurnya saat buku yang ia tulis
ternyata menarik perhatian Ethan Hall, seorang aktor yang juga sutradara
ternama. Ethan ingin memfilmkan buku yang ditulis Julia. Masalahnya adalah
Julia bekerja di BlackInk yang memiliki aturan bahwa editor di BlackInk tidak
boleh mempublikasikan karyanya di BlackInk. Dan penulis yang menerbitkan
karyanya di BlackInk tidak bisa menjadi editor di BlackInk.
Yup,
Julia memang menulis dengan nama samaran yakni Jane Martin. Dan setelah 3 tahun
berlalu tidak ada yang tahu hal ini kecuali sahabatnya yang juga editor di
BlackInk sekaligus editor Jane Martin, Brianna.
Namun
kini karena keinginan Ethan, Julia harus mencari akal untuk tetap
menyembunyikan identitas Jane Martin sekaligus menyelamatkan karirnya dan karir Brianna. Hal ini membuat Julia semakin sering bertemu Ethan dan jadi saling
mengenal lebih dekat. 
Di
sisi lain, rasa cinta yang Julia pendam selama bertahun – tahun pada Jacob
Pierce, pemimpin redaksi umum BlackInk, mulai membuat Julia kepayahan. Ia harus
terus menahan diri melihat Jacob dekat dengan perempuan lain. Sedang di saat
yang sama, Julia tidak kunjung memiliki keberaranian untuk menyampaikan isi
hatinya pada Jacob. Kacaunya, Ethan mengancam akan memberi tahu tentang
perasaan Julia ke Jacob jika Julia tidak mau membantunya mengusahakan agar ia
bisa memfilmkan novel Jane Martin.
Dan
setelah itu, semakin runyamlah semua urusan perasaan ini. Ditambah lagi sebuah
kejadian di masa lalu yang membuat Julia trauma kini kembali menghantui gadis
itu.
Bagaimana
hidup Julia selanjutnya?

“Hei,
jangan khawatir. Bukankah terkadang petunjuk muncul saat kita hampir putus
asa?” (Hal. 43)

***
“Mungkin…
cinta itu adalah ketika kau memilih memendam perasaan untuk orang yang
kaucintai, namun diam – diam tetap mengharapkannya, meski dia sudah memiliki
orang lain di sisinya.” (Hal. 84)
Cerita
di novel dibuka dengan prolog berupa adegan kecelakaan. Dan prolog ini akan
menjadi salah satu kunci yang membuat pembaca meneruskan bacaan hingga akhir.
Sebab pertanyaan yang muncul adalah adegan apa ini? Siapa “ia” yang dimaksud
dalam cerita? Apa sebenarnya yang terjadi? Dan memang remah-remah cerita
terkait kejadian ini ditaburkan di sepanjang novel. Membuat rasa penasaran
pembaca terus bertahan.
Sayangnya,
gaya penceritaan masih kurang luwes. Penggunaan POV 3 tapi hampir semua
adegannya menghadirkan Julia malah membuat saya bertanya. Kenapa tidak pakai
POV 1 saja? Bukankah logika cerita tidak akan bolong karena pada akhirnya
kebenaran yang didengarkan Julia pun memang dari telling tokoh lain? Dan dengan begitu, kemelut di kepala dan benak
Julia akan lebih tersampaikan. Karena sesungguhnya pergulatan batin Julia pun
menarik. Mulai soal traumanya, hubungannya dengan Jacob, kehadiran Ethan sampai
di ending cerita saat kebenaran terkuak.
Tapi
secara keseluruhan, novel ini masih cukup manis untuk dicicipi. Dan ini
perkenalan pertama saya dengan karya Vira Safitri. Dan saya cukup suka. 
Oiya,
covernya juga sangat maniiiss.. bikin nggak bisa nolak 😀
“Kalau
cinta mirip patah hati seperti katamu, mungkia menyerupai penyesalan. Selalu
datang belakangan, hadir saat sudah kehilangan, dan terasa sakit ketika baru
menyadarinya.” (Hal. 84)
***
Puisi
yang terinspirasi New York After The
Rain
Aku
lebih suka mencintai dari jauh
memendam rindu dalam diam
mengagumi dan menyimpan semua untukku sendiri
Lantas
ia datang
berkata bahwa ketika mencintai kita sanggup melakukan apapun
Lantas
menurutmu
apakah diamku sama dengan tidak memberi apapun?
Ah,
andai kau tahu getirnya mencintai dalam bungkam
***

… sebaiknya jangan pernah sia – siakan air matamu untuk orang yang salah.
Karena ketika air mata sudah terlanjur mengalir, sulit sekali bagi siapa pun
menghentikannya. Kau mengerti?” (Hal. 186)
“Hati
bisa memperbaiki dirinya sendiri bila kau mau memberikannya sedikit waktu”
(Hal. 189)
“Sungguh
aneh kau mencari kebahagiaan hingga sejauh ini padahal kebahagiaan itu ada pada
dirimu. … . Lakukan apa yang membuatmu bahagia, maka kau akan bahagia.
Semudah itu.” (Hal.  204)
“Ketahuilah,
seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. Apa pun.” (Hal.
223)
“Terkadang
orang yang terkejam adalah orang yang paling mencintaimu.” (Hal. 252)